Bupati Banyumas Ajak Semua Elemen Bersatu Cegah LGBT, Narkoba, dan Perkuat Pendidikan Karakter

PURWOKERTO – Bupati Banyumas Sadewo Trilastiono mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan masyarakat Banyumas yang sehat, baik secara fisik, mental, maupun moral. Ajakan itu disampaikan saat menghadiri sarasehan bersama MUI dan sejumlah Ormas bertema “Komitmen Bersama Mewujudkan Masyarakat Banyumas yang Lebih Sehat”, Jumat 24 Juli 2026.

Dalam sambutannya, Sadewo menegaskan bahwa persoalan LGBT, penyalahgunaan narkoba, hingga perilaku seks bebas menjadi tantangan sosial yang memerlukan penanganan bersama.

Menurutnya, upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah maupun tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, hingga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

“Saya tadi berdiskusi dengan Ketua MUI dan Pak Sekda. Menurut saya semua agama menolak LGBT. Saya punya usul, mungkin FKUB bisa menginisiasi mengundang semua agama untuk bersama-sama menyatakan komitmen seperti yang dilakukan MUI. Ormas-ormas juga perlu dilibatkan,” kata Sadewo.

Ia bahkan menyatakan Pemerintah Kabupaten Banyumas siap memfasilitasi kegiatan tersebut meskipun saat ini pemerintah tengah melakukan efisiensi anggaran.

“Kalau untuk kegiatan seperti ini, efisiensi tidak masalah. Kegiatan lain bisa dipotong, tetapi untuk penguatan moral masyarakat harus tetap kita dukung,” ujarnya.

Apresiasi kepada MUI dan KPA Banyumas

Pada kesempatan itu, Sadewo menyampaikan apresiasi kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyumas yang telah menggagas sarasehan tersebut. Ia juga mengapresiasi kerja sama berbagai pihak, termasuk Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Banyumas, dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Saya mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran MUI Banyumas yang telah bekerja keras bersama berbagai pihak, termasuk Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Banyumas, sehingga kegiatan ini dapat terlaksana,” katanya.

Soroti Fenomena Pergaulan Remaja

Sadewo mengaku prihatin terhadap fenomena pergaulan remaja yang menurutnya mulai menunjukkan perubahan perilaku. Ia mengaku beberapa kali melihat pasangan sesama jenis menunjukkan kemesraan di ruang publik.

“Saya melihat sendiri di pusat perbelanjaan atau bioskop, dari gestur, cara saling menyentuh, sampai perilakunya seperti orang berpacaran. Menurut saya ini sudah menjadi gaya hidup dan merupakan perilaku penyimpangan,” ujarnya.

Meski demikian, Sadewo membedakan antara orang yang mengalami kondisi bawaan sejak lahir dengan mereka yang menurutnya dipengaruhi lingkungan.

Ia mengaku memiliki pengalaman menangani pembinaan remaja melalui Pondok Pesantren yang selama ini digunakan sebagai tempat rehabilitasi berbagai kenakalan remaja, termasuk penyalahgunaan narkoba.

“Ada anak yang dititipkan orang tuanya karena perilakunya seperti itu. Setelah dibina satu sampai dua tahun dengan pendekatan agama dan moral, perilakunya berubah menjadi normal,” katanya.

Sadewo juga menyinggung pengalaman pembinaan terhadap kelompok waria di kawasan kampung Sri Rahayu, yang dahulu dikenal sebagai kawasan lokalisasi.

“Dulu ada pembinaan agama di sana bersama warga. Sekarang mereka sudah tidak lagi menjadi waria yang menjajakan diri. Yang saya lihat, dengan pemahaman agama dan moral mereka bisa berubah,” ujarnya.

Dorong Kembalinya Pendidikan Budi Pekerti

Selain penguatan pendidikan agama, Sadewo mengusulkan agar pendidikan budi pekerti kembali diperkuat di sekolah dasar.

Menurutnya, pelajaran agama lebih menitikberatkan hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan budi pekerti membentuk hubungan antarsesama manusia.

“Dulu waktu saya SD ada pelajaran budi pekerti. Kalau agama itu sifatnya vertikal kepada Allah, sedangkan budi pekerti mengajarkan hubungan horizontal dengan sesama manusia. Saya berharap kalau memungkinkan, pelajaran budi pekerti bisa dimasifkan lagi di Banyumas,” katanya.

Pencegahan HIV/AIDS Harus Dimulai dari Keluarga

Sadewo mengatakan remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap berbagai persoalan kesehatan reproduksi, infeksi menular seksual, hingga HIV/AIDS apabila tidak dibekali pengetahuan yang benar serta pondasi moral yang kuat.

Karena itu, ia menilai pencegahan HIV/AIDS tidak cukup hanya melalui pelayanan kesehatan.

“Orang tua harus membangun komunikasi yang baik dengan anak-anaknya. Sekolah harus terus menanamkan pendidikan karakter. Tokoh agama memiliki peran strategis memberikan tuntunan moral dan spiritual. Pemerintah juga akan memperkuat edukasi, pendampingan, serta layanan kesehatan yang mudah diakses masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan peran MUI sangat penting dalam memperkuat iman dan akhlak generasi muda.

“Penguatan iman dan akhlak bukan hanya menjadi bekal kehidupan spiritual, tetapi juga benteng yang melindungi generasi muda dari berbagai perilaku menyimpang yang berisiko,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Sadewo mengungkapkan dirinya sedang meminta data mengenai kecamatan-kecamatan dengan tingkat penyalahgunaan narkoba yang tinggi.

Data tersebut akan digunakan untuk mengkaji kemungkinan adanya hubungan antara penyalahgunaan narkoba dengan meningkatnya kasus kehamilan usia dini.

“Saya sedang meminta data kecamatan mana yang banyak penyalahgunaan narkoba. Apakah ada korelasinya dengan kehamilan usia dini. Karena biasanya penggunaan narkoba larinya ke seks bebas. Datanya masih saya tunggu,” katanya.

Ia menambahkan bahwa bahaya narkoba tidak hanya berupa zat adiktif, tetapi juga kecanduan terhadap teknologi digital.

“Saya selalu mengatakan narkoba bukan hanya obat-obatan. Kecanduan gadget juga merupakan bentuk ketergantungan yang harus kita waspadai,” ujar Sadewo.

Menutup sambutannya, Bupati berharap sarasehan tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menghasilkan komitmen nyata seluruh elemen masyarakat untuk membangun Banyumas yang sehat, berkarakter, serta mampu melindungi generasi muda dari penyalahgunaan narkoba, HIV/AIDS, dan berbagai persoalan sosial lainnya.