PURWOKERTO — Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) mendorong penguatan profesionalisme tenaga pemasaran properti melalui sertifikasi dan uji kompetensi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan ekosistem industri broker properti yang lebih sehat, profesional, dan mampu memberikan perlindungan kepada konsumen.
Dorongan itu mengemuka dalam kegiatan “GAMBRENG” (Gagasan, Rembug, Bareng) — Connecting & Collaborating yang digelar AREBI di Purwokerto, Banyumas, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua DPD AREBI Jawa Tengah William Nugraha, Ketua DPD AREBI Semarang Cingriani Kusuma, Ketua DPC AREBI Solo Raya, serta Ketua Umum AREBI Pusat Clement Francis.
Sekitar 100 pelaku dan anggota komunitas properti turut mengikuti kegiatan yang menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus memperkuat kolaborasi antar pelaku industri.
Ketua Umum AREBI Clement Francis mengatakan, kegiatan di Purwokerto menjadi bagian dari upaya menyatukan visi dan misi organisasi sekaligus memberikan dampak positif bagi perkembangan industri broker properti di daerah.
“Acara ini untuk menyatukan satu visi dan misi asosiasi broker properti Indonesia. Kami juga ingin memberikan manfaat kepada teman-teman di Purwokerto supaya ekosistem bisnis industri broker ini lebih sehat, profesional, dan berintegritas,” kata Clement.
Menurut dia, peningkatan kompetensi tenaga pemasaran menjadi salah satu pekerjaan penting yang harus terus dilakukan. Salah satunya melalui sertifikasi dan uji kompetensi bagi marketing properti.
Clement menilai sertifikasi bukan sekadar dokumen administratif, tetapi menjadi instrumen untuk memastikan tenaga pemasaran memahami aturan, etika, serta batasan dalam menjalankan aktivitas bisnis properti.

“Setiap marketing wajib mempunyai sertifikasi uji kompetensi supaya tahu rambu-rambu dalam berusaha di industri broker ini,” ujarnya.
Ia mengatakan kebutuhan terhadap sertifikasi semakin penting karena selama ini masih terdapat keluhan masyarakat terkait praktik sejumlah pelaku bisnis properti. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah ketika konsumen telah menyerahkan uang, tetapi kemudian sulit mendapatkan pertanggungjawaban.
Karena itu, AREBI mendorong penerapan regulasi dan standar kompetensi yang lebih kuat, termasuk implementasi Permendag Nomor 33 Tahun 2025 yang mengatur kegiatan usaha perantara perdagangan properti.
“Pemerintah mendapatkan banyak komplain dari masyarakat terhadap pelaku bisnis industri broker, misalnya ketika uang sudah diserahkan tetapi pertanggungjawabannya tidak jelas. Lewat sertifikasi dan uji kompetensi ini, kami ingin membuat bisnis ini menjadi lebih profesional,” katanya.
AREBI Kejar 5.000 Sertifikasi
AREBI juga menargetkan peningkatan jumlah tenaga pemasaran properti yang tersertifikasi. Clement menyebut dalam empat bulan terakhir sekitar 1.800 tenaga pemasaran telah mengikuti sertifikasi.
Jumlah tersebut ditargetkan terus bertambah hingga mencapai 5.000 sertifikasi sampai akhir 2026.
“Dalam empat bulan terakhir kami sudah mensertifikasi 1.800. Kami berkomitmen kepada pemerintah bahwa sampai akhir 2026 kami melakukan 5.000 sertifikasi,” katanya.
Menurut Clement, target tersebut sebenarnya masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah tenaga pemasaran properti yang ada di Indonesia. AREBI memperkirakan terdapat sekitar 50.000 hingga 60.000 tenaga marketing properti yang tersebar di berbagai daerah.
Dengan jumlah anggota AREBI sekitar 1.400, potensi tenaga pemasaran yang perlu mendapatkan peningkatan kompetensi masih sangat besar.
Potensi Properti Jawa Tengah Dinilai Besar
Sementara itu, Ketua DPD AREBI Jawa Tengah William Nugraha mengatakan Jawa Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan industri properti. Pertumbuhan kawasan industri di sejumlah daerah menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya kebutuhan properti.
Menurut William, perkembangan kawasan industri mulai dari Tegal, Batang, Kendal, Solo, Purwokerto dan wilayah lainnya memberikan peluang investasi yang cukup besar.
“Jawa Tengah sangat luar biasa. Pemerintah saat ini juga sangat mendukung kemajuan Jawa Tengah, khususnya dengan pertumbuhan kawasan-kawasan industri yang ada,” kata William.
Pertumbuhan kawasan industri, menurut dia, berpotensi menarik semakin banyak investor. Kondisi tersebut kemudian akan berdampak terhadap meningkatnya kebutuhan hunian, kawasan komersial, hingga berbagai fasilitas pendukung aktivitas ekonomi.
William mengatakan perkembangan tersebut juga sejalan dengan program pemerintah di sektor perumahan, termasuk program penyediaan rumah bagi masyarakat.
“Tingginya minat investor masuk ke Jawa Tengah membuat kebutuhan properti terus bertambah. Ini sejalan dengan program pemerintah yang saat ini menggalakkan penyediaan rumah,” ujarnya.
Banyumas Jadi Pasar Potensial
William secara khusus melihat Banyumas, terutama Purwokerto, sebagai salah satu wilayah yang memiliki prospek besar bagi industri properti.
Potensi tersebut tidak hanya berasal dari sektor perumahan, tetapi juga dari perdagangan, industri, pendidikan, dan agrikultur.
“Banyumas sendiri potensinya sangat luar biasa, baik dari sektor komersial, industri, pendidikan maupun agrikultur. Ini sangat terbuka dan sangat kuat,” katanya.
AREBI Jawa Tengah pun mendorong pelaku bisnis dan investor untuk melihat Purwokerto dan Banyumas sebagai salah satu daerah potensial untuk pengembangan usaha.
Menurut William, pertumbuhan berbagai sektor di Banyumas dapat menciptakan kebutuhan baru terhadap hunian maupun properti komersial.
Bidik Generasi Z dan Kebutuhan Rumah Anak Muda
AREBI juga menaruh perhatian terhadap perubahan karakter konsumen, termasuk meningkatnya kebutuhan generasi muda terhadap hunian.
Sebagai organisasi yang menaungi tenaga pemasaran properti, AREBI berupaya membaca perubahan kebutuhan pasar untuk kemudian menjadi masukan bagi pengembang dalam merancang produk properti.
William mengatakan kebutuhan generasi muda tidak dapat disamakan dengan generasi sebelumnya. Faktor harga, skema pembayaran, lokasi, fasilitas, hingga desain hunian menjadi pertimbangan penting bagi konsumen muda.
“Kami sebagai tenaga pemasar juga melihat seperti apa minat market saat ini. Kami bisa memberikan masukan kepada developer atau pengembang mengenai apa yang menarik bagi pasar,” katanya.
Masukan tersebut, lanjut William, dapat mencakup harga, cara pembayaran, maupun kebutuhan masyarakat terhadap rumah yang sesuai dengan kemampuan dan gaya hidup generasi muda.
“Baik target market Gen Z maupun target market lainnya, kami berusaha melihat apa yang menjadi kebutuhan mereka,” ujarnya.
AREBI Siapkan Penguatan Organisasi di Purwokerto
Selain membahas sertifikasi dan potensi pasar, AREBI Jawa Tengah juga tengah mempersiapkan penguatan organisasi di wilayah Purwokerto dan Banyumas.
William mengatakan pihaknya sedang membentuk struktur persiapan untuk menghadirkan DPC AREBI di Purwokerto. Kehadiran organisasi di tingkat daerah tersebut diharapkan dapat menjadi wadah bagi para pelaku broker properti di Banyumas dan wilayah sekitarnya.
“Di Purwokerto sendiri kami tengah membentuk persiapan untuk DPD Purwokerto, sehingga ke depan kami bisa memiliki DPC di area Purwokerto,” katanya.
Menurut dia, pembentukan organisasi tersebut diperlukan agar kebutuhan anggota di wilayah Purwokerto, Banyumas hingga kawasan selatan Jawa Tengah dapat lebih terakomodasi.
Kegiatan GAMBRENG di Purwokerto pun diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertemuan, tetapi menjadi awal dari penguatan jejaring, peningkatan kompetensi, serta kolaborasi antar pelaku industri properti.
Dengan meningkatnya investasi, pertumbuhan kawasan industri dan kebutuhan hunian, AREBI melihat Jawa Tengah, termasuk Banyumas, memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Namun, pertumbuhan tersebut dinilai harus diimbangi dengan profesionalisme pelaku usaha agar kepercayaan masyarakat terhadap industri broker properti semakin kuat.