Purwokerto, sebuah wilayah di Jawa Tengah, tidak hanya dikenal sebagai salah satu daerah penyebaran dan perkembangan pondok pesantren tahfiz Al-Qur’an di Nusantara, tetapi juga menjadi saksi bisu sebuah peristiwa spiritual yang sangat istimewa. Di daerah Kedungparu, Purwokerto, tinggallah seorang ulama sepuh nan kharismatik bernama Syaikh Abdul Malik / Mbah Malik. Di tempat inilah terjadi pertemuan penuh nilai adab dan pewarisan ilmu antara beliau dengan ulama besar asal Banten, Abuya KH. Muhammad Dimyati.
Biografi Singkat Syaikh Abdul Malik dan Abuya KH. Muhammad Dimyati Abuya KH. Muhammad Dimyati, yang lebih akrab disapa Mbah Dim, dilahirkan di desa Kalahang, Banten, pada bulan Juni 1920 (atau sumber lain mencatat tahun 1925), dari pasangan KH. Muhammad Amin dan Nyai Hj. Ruqayyah. Sejak kecil, beliau dikenal memiliki kecerdasan dan ketekunan yang luar biasa. Perjalanan menuntut ilmunya sangat panjang, melintasi berbagai pesantren. Beliau pernah menuntut ilmu di Pesantren Kadupeusing di bawah asuhan Abuya Tubagus Abdul Halim, kemudian ke Sempur Purwakarta berguru pada Mama Sempur, hingga akhirnya ke Watucongol, Magelang untuk berguru kepada Mbah Dalhar.
Di Watucongol inilah, melalui proses spiritual yang dalam, beliau dibaiat dan dianugerahi Maqam Al-‘Arif Billah, serta diangkat menjadi Mursyid atau Khalifah Thariqah Asy-Syaziliyyah oleh Mbah Dalhar. Selama hidupnya, Abuya Dimyati menikah sebanyak lima kali dan akhirnya menetap di Cidahu, Banten. Di Cidahu beliau merintis Pesantren Raudhatul Ulum, sangat produktif mengajar, hingga wafat pada tanggal 3 Oktober 2003 (07 Sya’ban 1424 H) dalam usia 78 tahun.
Sementara itu, Kyai Abdul Malik adalah sosok ulama sepuh yang menetap di Kedungparu, Purwokerto. Beliau merupakan sahabat karib dari Mbah Dalhar (guru Abuya Dimyati) sewaktu mereka sama-sama menuntut ilmu di Mekkah. Syaikh Abdul Malik dikenal sebagai ulama yang sangat terjaga lisannya; beliau jarang sekali membicarakan apa pun dengan orang lain, sehingga tindak-tanduknya selalu mengundang perhatian khusus bagi mereka yang mengenalnya.
Pertemuan Spiritual di Purwokerto (Sekitar Tahun 1955) Catatan sejarah mengenai kisah pertemuan bersejarah ini didokumentasikan oleh Fahrur Rozi dalam buku “Para Penjaga Al-Qur’an: Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara” terbitan tahun 2011.
Pertemuan ini bermula ketika Syaikh Abdul Malik secara khusus datang berkunjung ke Watucongol dengan maksud utama untuk menemui Muhammad Dimyathi. Dalam perjumpaan tersebut, Syaikh Abdul Malik meminta agar Abuya Dimyati berkenan berkunjung ke kediamannya di Kedungparu, Purwokerto. Merespons ajakan tersebut, Abuya Dimyati berjanji akan memenuhinya setelah beliau menyelesaikan khataman kitab Fathul Wahhāb karangan Syaikhul Islam Abū Yahyā Zakariyā al-Anṣārī.
Beberapa bulan kemudian, yakni pada sekitar tahun 1955, Abuya Dimyati memohon izin kepada Mbah Dalhar dan berangkat menuju kampung halaman Syaikh Abdul Malik di Purwokerto. Ada sebuah peristiwa luar biasa setibanya beliau di sana. Meskipun Abuya Dimyati tidak pernah memberitahukan jadwal kedatangannya, beliau sangat terkejut karena melihat Syaikh Abdul Malik sudah berjalan kaki seakan-akan mau menjemputnya, sekitar 50 meter dari rumahnya. Keduanya pun bertemu di tengah jalan. Saat tiba di rumah, karena rasa segan, Abuya Dimyati sempat mempersilakan Mbah Malik melanjutkan hajatnya di luar jika memang ada keperluan. Namun, Syaikh Abdul Malik dengan lugas menjawab, “Saya keluar memang mau menjemput sampean”.
Rencana awal Abuya Dimyati yang semula hanya berniat bertamu sebentar pun akhirnya berubah. Kejadian penjemputan tak terduga itu serta larangan dari Syaikh Abdul Malik yang tidak mengizinkannya untuk langsung pulang, membuat Abuya Dimyati menginap selama 3 hari 3 malam di sana.
Kesempatan emas ini menjadi momen pewarisan keilmuan yang luar biasa. Selama di Purwokerto, Syaikh Abdul Malik mengijazahkan berbagai ilmu dan amalan tarekat kepada Abuya Dimyati, di antaranya adalah berbagai macam Hizb, Salawat al-Ism al-A’zam, Salawat Basya’rul Khairāt, serta salawat-salawat yang tersusun dalam Kitab Afdalus-Salawat karya Syaikh Yūsuf bin Ismail an-Nabhani.
Setelah merasa cukup mendapatkan ilmu, Abuya Dimyati memohon izin untuk kembali dan menceritakan segala pengalamannya di Purwokerto kepada Mbah Dalhar di Watucongol. Mendengar cerita muridnya, Mbah Dalhar sempat tertegun dan memberikan kesaksian yang menegaskan betapa istimewanya posisi Abuya Dimyati. Mbah Dalhar berkata, “Kyai Abdul Malik itu tidak pernah membicarakan apa pun selama ini dengan siapa saja, saya sendiri heran ketika Mbah Abdul Malik datang ke Watucongol beberapa waktu lalu. Kedatangannya ke sini, Insya Allah semata-mata untuk mencari sampean”.