JATILAWANG – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Jatilawang kembali menggelar rapat koordinasi (rakor) bulanan yang kali ini dipusatkan di Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Bantar. Kegiatan berlangsung di Masjid Al Muttaqin, Grumbul Wijahan Kayu Gede, Desa Bantar, Minggu Legi (24/05/2026), dengan dihadiri jajaran pengurus MWC NU, pengurus ranting se-Kecamatan Jatilawang, tokoh masyarakat, serta ibu-ibu Muslimat NU.
Suasana rakor berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan. Agenda diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin Imam Masjid Al Muttaqin sebagai bentuk doa bersama sekaligus penguatan spiritual menjelang pelaksanaan ibadah Idul Adha.
Setelah itu, Sekretaris MWC NU Jatilawang, Edi Antoro, memandu jalannya acara dengan pembacaan Ummul Kitab bersama seluruh peserta yang hadir.
Ketua PRNU Bantar, Ruston Nawawi, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Ranting Bantar sebagai tuan rumah rakor bulanan tersebut.
“Kami merasa bangga dan bersyukur karena kegiatan MWC NU Jatilawang dapat dilaksanakan di Desa Bantar. Semoga silaturahmi dan koordinasi antar pengurus NU semakin kuat dan membawa manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Bantar. Kepala Desa Bantar, Karsun Muridi, yang hadir langsung dalam kegiatan itu menyatakan komitmennya untuk terus mendukung aktivitas keagamaan dan organisasi kemasyarakatan yang dinilai mampu menjaga kerukunan warga.
Menurutnya, kegiatan rutin seperti rakor NU tidak hanya menjadi sarana koordinasi organisasi, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan spiritual masyarakat di tingkat desa.
Memasuki sesi pengajian, Wakil Syuriyah MWC NU Jatilawang, Kyai Ahmad Fauzi, memberikan tausiyah tentang keutamaan bulan Dzulhijjah. Ia mengajak warga Nahdliyin untuk memaksimalkan ibadah pada 10 hari pertama Dzulhijjah, terutama puasa sunnah yang memiliki banyak keutamaan.
“Bulan Dzulhijjah adalah momentum meningkatkan ibadah dan kepedulian sosial. Selain puasa sunnah, ibadah kurban juga menjadi bentuk ketakwaan dan pengorbanan kepada Allah SWT,” tuturnya.
Kyai Ahmad Fauzi juga memberikan edukasi terkait ketentuan hewan kurban yang sah menurut syariat Islam. Ia menjelaskan bahwa hewan yang dapat dijadikan kurban meliputi unta, sapi, kerbau, dan kambing dengan syarat tertentu sesuai ketentuan agama.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah MWC NU Jatilawang, H. Muhammad Asyhadi, meminta seluruh pengurus ranting agar aktif mendata jumlah hewan kurban di wilayah masing-masing. Pendataan tersebut dinilai penting untuk memetakan pelaksanaan kurban sekaligus memudahkan koordinasi di tingkat kecamatan.
“Kami berharap seluruh ranting dapat segera melaporkan jumlah hewan kurban, baik sapi maupun kambing, agar pelaksanaan Idul Adha tahun ini berjalan tertib dan maksimal,” katanya.
Dalam rakor tersebut juga dibahas pentingnya pengamanan aset wakaf milik jam’iyah NU. Rais Syuriyah yang juga membidangi LWPNU (Lembaga Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama) mengimbau agar seluruh masjid dan musholla yang dikelola warga NU segera diproses administrasi wakafnya melalui lembaga NU guna menghindari persoalan hukum di kemudian hari.
Selain agenda keagamaan dan organisasi, Bendahara MWC NU Jatilawang, Ahmad Muhasin Mahmud, turut menyampaikan laporan keuangan kas MWC NU secara terbuka kepada seluruh peserta sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas organisasi.
Rangkaian rakor kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Wakil Syuriyah, Kyai Ahmad Chirsun. Setelah acara selesai, seluruh peserta melaksanakan salat Ashar berjamaah yang dilanjutkan dzikir bersama dan saling bersalaman sebagai simbol mempererat ukhuwah Islamiyah dan silaturahmi antar pengurus NU di Kecamatan Jatilawang.