SOWANAN : Peseeta melakukan aktivasi sowanan di kediaman alm Dalang Nawan sebagai maestro wayang gagarag banyumas lor gunung.
PURWOKERTO – Semangat perfilman dokumenter di Banyumas Raya kembali bergelora. Setelah sukses menggelar rangkaian lokakarya dan pengembangan ide cerita, program Grebeg Film Banyumas (GFB) 2026 kini memasuki fase produksi. Program yang menjadi ruang inkubasi kreatif bagi sineas muda ini tengah mempersiapkan tiga film dokumenter bertema budaya lokal yang akan diputar perdana pada Agustus mendatang.
Mengusung konsep yang berakar kuat pada tradisi Jawa, GFB 2026 tidak sekadar mengajarkan teknik membuat film. Program ini merancang seluruh proses kreatif melalui tiga tahapan utama yang sarat makna budaya, yakni Ruwatan Film, Gunungan Film, dan Ngalap Berkah.
Melalui pendekatan tersebut, para pelajar, guru, dan komunitas film independen dari Banyumas, Purbalingga, hingga Cilacap diajak untuk membaca realitas sosial dan budaya di sekitar mereka, lalu menerjemahkannya menjadi karya dokumenter yang autentik dan bernilai.
Ruwatan Film: Menajamkan Kepekaan terhadap Realitas
Perjalanan para sineas muda dimulai dari fase Ruwatan Film yang berlangsung pada 27–29 Mei 2026 di kawasan Embung Boto Wijaya, Desa Karangnangka, Banyumas.
Dalam tradisi Jawa, ruwatan dimaknai sebagai proses pembersihan diri. Filosofi tersebut diterapkan dalam program ini sebagai upaya menyelaraskan visi dan membangun kepekaan peserta terhadap berbagai fenomena sosial budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Direktur Program GFB 2026, Wasis Wardhana, menegaskan bahwa film dokumenter tidak bisa dilepaskan dari kemampuan pembuat film dalam memahami realitas yang ada.
“Tepat seratus tahun yang lalu John Grierson, salah seorang dokumentaris dari Skotlandia, menekankan bahwa film dokumenter adalah perlakuan kreatif terhadap realitas. Maka, penting bagi para sineas dokumenter untuk memiliki kepekaan terhadap realitas sosial dan budaya di sekitarnya,” ujar Wasis.
Selama tiga hari kegiatan, peserta mendapatkan kesempatan belajar langsung dari sejumlah tokoh perfilman dokumenter nasional. Salah satunya adalah Tonny Trimarsanto, pendiri Rumah Dokumenter Klaten sekaligus Ketua Bidang Pengembangan Film Daerah Badan Perfilman Indonesia.
Dalam sesi tersebut, Tonny membagikan pengalaman mengenai riset, pengembangan ide cerita, hingga strategi membangun dokumenter yang kuat secara naratif.
Selain itu, peserta juga memperoleh pelatihan teknik pengambilan gambar dokumenter dari Taufan Agustian, pembuat film dokumenter Indonesiana TV.
Menurut Tonny, keberadaan Grebeg Film Banyumas sangat penting dalam menciptakan ruang pertemuan kreatif bagi para pembuat film daerah.
“Menurut saya Grebeg Film Banyumas cukup penting karena dengan acara-acara seperti ini teman-teman bisa berbagi dan berjumpa. Perjumpaan seperti ini sangat baik untuk membangun karya-karya baru yang lebih berkarakter dan berwajah lokal dengan persoalan serta isu-isu yang ada di sekitar sini,” katanya.
Ia juga menilai tantangan terbesar bukanlah menciptakan program baru, melainkan menjaga keberlangsungan program yang telah berjalan.
“Harapan saya aktivitas seperti ini terus berjalan dan dikelola di waktu-waktu mendatang. Tantangannya bukan pada membuat acara yang baru, tetapi lebih kepada bagaimana mempertahankan acara yang sudah ada,” tambahnya.
Tak hanya belajar di ruang kelas, peserta juga menjalani proses Sowanan, yakni turun langsung menemui tokoh budaya lokal untuk menggali inspirasi. Salah satu kunjungan dilakukan ke Yayasan Dhalang Nawan yang dikenal sebagai pusat pelestarian tradisi Wayang Gagrag Banyumasan.
Tahapan Ruwatan ditutup dengan prosesi Sesaji, yaitu presentasi ide cerita oleh seluruh peserta. Dari sejumlah gagasan yang diajukan, terpilih tiga proyek dokumenter terbaik yang berhak memperoleh dukungan penuh dalam produksi dan distribusi film.
Gunungan Film: Mengabadikan Warisan Budaya di Lapangan
Memasuki Juni hingga Juli 2026, GFB memasuki fase Gunungan Film, yakni tahap produksi.
Layaknya gunungan dalam tradisi pewayangan yang berisi berbagai hasil bumi, fase ini menjadi ruang bagi para peserta untuk mengumpulkan beragam elemen cerita, gambar, suara, dan pengalaman lapangan menjadi sebuah karya dokumenter utuh.
Tiga proyek dokumenter yang saat ini tengah diproduksi mengangkat kekayaan budaya lokal yang mulai jarang terekspos.
Tim dari SMKN 3 Banyumas mengangkat kisah seorang dalang muda yang berupaya menjaga eksistensi seni pedalangan di tengah arus modernisasi.
Sementara itu, peserta dari SMK Migas Muhammadiyah Cilacap mendokumentasikan tradisi Cowongan, ritual masyarakat Banyumas yang dipercaya sebagai sarana memohon turunnya hujan.
Adapun kolaborasi antara SMK Ma’arif 2 Ajibarang dan Madrasah Techno Natura Depok mengangkat cerita mengenai Kesenian Genjring Kuna, kesenian tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Ketiga tim kini tengah melakukan proses pengambilan gambar, wawancara, dan penyusunan narasi untuk menghasilkan film dokumenter yang tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki nilai artistik.
Ngalap Berkah: Panen Karya Sineas Banyumas Raya
Puncak rangkaian kegiatan akan berlangsung pada Agustus 2026 melalui fase Ngalap Berkah, yang menjadi momentum panen karya para sineas muda.
Pada fase ini, ketiga film dokumenter hasil produksi peserta akan diputar secara perdana di salah satu bioskop lokal di Purwokerto.
Tidak hanya itu, penonton juga akan disuguhkan karya dari sutradara muda Arkan Ash, yang juga lahir dari proses pembinaan Grebeg Film Banyumas pada tahun-tahun sebelumnya.
Selain karya generasi muda, publik juga berkesempatan menyaksikan film dokumenter karya Wasis Wardhana yang sebelumnya berhasil meraih penghargaan dalam ajang International Wildlife Film Festival.
Lebih dari sekadar pemutaran film, Ngalap Berkah menjadi gerbang distribusi karya-karya dokumenter Banyumas Raya menuju berbagai festival film nasional maupun internasional.
Saat ini, pengelola GFB tengah membangun kolaborasi dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas serta Perpustakaan Bank Indonesia Purwokerto untuk memperluas akses publik terhadap film-film dokumenter sebagai media literasi digital dan budaya.
Menjaga Cerita Daerah Lewat Layar Dokumenter
Program Grebeg Film Banyumas 2026 yang didukung oleh Dana Indonesiana Tahun 2025 dari Kementerian Kebudayaan menjadi bukti bahwa cerita-cerita lokal memiliki daya hidup yang kuat ketika dikemas melalui medium sinema.
Di tengah derasnya arus budaya populer global, para sineas muda Banyumas Raya menunjukkan bahwa kisah tentang dalang muda, ritual Cowongan, hingga Genjring Kuna bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang layak dikenalkan kepada dunia.
Melalui kamera, kreativitas, dan kolaborasi lintas daerah, Grebeg Film Banyumas 2026 sedang merajut jembatan antara tradisi dan generasi masa depan—membuktikan bahwa budaya lokal tetap dapat hidup, berkembang, dan berbicara melalui bahasa sinema.