Menyusuri Jejak Raden Joko Kaiman di Desa Ketanda, Saat Generasi Muda Belajar Merawat Ingatan Banyumas

KKN UIN SAIZU PURWOKERTO

PURWOKERTO, suarabanyumas.co.id – Di balik rindangnya pepohonan dan suasana tenang khas pedesaan di Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, tersimpan sebuah ruang sunyi yang menyimpan kisah besar lahirnya Banyumas.

Bagi sebagian orang, tempat itu mungkin hanya sebuah petilasan. Namun bagi warga setempat, lokasi tersebut adalah pengingat bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi, selama masih ada yang bersedia mengenangnya.

Pada hari Kamis, 16 Juli 2026, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Kelompok 010 dari Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, melangkahkan kaki menuju Petilasan Bagus Mangun atau yang lebih dikenal sebagai Petilasan Joko Kaiman.

Kunjungan itu bukan sekadar agenda observasi lapangan. Mereka datang untuk menyapa sejarah, mendengarkan kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus memahami makna menjaga identitas daerah.

Di lokasi petilasan, Kepala Dusun Ketanda, Fahmi Bahtiar, menyambut rombongan mahasiswa. Dengan penuh semangat, ia menuturkan cerita tentang sosok Raden Joko Kaiman yang diyakini pernah melakukan semedi di tempat tersebut sebelum menjadi tokoh penting dalam perjalanan sejarah Banyumas.

“Petilasan ini dipercaya sebagai tempat Joko Kaiman melakukan semedi. Sampai sekarang masyarakat masih sering datang untuk berziarah, terutama pada waktu-waktu tertentu. Kami berusaha menjaga tempat ini karena selain memiliki nilai spiritual bagi sebagian masyarakat, petilasan ini juga merupakan peninggalan sejarah yang menjadi identitas Desa Ketanda,” tutur Fahmi.

Bagi masyarakat Desa Ketanda, petilasan bukan sekadar peninggalan masa lampau. Tempat itu menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, tempat nilai-nilai tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, serta penghormatan kepada leluhur terus diwariskan.

Fahmi kemudian mengajak mahasiswa KKN UIN Saizu Purwokerto menelusuri kisah Raden Joko Kaiman, pendiri sekaligus Bupati pertama Kabupaten Banyumas yang bergelar Adipati Warga Utama II.

Masyarakat lebih mengenalnya sebagai Adipati Mrapat, sebuah julukan yang lahir dari kebijaksanaannya membagi Kadipaten Wirasaba menjadi empat wilayah demi menghindari konflik perebutan kekuasaan di antara keluarga.

Keputusan yang diambil berabad-abad silam itu bukan hanya menjadi bagian dari sejarah Banyumas, tetapi juga meninggalkan pelajaran tentang kepemimpinan yang mengutamakan persatuan dibanding kepentingan pribadi.

Tidak heran jika tanggal pengangkatannya oleh Sultan Pajang pada 6 April 1582 pernah diperingati sebagai momentum Hari Jadi Kabupaten Banyumas, (sekarang peringatan Hari Jadi Banyumas menjadi tanggal 22 Februari 1571). Di sela-sela penjelasan, mahasiswa tampak larut mendengarkan setiap cerita.

Sesekali mereka mengajukan pertanyaan mengenai asal-usul petilasan, upaya pelestarian yang dilakukan masyarakat, hingga peran pemerintah dalam menjaga situs bersejarah tersebut.

Diskusi berlangsung hangat. Bagi para mahasiswa KKN UIN Saizu, pengalaman itu menghadirkan pemahaman baru bahwa belajar sejarah tidak selalu harus dilakukan di ruang kelas. Di tempat-tempat sederhana seperti petilasan inilah, sejarah hadir dalam bentuk yang lebih hidup karena masih dijaga oleh masyarakat yang meyakini nilainya.

Fahmi juga menjelaskan bahwa Petilasan Bagus Mangun telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas. Penetapan tersebut menjadi pengakuan bahwa situs ini memiliki nilai sejarah yang penting untuk terus dilestarikan.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya. Mengenal sejarah daerah bukan hanya soal mengetahui nama tokoh atau tanggal penting, tetapi juga memahami jati diri dan menghargai perjuangan para pendahulu.

Kesadaran itulah yang mulai tumbuh dalam diri mahasiswa KKN Reguler UIN Saizu Kelompok 010. Mereka menyadari bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui dokumentasi, publikasi, dan penyebaran informasi kepada masyarakat luas.

Sebagai tindak lanjut dari kunjungan tersebut, mahasiswa berkomitmen mempublikasikan hasil kegiatan sebagai media edukasi sekaligus promosi sejarah lokal. Langkah sederhana ini diharapkan dapat mendukung upaya Pemerintah Desa Ketanda memperkenalkan Petilasan Bagus Mangun kepada masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda.

Di tengah derasnya arus modernisasi, kisah Joko Kaiman mengingatkan bahwa sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung baru atau kemajuan teknologi. Sebuah daerah juga berdiri kokoh karena mampu menjaga ingatan kolektif tentang siapa pendirinya, bagaimana sejarahnya terbentuk, dan nilai-nilai apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Mungkin, bagi sebagian orang, petilasan hanyalah sebuah tempat yang sunyi. Namun bagi mereka yang datang untuk belajar, tempat itu adalah ruang di mana sejarah kembali berbicara mengajak setiap langkah untuk tidak melupakan akar, sekaligus menumbuhkan harapan agar warisan budaya Banyumas tetap hidup di hati generasi muda.