Tak Lagi Kenakan Sepatu Robek, Nur Rokhmah Kini Bisa Tersenyum Bahagia dengan Sepatu Baru

PURBALINGGA – Pagi itu, embun masih menggantung di lereng perbukitan Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu. Jalan setapak yang naik turun membelah hamparan kebun dan sawah menjadi saksi langkah kecil seorang gadis berusia 11 tahun yang tak pernah lelah mengejar cita-citanya. Namanya Nur Rokhmah.

Siswi kelas VI SD Negeri 1 Jingkang itu setiap hari berjalan kaki dari rumahnya di Dusun Menganti RT 01/RW 02 menuju sekolah. Perjalanan yang ia tempuh bukanlah jalan datar. Kontur wilayah Jingkang yang berada di kaki Gunung Slamet membuatnya harus melewati tanjakan dan turunan khas perbukitan.

Namun, medan berat bukanlah satu-satunya tantangan yang dihadapi Nurrohmah. Putri pasangan Daryono dan Sumyati ini tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi. Sang ibu bekerja serabutan sekaligus menjadi buruh tani, sementara ayahnya mencari nafkah sebagai pekerja bangunan di luar kota.

Di tengah kondisi tersebut, Nurrohmah hanya memiliki sepasang sepatu sekolah yang sudah sangat tidak layak pakai. Solnya telah menganga dan bagian depannya robek hingga ibu jari kakinya terlihat saat berjalan.

Ketika hujan deras mengguyur kawasan Karangjambu, sepatu itu tak lagi mampu melindungi kakinya. Tak jarang, ia terpaksa mengenakan sandal jepit untuk berangkat ke sekolah. Bahkan, jika hujan turun saat jam pulang sekolah, Nurrohmah kerap meninggalkan sepatu dan tas sekolahnya yang lusuh—yang telah berkali-kali dijahit—di sekolah agar tidak basah dan tetap bisa digunakan keesokan harinya.

Keterbatasan itu tak pernah memadamkan semangat belajarnya. Di mata para guru, Nur Rokhmah dikenal sebagai sosok yang cerdas, tekun, dan pantang menyerah. Ia selalu meraih peringkat pertama di kelas.

Guru SD Negeri 1 Jingkang, Kholifah, mengatakan Nurrohmah merupakan murid berprestasi yang tetap menunjukkan semangat belajar tinggi meski hidup dalam keterbatasan.

“Nurrohmah adalah anak yang cerdas dan selalu meraih peringkat pertama di kelas. Dia juga menjadi salah satu penyumbang piala terbanyak bagi sekolah. Namun, di balik prestasinya, Nurrohmah mengalami keterbatasan finansial yang cukup berat,” ujar Kholifah.

Prestasinya tidak hanya berhenti di ruang belajar. Berbagai piala hasil kejuaraan tingkat kecamatan hingga kabupaten kini memenuhi lemari prestasi sekolah. Baginya, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Kisah perjuangan Nurrohmah pun mengetuk hati banyak orang, termasuk komunitas sosial Sedekah Sepatu. Founder Sedekah Sepatu, Yuspita Anjar Palupi menyalurkan bantuan berupa sepatu sekolah baru untuk Nur Rokhmah dan puluhan anak-anak SDN 1 Jingkang yang lain. Menurut Yuspita, sepatu merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar anak-anak dapat belajar dengan nyaman.

“Sepatu mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi anak-anak di daerah pedesaan, sepatu adalah bagian penting dari perjalanan mereka meraih masa depan. Jangan sampai mimpi anak-anak hebat ini terhalang hanya karena keterbatasan ekonomi dan kurangnya perlengkapan sekolah,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak pihak yang peduli terhadap anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu. Di balik sepatu yang robek dan tas yang penuh jahitan, tersimpan semangat besar yang terus menyala.

Langkah kecil Nur Rokhmah di jalanan berbukit kaki Gunung Slamet menjadi pengingat bahwa masa depan tidak ditentukan oleh seberapa lengkap fasilitas yang dimiliki, melainkan oleh seberapa kuat tekad untuk terus melangkah.

Dan hari itu, ketika sepasang sepatu baru dikenakannya, senyum Nur Rokhmah merekah.

Sebab, bagi sebagian anak, sepatu bukan sekadar alas kaki. Sepatu adalah harapan.(*)