Jelang Idul Adha, Pedagang Alat Panggang Obral Bonus Pisau 

BANYUMAS – Suasana riuh dan padat merayap menyelimuti Pasar Hewan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada H-1 menjelang Hari Raya Idul Adha. Di tengah deru suara ternak dan transaksi sapi serta kambing, terselip geliat menggiurkan dari para pedagang musiman. Salah satunya adalah pedagang alat pemanggang tradisional atau anglo.

Demi memikat hati para pemburu alat bakaran sate, strategi marketing kreatif pun dimainkan. Ahmad Subaryo, seorang pedagang anglo di Pasar Ajibarang, sengaja menerapkan trik khusus dengan memberikan bonus pisau dapur gratis untuk setiap pembelian satu unit alat panggang.

​Pantauan langsung di lokasi pada H-1 Idul Adha menunjukkan lapak milik Ahmad ramai dikunjungi warga yang berburu perlengkapan untuk mengolah daging kurban besok.

Trik Bonus Pisau dan Potongan Harga

Ahmad Subaryo menceritakan bahwa kompetisi berdagang di momen menjelang Idul Adha menuntutnya untuk lebih adaptif. Jika pada hari biasa ia menjual barang secara satuan tanpa pemanis, khusus menyambut hari raya ini, ia memberikan paket bundel yang sulit ditolak konsumen.

“Sebelumnya enggak ada bonus. Coba kalau saya jual ini kan satuan ya. Karena hari ini kan besok sudah Idul Adha, hari besar, jadi bonusnya pas momen ini,” ujar Ahmad saat diwawancarai di Pasar Hewan Ajibarang.

Tidak hanya memberikan bonus pisau, Ahmad juga melakukan penyesuaian harga demi menarik minat pembeli secepat mungkin. Dari stok awal satu lusin (12 unit) anglo yang ia bawa, dagangannya menyusut drastis hingga menyisakan 3 unit saja jelang siang hari.

​”Kita jual ini standar harga rata-rata Rp30.000. Dari kita awalnya menawarkan Rp35.000, terus jadi Rp30.000. Nah, terus pisau ini kalau saya jual eceran kan Rp15.000. Ya sudahlah, untuk bonus saja, beli anglo Rp30.000 langsung dikasih (bonus pisau),” tambahnya dengan senyum sumringah.

​Omzet Idul Adha vs Hari Biasa

​Saat ditanya mengenai perbandingan keuntungan antara momen Idul Adha dengan hari-hari biasa, Ahmad mengaku bahwa pasar selalu fluktuatif. Baginya, momentum hari besar keagamaan seperti ini memberikan jaminan pasar yang lebih pasti, meski secara keseluruhan omzetnya terbilang relatif stabil.

​”Kalau lakunya kita tergantung. Kalau pas hari biasa pun sebetulnya bisa ramai. Kalau pas hari besar gini, ya enggak ada lebih (lonjakan ekstrem) lah, menurut kita sama saja. Pas lagi kita ramai, ya ramai. Kalau sedang, ya sedang,” pungserr Ahmad bersahaja.

Bagi masyarakat Banyumas dan sekitarnya, kehadiran pedagang musiman seperti Ahmad Subaryo sangat membantu. Pasalnya, warga tidak perlu repot mencari alat kelengkapan kurban di tempat terpisah setelah mereka membeli hewan ternak di Pasar Ajibarang.