Prodia dan UMP Libatkan 1.000 Mahasiswa dalam Screening dan Edukasi Thalasemia

BANYUMAS — Upaya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kesehatan sejak dini terus dilakukan melalui kegiatan screening dan edukasi thalasemia. PT Prodia Widyahusada Tbk bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar kegiatan screening dan edukasi thalasemia yang melibatkan sekitar 1.000 mahasiswa.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama untuk mendorong generasi muda mengenali risiko penyakit thalasemia sekaligus memahami pentingnya menjaga kesehatan sebelum memasuki jenjang kehidupan keluarga dan masa depan.

Direktur Prodia Marina Eka Amalia mengatakan, kegiatan screening dan edukasi thalasemia merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Prodia yang berfokus pada edukasi dan pencegahan penyakit.

Menurutnya, kegiatan serupa telah rutin dilakukan sejak 2020 sebagai upaya mendukung deteksi dini berbagai penyakit, khususnya di kalangan generasi muda.

“Ini merupakan kegiatan yang rutin kami lakukan sejak 2020. Kami ingin mendorong generasi muda untuk menjaga kesehatan sejak dini, termasuk melalui deteksi dini terhadap penyakit thalasemia,” kata Marina.

Ia menjelaskan, kerja sama dengan UMP diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta screening, tetapi juga menciptakan agen-agen edukasi kesehatan di lingkungan masyarakat.

Dengan melibatkan 1.000 mahasiswa, pengetahuan mengenai thalasemia diharapkan dapat menyebar lebih luas. Para mahasiswa tidak hanya memahami kondisi kesehatan dirinya sendiri, tetapi juga dapat membagikan informasi tersebut kepada keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.

“Pengetahuan yang diperoleh hari ini bisa dibagikan kepada orang-orang di sekitar sebagai bentuk kepedulian dan cinta terhadap kesehatan untuk masa depan,” ujarnya.

Marina menambahkan, langkah awal dalam menjaga kesehatan adalah mengenali kondisi tubuh dan memahami potensi risiko penyakit yang mungkin dimiliki seseorang.

Screening menjadi penting karena sejumlah penyakit, termasuk thalasemia, dapat tidak menunjukkan gejala yang jelas pada seseorang yang tampak sehat.

Penting bagi Generasi Muda yang Akan Menikah

Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jebul Suroso, mengatakan edukasi dan screening thalasemia memiliki arti penting, terutama bagi mahasiswa yang telah memiliki rencana membangun keluarga.

Ia menekankan, hasil screening dapat menjadi informasi penting bagi pasangan yang telah memiliki tunangan atau sedang mempersiapkan pernikahan.

“Yang harus diketahui, bagi mereka yang sudah mempunyai tunangan, hasil screening ini sangat berpengaruh. Karena dari sini kita bisa mengetahui risiko dan mengambil langkah untuk kehidupan yang lebih baik,” katanya.

Menurut Jebul, UMP tidak hanya memiliki tanggung jawab menyiapkan mahasiswa secara akademik dan profesional, tetapi juga membekali mereka dengan kesadaran menjaga kesehatan.

Kampus, kata dia, merupakan tempat bagi generasi muda untuk belajar, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai profesi dan tantangan kehidupan.

“Pada kesempatan ini, UMP bersama Prodia menyiapkan profesional yang sehat. Ini menjadi bagian penting yang harus kita berikan kepada mahasiswa,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemahaman mengenai thalasemia perlu diperluas karena penyakit tersebut bukan persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat.

Para penyandang thalasemia, lanjutnya, harus menjalani perjuangan panjang dalam menjaga kondisi kesehatan. Karena itu, langkah pencegahan melalui edukasi dan screening menjadi sangat penting.

“Kita akan mengetahui apa risiko dan bahaya thalasemia. Perjuangan mereka yang mengalami thalasemia tidak ringan. Karena itu, kita melakukan screening agar bisa mengantisipasi dan hidup lebih sehat,” kata Jebul.

Pemkab Banyumas Dorong Pencegahan dan Kolaborasi

Sementara itu, Bupati Banyumas yang diwakili Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, dr. Dani Esti Novia, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan screening dan edukasi thalasemia yang digelar Prodia bersama UMP.

Menurutnya, upaya memutus mata rantai thalasemia membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak.

Thalasemia merupakan penyakit kelainan darah yang dapat diturunkan secara genetik. Seseorang yang tampak sehat secara fisik belum tentu terbebas dari risiko membawa sifat thalasemia.

“Perlu upaya bersama untuk memutus thalasemia. Ini membutuhkan perhatian dari semua pihak karena seseorang bisa saja terlihat sehat, tetapi membawa sifat thalasemia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya screening, terutama bagi generasi muda yang kelak akan membangun keluarga.

Dengan mengetahui status kesehatan sejak dini, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan memahami risiko yang mungkin muncul dalam kehidupan berkeluarga.

Dani menyebutkan, berdasarkan data yang dimiliki, terdapat sekitar 657 pasien thalasemia yang tercatat mendapatkan layanan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dan wilayah Banyumas.

Angka tersebut menunjukkan bahwa thalasemia bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat.

“Ini bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Karena itu, kita tidak boleh berhenti hanya pada pengobatan, tetapi harus memperkuat upaya pencegahan,” katanya.

Menurutnya, penanganan thalasemia membutuhkan kerja panjang dan konsisten. Rumah sakit maupun tenaga kesehatan tidak dapat bekerja sendiri dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sehat.

Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, dunia usaha, keluarga, serta masyarakat.

1.000 Mahasiswa Jadi Agen Edukasi Kesehatan

Keterlibatan 1.000 mahasiswa dalam kegiatan ini dinilai memiliki nilai strategis. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat screening, tetapi juga menjadi penyampai informasi kesehatan di tengah masyarakat.

Pengetahuan mengenai thalasemia yang diperoleh mahasiswa dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kesadaran keluarga dan lingkungan sekitar.

“Seribu mahasiswa ini bukan hanya jumlah peserta. Mereka juga membawa pengetahuan tentang thalasemia yang nantinya bisa memberikan edukasi kepada orang lain,” ujar Dani.

Ia menambahkan, upaya menuju zero thalasemia membutuhkan proses panjang. Target tersebut tidak dapat dicapai hanya dengan mengandalkan layanan pengobatan, melainkan harus dimulai dari pencegahan dan peningkatan pemahaman masyarakat.

Kolaborasi antara Prodia dan UMP menjadi salah satu contoh keterlibatan berbagai sektor dalam mempersiapkan generasi masa depan yang lebih sehat.

Pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus meningkat, menurutnya, harus diiringi dengan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

“Jumlah penduduk Indonesia mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Kita berharap pertumbuhan penduduk ini menghasilkan orang-orang yang sehat,” katanya.

Melalui kegiatan screening dan edukasi tersebut, generasi muda diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan, mengenali risiko penyakit sejak dini, serta mengambil langkah preventif sebelum membangun keluarga.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari investasi kesehatan jangka panjang untuk mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas.