PURWOKERTO — Ada pelajaran besar bagi pelaku usaha Indonesia dari Yiwu, sebuah distrik di Provinsi Zhejiang, China. Wilayah yang secara administratif setingkat kabupaten itu justru menjadi salah satu pusat perdagangan komoditas kecil dunia.
Kesan tersebut disampaikan Brili Agung, CEO Aksara Semesta Investama sekaligus Wakil Ketua HIPMI Institute, setelah memandu delegasi lebih dari 50 pengusaha Indonesia yang tergabung dalam Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) dalam agenda Business Trip ke Yiwu.
Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi perjalanan bisnis. Delegasi juga membawa agenda membangun kerja sama strategis lintas negara melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).
Brili menilai Yiwu memberikan gambaran nyata tentang bagaimana sebuah daerah yang tidak berstatus kota megapolitan mampu membangun ekosistem perdagangan berskala global.
“Kalau Anda berpikir pusat perdagangan dunia itu selalu kota megapolitan sekelas New York, Shanghai, atau London, Anda salah besar,” kata Brili dalam catatannya.
Menurut dia, kekuatan Yiwu justru terletak pada kemampuannya membangun rantai pasok yang sangat efisien. Berbagai komoditas kecil, mulai dari pernak-pernik rumah tangga, perlengkapan sehari-hari hingga produk yang mengisi rak-rak ritel, diperdagangkan dan dikirim ke berbagai negara.
Kondisi tersebut membuat Brili melihat persoalan UMKM Indonesia dari perspektif berbeda.
Menurut dia, persoalan utama bukan semata-mata derasnya produk impor yang masuk ke pasar Indonesia. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana pelaku usaha lokal membangun efisiensi, memperpendek rantai pasok, memanfaatkan teknologi dan memperluas akses pasar.
Teknologi Mengubah Toko Kecil Menjadi Pemain Global
Salah satu faktor yang menarik perhatian Brili adalah integrasi perdagangan fisik dengan ekosistem digital.
Yiwu berada di Provinsi Zhejiang, kawasan yang juga menjadi basis perkembangan ekosistem teknologi dan perdagangan digital China. Kehadiran platform perdagangan B2B seperti 1688 ikut memperkuat konektivitas antara pedagang, pemasok dan pembeli dalam skala besar.
Toko-toko yang sebelumnya mengandalkan pembeli datang secara langsung kini dapat terhubung dengan pasar yang jauh lebih luas.
Transaksi grosir dapat dilakukan melalui perangkat digital, sementara sistem logistik dan distribusi mendukung pergerakan barang dalam jumlah besar.
“Efisiensi radikal dan integrasi teknologi digital menjadi salah satu kunci yang membuat ekosistem perdagangan di sini begitu kuat,” ujarnya.
Bagi Brili, model tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Pelaku UMKM tidak cukup hanya memiliki produk yang bagus. Mereka juga harus memahami bagaimana produk diperoleh, diproduksi, dikonsolidasikan, dipasarkan dan dikirimkan dengan biaya yang kompetitif.
Jangan Sampai UMKM Hanya Jadi Reseller
Kunjungan ke Yiwu juga menjadi alasan SUMU membawa lebih dari 50 pengusaha Indonesia untuk melihat langsung ekosistem perdagangan tersebut.
Brili mengatakan, pengusaha Indonesia harus mulai keluar dari posisi sebagai konsumen atau sekadar reseller produk impor.
“Jangan sampai pengusaha lokal dan anggota jaringan kita cuma pasrah menjadi penonton, atau sekadar menjadi reseller eceran paling ujung yang gampang tergilas zaman,” katanya.
Melalui agenda kerja sama lintas negara yang dibangun dalam kunjungan tersebut, SUMU ingin membuka peluang kemitraan yang lebih strategis.
Tujuannya bukan sekadar mendatangkan barang dari China, tetapi mempelajari sistem bisnis yang membuat produk dapat diproduksi dan didistribusikan dengan efisien.
Kerja sama juga diarahkan untuk membuka akses B2B, memperkuat jaringan pemasok dan mencari peluang yang memungkinkan pengusaha Indonesia memperoleh posisi lebih kuat dalam rantai pasok.
UMKM Harus Naik Kelas
Brili menilai pengalaman di Yiwu menjadi “tamparan” sekaligus sumber optimisme bagi pengusaha Indonesia.
Di satu sisi, kemampuan Yiwu membangun rantai pasok global menunjukkan betapa besarnya tantangan yang dihadapi UMKM lokal.
Di sisi lain, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa kekuatan ekonomi dapat dibangun dari ekosistem pelaku usaha yang terhubung dan memiliki sistem perdagangan yang efisien.
Karena itu, menurut Brili, Indonesia tidak cukup hanya mengeluhkan banjir produk impor.
Pelaku usaha harus berani mempelajari bagaimana produk global dibuat kompetitif.
“Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan banjir barang impor kalau kita sendiri enggan mempelajari cara kerja rantai pasok dunia,” ujarnya.
Menurut dia, langkah berikutnya adalah membangun konsolidasi usaha. UMKM yang selama ini berjalan sendiri-sendiri perlu memiliki jaringan untuk melakukan pembelian bahan baku, produksi, pemasaran dan distribusi secara lebih efisien.
Teknologi digital juga harus dimanfaatkan untuk mempertemukan produsen dengan pembeli secara langsung.
Saatnya Bangun Rantai Pasok dari Daerah
Pelajaran dari Yiwu dinilai relevan untuk daerah-daerah di Indonesia, termasuk wilayah yang memiliki ribuan pelaku UMKM.
Daerah tidak harus menjadi kota metropolitan untuk memiliki kekuatan ekonomi. Yang dibutuhkan adalah ekosistem usaha yang mampu menghubungkan produsen, pemasok, pembeli, lembaga pembiayaan, teknologi dan logistik.
Dengan model tersebut, UMKM tidak harus berjalan sendiri.
Produk dari banyak pelaku usaha dapat dikonsolidasikan sehingga memiliki kapasitas produksi, kualitas, kontinuitas dan daya tawar yang lebih kuat.
“Sudah saatnya gerakan ekonomi komunitas seperti Serikat Usaha Muhammadiyah melompat lebih jauh: melek peta rantai pasok global dan membangun efisiensi konsolidasi, agar bisnis lokal kita berdaulat dan berjaya di negeri sendiri,” kata Brili.
Menurut dia, kunjungan ke Yiwu pada akhirnya bukan sekadar tentang China atau produk impor.
Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi kesempatan bagi pengusaha Indonesia untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah wilayah mampu mengubah perdagangan lokal menjadi kekuatan ekonomi yang terkoneksi dengan pasar dunia.
Tantangannya kini adalah bagaimana pelajaran tersebut diterjemahkan menjadi langkah konkret di daerah.
UMKM Indonesia harus bergerak dari sekadar menjadi pasar bagi produk global menjadi bagian dari rantai pasok global. Dengan teknologi, konsolidasi dan kemitraan yang tepat, peluang tersebut masih terbuka lebar.