BANYUMAS, suarabanyumas.co.id — Keraguan sering menjadi penghalang pertama bagi seseorang yang ingin mulai menulis. Pertanyaan seperti “Apakah tulisan saya akan selesai?”, “Ada yang membaca atau tidak?”, hingga “Apakah tulisan saya sudah layak?” justru kerap membuat seseorang tidak pernah benar-benar memulai. Bagi penulis dan pegiat literasi Koko Dwiyanto atau yang dikenal sebagai Mas Koko Ganteng, kunci pertama dalam menulis adalah keberanian untuk memulai.
“Yang penting mau memulai dulu, karena semua hal pasti terjadi karena kita mau memulainya,” ujar Mas Koko saat diwawancarai Mujiburrohman dari UKM Jurnalistik dan Literasi, Ma’had Aly Andalusia di Gedung SMA Andalusia, Jumat (28/8/2026).
Menurut Mas Koko, penulis pemula tidak perlu terlalu sibuk memikirkan respons pembaca sebelum sebuah tulisan selesai dibuat. Kekhawatiran mengenai ada atau tidaknya pembaca justru dapat membuat seseorang berhenti pada tahap gagasan dan tidak pernah sampai menghasilkan karya. Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menulis terlebih dahulu, kemudian memperbaiki dan mengembangkan kemampuan melalui proses.
Mas Koko hadir dalam acara Literasi di SMA Islam Andalusia. Kegiatan yang diikuti ratusan siswa SMA tersebut, merupakan kerjasama dengan Gramedia GOR Purwokerto. SMA Islam Andalusia merupakan lembaga pendidikan dibawah Yayasan Al Anwar Al Hisyamiyyah. Termasuk di dalamnya perguruan tiggi pesantren, Ma’had Aly Andalusia yang dirintis KH Zuhrul Anam Hisyam atau Gus Anam.
Secara khusus, Mas Koko berpesan kepada para mahasantri Ma’had Aly Andalusia yang ingin mulai menulis agar tidak menjadikan jumlah pembaca sebagai alasan untuk menunda berkarya.
“Teruntuk para Mahasantri Andalusia yang ingin mulai menulis, jangan pernah takut kalau tulisan kamu tidak ada yang membaca. Yang penting adalah memulai itu semua terlebih dahulu, abaikan semua asumsi yang ada di pikiranmu hingga tulisanmu terjadi,” pesannya.
Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan tulisan yang memiliki kedekatan dengan kehidupan pembaca. Tulisan, menurutnya, perlu berangkat dari sesuatu yang dekat dengan diri penulis, tetapi pada saat yang sama dapat dikaitkan dengan pengalaman dan persoalan yang dirasakan pembaca. Dengan cara tersebut, tulisan tidak berhenti sebagai rangkaian kata, tetapi dapat menghadirkan pengalaman dan makna bagi orang yang membacanya.
Mas Koko dikenal melalui tulisan-tulisannya yang banyak mengangkat persoalan kehidupan, keluarga, relasi, hingga luka masa kecil dengan bahasa yang dekat dengan pembaca. Beberapa karyanya antara lain; Nak, Kamu Enggak Apa-Apa, Kan?, Maafkan Kami Ya, Nak!, serta Berteman dengan Luka Masa Kecil.
Mujiburrohman menyebut wawancara menjadi bagian dari praktik reporter UKM Jurnalistik dan Literasi Ma’had Aly Andalusia. Selain melatih kemampuan menyusun pertanyaan dan menggali informasi dari narasumber, kegiatan itu memberikan pengalaman langsung kepada mahasantri dalam melihat dunia kepenulisan dari perspektif praktisi.
Penulis: Hisyam Abdillah