Ketika Tingwe Menjadi Budaya dan Perlawanan Ekonomi

Oleh: Mahin Al Hasan,
Mahasiswa plus Penjaga Kios Tingwe di Purwokerto

Ada pemandangan yang makin lazim terlihat di warung kopi, pos ronda, hingga sudut kafe di kota-kota kecil Jawa Tengah. Seseorang mengeluarkan kertas tik dan tembakau, lalu melinting rokoknya sendiri. Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin terlihat biasa. Namun, di balik lintingan sederhana itu, tersimpan cerita tentang tekanan ekonomi, kebangkitan budaya, dan cara masyarakat menyiasati kenaikan harga rokok.

Kebiasaan tersebut dikenal dengan istilah tingwe, singkatan dari linting dewe atau melinting sendiri. Jika dahulu tingwe identik dengan orang tua di desa atau pekerja yang ingin berhemat, kini penggemarnya semakin beragam. Anak muda, mahasiswa, hingga karyawan kantoran mulai melirik cara lama ini. Bagi mereka, tingwe bukan sekadar nostalgia, melainkan pilihan yang dianggap lebih ramah di kantong.

Salah satu pemicunya adalah kenaikan harga rokok pabrikan seiring kebijakan tarif cukai hasil tembakau. Ketika harga rokok terus naik, sementara kebutuhan pokok ikut membebani pengeluaran dan upah tidak selalu meningkat sebanding, perokok harus menghitung ulang belanjanya. Bagi perokok yang menghabiskan banyak batang setiap hari, selisih harga bisa menjadi pengeluaran bulanan yang cukup besar. Melinting sendiri pun muncul sebagai alternatif untuk menekan biaya.

Dari sisi pengeluaran, tingwe memang menawarkan peluang penghematan. Tembakau iris, kertas tik, dan filter dibeli secara terpisah sehingga pengguna bisa mengatur takaran sesuai kebiasaan. Dengan racikan yang tepat, biaya per batang dapat lebih rendah dibandingkan rokok kemasan. Penghematan inilah yang membuat tingwe menarik bagi masyarakat kelas menengah ke bawah maupun anak muda yang harus membagi penghasilan untuk makan, transportasi, dan kebutuhan lainnya.

Saya melihat perubahan tersebut secara langsung saat bekerja paruh waktu di Pandawa Tobacco, sebuah toko tembakau di Purwokerto. Pelanggan yang datang membeli tembakau iris kini semakin beragam. Tidak hanya bapak-bapak berusia matang, tetapi juga wajah-wajah muda yang mulai belajar memilih tembakau, mencoba berbagai varian, dan mempraktikkan cara melinting yang benar. Sebagian datang karena tidak lagi sanggup membeli rokok kemasan, sementara yang lain tertarik pada kebebasan meracik tembakau sendiri atau menjadikan tingwe sebagai bagian dari gaya hidup.

Di balik pilihan itu, ada rasa keberatan terhadap harga rokok yang dianggap semakin sulit dijangkau. Tingwe kemudian dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan ekonomi dalam skala kecil. Tanpa demonstrasi atau slogan, konsumen menunjukkan pilihan dengan beralih dari produk pabrikan ke lintingan sendiri. Meski tidak serta-merta mengubah kebijakan cukai maupun struktur industri rokok, perubahan kebiasaan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat berusaha mengambil kendali atas pengeluarannya sendiri.

Cerita tentang tingwe juga kerap dikaitkan dengan Jenderal Soedirman. Dalam ingatan kolektif sebagian masyarakat Jawa, Panglima Besar tersebut dikenal memiliki kebiasaan melinting tembakau sendiri. Kisah itu sering dimaknai sebagai simbol kemandirian dan penolakan terhadap ketergantungan pada produk pabrikan, terutama yang diasosiasikan dengan kepentingan kolonial dan modal besar. Meski demikian, detail historis mengenai kebiasaan tersebut perlu disikapi secara hati-hati karena tidak semuanya didukung dokumentasi primer yang kuat. Terlepas dari benar tidaknya setiap cerita, sosok Soedirman telah menjadi simbol yang memberi makna perjuangan pada kebiasaan tingwe.

Selain faktor ekonomi, tingwe menyimpan nilai budaya berupa keterampilan yang diwariskan secara informal. Ada proses dalam meratakan tembakau, mengatur kepadatan, hingga menggulung kertas agar menghasilkan lintingan yang rapi. Keterampilan itu bisa dipelajari dari orang tua, teman, atau sesama penggemar tingwe. Di tengah kebiasaan mengonsumsi produk siap pakai, aktivitas ini menghadirkan kembali pengetahuan sederhana yang sebelumnya akrab dalam kehidupan masyarakat.

Meningkatnya minat terhadap tingwe juga membuka peluang bagi ekonomi mikro. Petani tembakau, produsen kertas tik, peracik tembakau, hingga pedagang eceran ikut merasakan perputaran uang dari aktivitas tersebut. Di Banyumas dan sekitarnya, yang memiliki hubungan panjang dengan budidaya tembakau dan tradisi rokok lintingan, perkembangan ini dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha kecil. Sebagian pengeluaran konsumen yang sebelumnya masuk ke produk rokok pabrikan kini berpotensi mengalir melalui rantai usaha lokal, meskipun dampaknya tentu tidak otomatis besar atau merata.

Bagi saya, yang setiap hari berhadapan dengan pelanggan di Pandawa Tobacco, tingwe menggambarkan cara masyarakat bernegosiasi dengan keadaan. Mereka tidak selalu bisa menunggu harga turun atau pendapatan meningkat. Sebagian memilih menyesuaikan kebiasaan, mengatur pengeluaran, dan menghidupkan kembali keterampilan lama. Dalam bahasa sehari-hari, mereka sedang bersiasat: mencari cara untuk bertahan tanpa kehilangan rasa mandiri.

Di Purwokerto, percakapan tentang harga rokok kerap menjadi pembuka obrolan di toko tembakau. Keluhan biasanya berakhir dengan pertanyaan sederhana, “Jadi ambil yang mana, Mas?” Dari situ terlihat bahwa persoalan ekonomi tidak hanya hadir dalam grafik dan angka statistik, tetapi juga dalam keputusan kecil sehari-hari. Bagi sebagian pelanggan, sebungkus tembakau iris menjadi cara untuk menghemat uang sekaligus mengekspresikan pilihan hidup. Ada pula yang menghubungkannya dengan kisah Soedirman sebagai simbol kemandirian.

Selama harga rokok tetap menjadi beban bagi sebagian konsumen, tingwe mungkin akan terus menemukan penggemarnya. Namun, penghematan dan nilai budaya tidak boleh menutupi satu hal penting: tingwe bukan berarti bebas risiko kesehatan. Tembakau linting tetap mengandung nikotin dan zat berbahaya, sehingga tidak dapat dianggap sebagai pilihan yang aman. Pada akhirnya, fenomena tingwe memperlihatkan cara masyarakat menyiasati tekanan ekonomi, merawat keterampilan lama, dan memaknai kemandirian. Ia bukan jawaban atas seluruh persoalan ekonomi, tetapi menjadi potret kecil tentang bagaimana orang berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.