PURWOKERTO — Di tengah gemerlap perhelatan reuni dan dinamika organisasi alumni SMANSA Purwokerto, sebuah potret berbeda justru hadir dari sudut sunyi kehidupan salah satu alumninya. Ia adalah Hery, akrab disapa “Chong”, lulusan tahun 1990 kelas 3 Sos dari SMA Negeri 1 Purwokerto.
Di usianya yang kini menginjak 55 tahun, kehidupan belum berpihak padanya. Hery masih berjuang tanpa pekerjaan tetap. Untuk sekadar bertahan hidup, ia mengandalkan tenaga sebagai buruh harian lepas—pekerjaan yang tak selalu ada setiap hari.
Lebih memprihatinkan lagi, Hery belum memiliki tempat tinggal yang layak. Kebutuhan makan sehari-hari pun sering kali menjadi persoalan. Dalam kondisi demikian, ia kerap mendatangi Klinik Hukum Peradi SAI Purwokerto, bukan untuk perkara hukum, melainkan sekadar berharap bantuan berupa makanan atau beras.
Dalam kesehariannya, Hery tak sendiri. Ia ditemani sang ibu, yang setia berjalan bersamanya menyusuri terik jalanan Purwokerto. Langkah mereka bukan untuk mengejar kemewahan, melainkan sekadar mencari pengganjal lapar dan pelepas dahaga.
Kisah Hery menjadi kontras dengan potret umum kegiatan alumni yang kerap diwarnai kemegahan—ajang temu kangen yang tak jarang berubah menjadi panggung unjuk capaian, jabatan, hingga kemapanan ekonomi. Di balik itu, realitas seperti yang dialami Hery seakan luput dari perhatian.
Fenomena ini memantik refleksi: bahwa pengabdian kepada sesama alumni sejatinya tidak harus melalui jabatan formal seperti ketua atau pengurus. Kepedulian sosial, solidaritas, dan empati justru menjadi nilai yang lebih mendasar dalam menjaga ikatan kebersamaan.
Harapan pun disematkan kepada siapa pun yang kelak memimpin organisasi alumni SMANSA Purwokerto Alumni Association. Kepemimpinan diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial, tetapi juga mampu mendorong program nyata yang memberdayakan alumni yang kurang beruntung—agar mereka dapat berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, tanpa harus bergantung pada belas kasihan.
Kisah Hery “Chong” adalah pengingat bahwa di balik setiap nama dalam daftar alumni, ada cerita hidup yang tak selalu berjalan seiring kesuksesan. Dan di sanalah, makna sejati dari kebersamaan diuji.

Sementara itu Djoko Susanto, alumni angkatan 1991, angkat bicara. Ia menegaskan, figur Ketua Umum Ikasmansa ke depan tidak cukup hanya populer atau memiliki jejaring luas, tetapi harus mencerminkan nilai filosofis “Ganesha” yang selama ini melekat sebagai simbol sekolah.
Bagi Djoko, Ganesha bukan sekadar ikon. Sosok dewa ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan itu, menurutnya, menyimpan makna kepemimpinan yang utuh: mampu mendengar dengan luas, berpikir jernih, bertindak bijak, serta sigap mengatasi berbagai persoalan. “Karakter itu tergambar dari simbol kepala gajah, telinga lebar, mata kecil yang fokus, hingga belalai yang lentur menjangkau,” ujarnya.
Ia menekankan, ketua umum harus hadir sebagai pengayom sejati bagi seluruh alumni, tanpa sekat angkatan, latar belakang, maupun perbedaan identitas. “Ketua alumni ke depan harus menjadi pelindung dan pelayan bagi semua, lintas suku, ras, dan agama,” tegasnya.
Djoko juga menyoroti realitas sosial di tubuh alumni. Menurutnya, tidak semua lulusan telah mapan secara ekonomi. Masih ada yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Karena itu, ia mendorong agar Ikasmansa tidak berhenti sebagai ruang temu nostalgia atau seremoni, melainkan menjadi wadah solidaritas yang konkret dan berkelanjutan.
“Organisasi alumni harus punya kepekaan sosial. Jangan sampai hanya jadi panggung silaturahmi tanpa aksi nyata bagi mereka yang membutuhkan,” katanya.
Lebih lanjut, Djoko memaparkan sejumlah kriteria ideal bagi calon ketua umum. Ia menyebut pentingnya sosok yang berdomisili dekat dengan Purwokerto agar mudah diakses, bukan pejabat publik aktif, serta tidak terafiliasi dengan partai politik. Selain itu, calon ketua harus memiliki komitmen waktu dan kesiapan penuh untuk melayani kepentingan alumni kapan pun dibutuhkan.
Ia juga mengingatkan agar Ikasmansa tetap menjaga independensi dan marwah organisasi. Menurutnya, penggunaan fasilitas negara atau jabatan untuk kepentingan alumni harus dihindari demi mencegah konflik kepentingan dan praktik yang menjurus pada pamer kekuasaan.
“Organisasi alumni bukan kendaraan politik. Ikasmansa harus menjadi rumah yang nyaman bagi semua anggotanya, bukan ajang unjuk kekuatan atau kepentingan pribadi,” tandasnya.
Menutup pandangannya, Djoko berharap Rembug Ageng II mampu melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga membawa nilai kemaslahatan. “Harapannya, keputusan yang dihasilkan benar-benar memberi manfaat, bukan hanya di dunia, tetapi juga bernilai kebaikan jangka panjang,” pungkasnya.