Kunjungi Yasnaya Polyana Banyumas, Menbud Fadli Zon Dorong Pertumbuhan Kantong Budaya Daerah

BANYUMAS, suarabanyumas.co.id – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong tumbuhnya lebih banyak kantong budaya berbasis komunitas di berbagai daerah. Ruang budaya dinilai penting sebagai tempat berkembangnya penulis, pemikir, seniman, dan budayawan sekaligus menghubungkan kebudayaan dengan kehidupan masyarakat, desa, serta alam.

Dorongan tersebut disampaikan Fadli saat mengunjungi Padepokan Yasnaya Polyana di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (27/6). Padepokan yang dirintis Ashoka Siahaan itu menjadi ruang pengembangan filsafat, sastra, pertanian organik, dan program residensi, termasuk Residensi Ngenger Tani.

“Kita berharap cultural enclave, kantong-kantong budaya seperti Yasnaya Polyana ini makin banyak tumbuh di seluruh Indonesia,” kata Fadli. Menurut dia, ruang budaya berbasis komunitas dapat menjadi tempat inkubasi gagasan dan kreativitas sekaligus memperkuat ekosistem pemajuan kebudayaan di daerah.

Fadli menyebut pengembangan ruang budaya tersebut sejalan dengan Program Pemberdayaan Ruang Publik dalam Dana Indonesia Raya yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan. Ia menyatakan dukungannya terhadap ruang-ruang budaya yang mengintegrasikan sastra, pemikiran, dan kesenian dengan kehidupan masyarakat serta praktik pertanian organik.

Fadli juga mengaitkan nama Yasnaya Polyana dengan kediaman sastrawan Rusia Leo Tolstoy, yang pernah dikunjunginya sekitar 30 tahun lalu. Tolstoy dikenal melalui karya monumental, antara lain War and Peace dan Anna Karenina. Baginya, keberadaan Yasnaya Polyana di Banyumas menunjukkan bahwa inspirasi sastra dan kebudayaan lintas negara dapat tumbuh kembali dalam konteks lokal yang berbeda.

“Kita bisa berkolaborasi lebih jauh. Kita akan dukung agar tempat-tempat yang menjadi ruang budaya seperti ini bisa terus berkembang dan berkelanjutan,” ujarnya. Dukungan tersebut diharapkan membuka peluang kolaborasi untuk memperkuat peran kantong budaya sebagai ruang belajar, penciptaan karya, dan pengembangan gagasan di tengah masyarakat.

Ketua Lembaga Advokasi Kearifan Lokal (LAKL), Warseno, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Menteri Kebudayaan ke Padepokan Yasnaya Polyana. Menurut dia, kehadiran Fadli menjadi dukungan moral bagi program Residensi Ngenger Tani yang didukung Kementerian Kebudayaan, sekaligus penguatan upaya memajukan kebudayaan, khususnya tradisi pertanian, melalui literasi yang advokatif.

Pendiri Padepokan Yasnaya Polyana, Ashoka Siahaan, menilai kebudayaan perlu ditempatkan sebagai strategi peradaban, bukan sebatas kegiatan seremonial. Ia menekankan pentingnya penguatan nilai, ideologi, dan kesadaran kolektif agar masyarakat mampu menjaga jati diri di tengah perubahan global.

“Ke depan, yang harus kita dalami adalah politik kebudayaan agar kita eling lan waspodo, eling dari dalam, waspada terhadap pengaruh dari luar,” kata Ashoka. Pandangan tersebut menegaskan pentingnya ruang budaya yang tidak hanya melahirkan karya, tetapi juga memperkuat refleksi kritis dan kesadaran masyarakat terhadap identitas serta tantangan zaman.