LAMONGAN, suarabanyumas.co.id – Forum Persaudaraan Lintas Iman (FORSA) Kabupaten Banyumas mengirimkan delegasi untuk mengikuti Semiloka Penguatan Wawasan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) yang digelar di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Selasa-Rabu (28–29/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi forum nasional untuk memperkuat komitmen berbagai elemen masyarakat dalam membangun kerukunan dan toleransi di tengah keberagaman Indonesia.
Semiloka diselenggarakan melalui kerja sama Dialogue Centre UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Mission 21, dan Kementerian Agama Kabupaten Lamongan. Kegiatan menghadirkan tokoh lintas agama, akademisi, pegiat perdamaian, serta komunitas lintas iman dari berbagai daerah guna memperkuat perspektif mengenai pemenuhan hak asasi manusia dalam kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Ketua FORSA Banyumas, Musmuallim, mengatakan keikutsertaan delegasi Banyumas menjadi bagian dari komitmen organisasi dalam memperkuat wawasan kebangsaan sekaligus membangun ruang dialog yang sehat di tengah masyarakat yang majemuk.
“Wawasan kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia perlu terus dikawal agar tidak terjadi konflik keagamaan di tengah masyarakat yang pluralistik. Penguatan perspektif secara kolektif menjadi modal penting untuk menciptakan ruang perjumpaan umat beragama yang damai, adil, dan saling menghormati,” ujarnya.
Menurut Musmuallim, keberagaman agama, suku, budaya, dan adat istiadat merupakan kekayaan bangsa yang harus dirawat bersama. Karena itu, penguatan pemahaman mengenai Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong terciptanya kehidupan sosial yang harmonis serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Salah seorang delegasi FORSA Banyumas, Pendeta Yusup Marwanto, mengaku memperoleh banyak wawasan baru selama mengikuti semiloka, terutama terkait pendekatan pengelolaan keragaman yang berorientasi pada penghormatan terhadap hak-hak setiap warga negara.
“Tokoh agama dan tokoh masyarakat harus menjadi garda terdepan dalam memberikan pemahaman mengenai kebebasan beragama dan berkeyakinan secara moderat. Dengan begitu, masyarakat akan semakin mampu saling memahami dan menjaga kehidupan yang rukun di tengah keberagaman,” kata Yusup.
Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan dapat diimplementasikan di Banyumas melalui penguatan dialog lintas iman, pendidikan toleransi, serta kolaborasi antarumat beragama dalam menjaga perdamaian dan memperkuat persatuan masyarakat.
Melalui keikutsertaan dalam semiloka tersebut, FORSA Banyumas menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang kolaborasi lintas iman yang mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang inklusif, harmonis, dan saling menghargai, sejalan dengan semangat kebhinekaan dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.