LAKL Hidupkan Tradisi Ngenger Tani Melalui Residensi Literasi

BANYUMAS, suarabanyumas.co.id – Tradisi ngenger banyak dilakukan oleh para orang tua kita dulu, namun bagaimana dengan generasi saat ini. Masihkan relevan dan mampu memberikan ruang tersendiri bagi generasi muda yang ingin berpengetahuan melalui pengabdian?

Lembaga Advokasi Kearifan Lokal (LAKL) menginisiasi sebuah kegiatan bertajuk Residensi Ngenger Tani dengan mengusung tema Literasi Kehidupan Desa : Advokasi Kebudayaan Untuk Mansusia Desa  yang terselenggara dari 26 Juni – 1 Juli 2026 di Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Yasnaya Polyana, Windujaya, Kedungbanteng, Banyumas Jawa Tengah. Kegiatan yang diikuti sebanyak 25 peserta yang tersaring melalui Sayembara Penulisan ini terdiri dari para pelajar tingkat SMA dan juga mahasiswa.

“Selama 6 hari, peserta melakukan aktivitas yang mendekatkan mereka pada kehidupan desa dan tani khususnya”, ujar Warseno selaku ketua LAKL. Mulai dari kegiatan workshop penulisan hingga praktek bertani langsung dengan branding yang diusung LAKL yakni Tani Lelana. Sebuah konsep live in bagi anak muda yang diharapkan mau dan mampu berempati pada kehidupan tani dan desa.

Model Residensi ini ingin memadukan antara literasi dan tani supaya berjalan beriringan. Tidak hanya bertani semata yang buta literasi maupun mengerti literasi namun enggan berpraktek tani. Selain itu beragam kegiatan seperti pameran instalasi organik bertajuk gamandeso juga ramai dikunjungi masyarakat sekitar khususnya para guru dan juga siswa SD hingga SMP di sekitar lokasi kegiatan. Para pengunjung diajak kembali menyaksikan beragam pameran alat tani dan hasil tani tradisional Banyumas dengan menampilkan narasi kegunaan dan filosofi dari setiap bahan dan alat yang dipamerkan.

Peserta juga diajak untuk mengenal tentang Pranata Mangsa sebagai sebuah system Kalender jawa untuk menghitung masa bercocok tanam dan mengenalnya melalui tanda-tanda alam bersama dengan narasumber dari Unsoed, Purwokerto.

Sebagai penguat fondasi berpikir kritis digelar juga dialog Filsafat Tani yang membawa para peserta untuk berselancar dan berimajinasi tentang bagaimana seharusnya manusia desa, tani dan juga berbagai hal yang melingkupinya. Salah seorang peserta dari STAIN Salatiga mengaku baru tersadarkan bahwa persoalan tani teryata sangat komplek dan multidimensi serta dibutuhkan anak muda yang tidak hanya mau bertani tapi mengerti tentang hal-hal yang lebih filosofis.

Kegiatan sarasehan jaringan budaya pangan lokal juga tak luput menjadi bagian dari upaya LAKL untuk penguatan jaringan dan juga memperkenalkan kepada para peserta tentang kekuatan dan potensi pangan lokal agar mereka berkesadaran akan potensi yang dimiliki oleh desa-desa di Banyumas.

Dalam hampir sepekan, Ngenger Tani diwujudkan dalam harmoni antara individu, komunitas, alam dan kebudayaan. Upaya LAKL yang didukung Kementerian Kebudayaan ini patut untuk terus dikembangkan dan dijaga keberlanjutannya serta menjadikan tempat residensi seperti di Padepokan menjadi kantong budaya yang terus aktif terlibat dalam pemajuan budaya melalui ruang publik yang memanusiakan manusia desa dan kehidupan tani.