Kemenag Banyumas Targetkan Kasus Kehamilan Usia Sekolah Turun dari 425 Kasus ke Zero

BANYUMAS, suarabanyumas.co.id – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyumas menargetkan angka kehamilan pada anak usia sekolah yang tercatat sebanyak 425 kasus dapat ditekan hingga zero. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan edukasi dan pendampingan remaja, salah satunya lewat program Bimbingan Pranikah Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang kini memasuki angkatan ke-25.

Program BRUS Angkatan ke-25 digelar Kemenag Banyumas bersama PC IPNU dan IPPNU Banyumas di SMK Ma’arif 2 Karanglewas, Senin (24/8/2026). Kegiatan ini diarahkan untuk membekali pelajar dengan pengetahuan mengenai pernikahan, kesehatan reproduksi, pengelolaan emosi, serta risiko pergaulan yang dapat berujung pada kehamilan dan pernikahan usia dini.

Kepala Kantor Kemenag Banyumas, Dr. H. Ibnu Asaddudin, S.Ag., M.Pd., mengatakan pencegahan harus dilakukan sejak remaja masih berada di bangku sekolah. Menurutnya, pemahaman yang memadai mengenai aspek fisik, psikologis, sosial, dan agama menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi kehidupan keluarga.

“Bimbingan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada adik-adik siswa mengenai aspek fisik, psikologis, sosial, dan agama terkait pernikahan, agar nantinya dapat membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah,” ujar Ibnu.

Ketua PC IPNU Banyumas, Fahmi Abdurrahman, menilai pendampingan terhadap remaja membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk organisasi pelajar. Ia mengatakan IPNU dan IPPNU memiliki posisi strategis karena dapat berkomunikasi dengan kalangan sebaya menggunakan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan remaja.

“Kami berharap kerja sama ini terus dilanjutkan untuk mengawal remaja di Banyumas agar tetap berada di koridor yang semestinya. Remaja perlu lebih bijak dalam bergaul sehingga risiko kehamilan yang berujung pada pernikahan dini dapat ditekan,” kata Fahmi.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan materi dari sejumlah narasumber yang berasal dari unsur Kemenag, praktisi kesehatan, dan tokoh agama. Materi yang diberikan mencakup pengenalan diri, pengelolaan emosi dalam hubungan, hak dan kewajiban suami istri, kesehatan reproduksi, hingga fikih pernikahan.

Kemenag Banyumas memandang edukasi pranikah bagi remaja tidak sekadar membahas persoalan pernikahan, tetapi juga bagian dari upaya membangun kemampuan siswa dalam mengambil keputusan secara matang. Pemahaman tersebut diharapkan membantu remaja menyusun masa depan tanpa terburu-buru memasuki pernikahan.

Kolaborasi dengan IPNU dan IPPNU juga diharapkan memperluas jangkauan edukasi kepada pelajar di Banyumas. Pendekatan yang melibatkan organisasi kepemudaan dan pelajar dinilai dapat menjadi penguatan program pemerintah dalam mencegah kehamilan usia sekolah dan pernikahan dini.

Melalui BRUS Angkatan ke-25, Kemenag Banyumas menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat edukasi remaja secara berkelanjutan. Target menekan 425 kasus kehamilan usia sekolah hingga zero diharapkan dapat didukung melalui sinergi sekolah, keluarga, organisasi kepemudaan, tokoh agama, serta berbagai pihak terkait.