Telkom University Bangun Kandang Ayam Berbasis IoT, Sampah Dapur Warga Sumampir Diolah Jadi Telur

PURWOKERTO, suarabanyumas.co.id – Warga RT 4 RW 2 Kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara, kini memiliki cara baru mengelola sampah organik rumah tangga. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Telkom University membangun kandang ayam petelur berbasis deep litter yang dipadukan dengan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mengolah sampah dapur menjadi sumber pangan sekaligus mendukung swasembada pangan di tingkat keluarga.

Program tersebut digagas oleh tim dosen Program Studi S1 Teknik Biomedis Telkom University Kampus Purwokerto yang diketuai Dodi Zulherman, bersama Solichah Larasati, Indah Permatasari. Bersama Karang Taruna RW 2 Sumampir, tim membangun kandang berukuran 6 x 2 meter di lahan milik warga sebagai pusat pengelolaan sampah organik berbasis komunitas.

Yang membedakan kandang ini adalah penggunaan sistem deep litter, yaitu lantai kandang berlapis sekam dan bahan organik yang mampu mengurai kotoran ayam serta sampah dapur secara alami sehingga tidak menimbulkan bau. Sistem tersebut juga menghasilkan kompos, sementara sisa makanan rumah tangga dimanfaatkan sebagai pakan tambahan ayam petelur sehingga tercipta siklus pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.

Untuk memastikan kondisi kandang tetap ideal, tim memasang perangkat IoT berbasis mikrokontroler ESP32 yang memantau suhu, kelembapan, dan ketersediaan air minum ayam secara real time. Jika terjadi perubahan di luar batas normal, sistem akan mengirimkan notifikasi otomatis melalui aplikasi Telegram sehingga pengelola dapat segera melakukan penanganan.

Ketua Tim PkM Telkom University, Dodi Zulherman, mengatakan program ini tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi, tetapi juga mengubah cara masyarakat memandang sampah organik sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

“Melalui sistem deep litter yang dipadukan dengan IoT, kami ingin menunjukkan bahwa sampah organik rumah tangga dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Harapannya, masyarakat tidak hanya mampu mengurangi limbah, tetapi juga memperoleh manfaat berupa telur, kompos, serta pengalaman menerapkan teknologi tepat guna,” ujarnya.

Sebelum pembangunan kandang, tim lebih dulu menggelar dua tahap sosialisasi kepada warga mengenai swasembada pangan keluarga, pemanfaatan lahan pekarangan, pemilahan sampah organik, hingga cara kerja kandang ayam berbasis deep litter. Pendekatan tersebut dilakukan agar masyarakat memahami proses pengelolaan sejak dari rumah hingga menghasilkan produk yang bernilai.

Mitra program sekaligus pemilik lahan kandang, M. Hanafi, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan Telkom University. Menurutnya, program tersebut memberi solusi nyata bagi pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri di lingkungan warga.

“Kami bersyukur mendapat pendampingan dari Telkom University. Semoga kandang ini benar-benar bisa membantu mengurangi sampah organik di lingkungan kami, menghasilkan telur untuk warga, dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya,” katanya.

editor ; azzahra