FPIK Unsoed Gelar World Cleanup Day 2026, 405 Peserta Bersihkan Pantai Teluk Penyu

CILACAP, suarabanyumas.co.id – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar World Cleanup Day (WCD) 2026 di tujuh pantai wisata sepanjang pesisir Teluk Penyu, Cilacap, Selasa (20/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) ini mengintegrasikan aksi bersih pantai dengan Praktikum Pengendalian Pencemaran Perairan, Manajemen Kualitas Air, dan Manajemen Sumberdaya Perikanan. Mengusung tema nasional “Aksi Bersih Pemuda-Pemudi Merdeka dari Sampah”, kegiatan ini mendorong kepedulian generasi muda terhadap kelestarian lingkungan pesisir dan laut.

Sebanyak 405 peserta terlibat dalam kegiatan tersebut, terdiri atas dosen dan tenaga kependidikan Prodi MSP, mahasiswa, Relawan Pertamina Peduli (RELPI), serta masyarakat setempat. Aksi kolaboratif ini menegaskan bahwa upaya menjaga kebersihan pesisir membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi, relawan, dan masyarakat yang beraktivitas di kawasan pantai.

Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran lapangan mahasiswa. Melalui integrasi aksi bersih pantai dan praktikum, mahasiswa memperoleh kesempatan mengamati persoalan pencemaran perairan secara langsung, mengenali potensi sumber pencemaran, serta mengembangkan kemampuan observasi dan analisis lingkungan.

Wakil Dekan Bidang Akademik FPIK Unsoed, Dr. Nuning Vita Hidayati, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa persoalan sampah memiliki dampak luas terhadap ekosistem dan kehidupan masyarakat pesisir. “Persoalan sampah bukan hanya persoalan kebersihan atau keindahan pantai. Lebih dari itu, sampah merupakan persoalan lingkungan yang dapat memengaruhi kualitas perairan, kesehatan ekosistem, keberlanjutan sumber daya perikanan, bahkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ungkapnya.

Ia menekankan, kegiatan lapangan perlu menjadi ruang belajar yang menghubungkan teori perkuliahan dengan persoalan lingkungan di masyarakat. “Ilmu pengetahuan harus hadir dalam tindakan, dan kepedulian harus diwujudkan melalui kontribusi nyata. Saya berharap mahasiswa tidak hanya pulang membawa dokumentasi kegiatan, tetapi juga pengetahuan baru, pengalaman, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang persoalan pencemaran perairan,” tambahnya.

Koordinator Prodi MSP FPIK Unsoed, Dr. Dyahruri Sanjayasari, S.Pt., M.Si., turut memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut. Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dan sambutan, dilanjutkan pengarahan peserta menuju lokasi serta pelaksanaan praktikum lapangan sesuai pembagian kelas dan pendampingan dosen.

Selain aksi langsung, kegiatan ini menguatkan pesan pentingnya perubahan perilaku dalam menangani sampah, mulai dari mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memilah sampah, hingga bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan. Pengalaman lapangan diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengembangkan solusi pengelolaan sumber daya perairan yang berbasis ilmu pengetahuan dan berorientasi pada keberlanjutan.

Penyelenggaraan WCD 2026 didukung PT Surveyor Indonesia, PLN IP UBP Adipala, Pusat Biodiversitas Maritim Unsoed, RELPI, dan UNU Purwokerto. Kolaborasi perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat ini diharapkan berlanjut melalui edukasi, penelitian terapan, penguatan kesadaran publik, serta program lingkungan yang berkesinambungan.

Kegiatan ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14 tentang ekosistem laut, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, serta SDG 17 tentang kemitraan. Bagi FPIK Unsoed, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sekaligus membangun tanggung jawab sosial mahasiswa terhadap kelestarian lingkungan.

Melalui tema “Aksi Bersih Pemuda-Pemudi Merdeka dari Sampah”, FPIK Unsoed mengajak generasi muda untuk menjadi penggerak perubahan melalui tindakan nyata dan konsisten. Upaya menjaga pesisir tidak cukup berhenti pada kegiatan bersih pantai, tetapi perlu dilanjutkan dengan pencegahan pencemaran dan kebiasaan bertanggung jawab terhadap lingkungan demi mewujudkan pesisir yang lebih sehat dan berkelanjutan.