CILACAP – Pagi yang hangat, pada sebuah ruang sederhana, sejumlah warga, pemangku kepentingan, dan perwakilan berbagai sektor duduk melingkar. Bukan sekadar berdiskusi, mereka sedang merajut harapan, tentang masa depan Kutawaru yang lebih mandiri.
Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Kampoeng Kepiting, Sabtu (12/4/2026), Program Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku) binaan Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap kembali diteguhkan sebagai jalan bersama untuk bertumbuh. FGD ini menjadi ruang terbuka, tempat ide, masukan, dan gagasan bertemu, lalu dirangkai menjadi langkah nyata ke depan.
Bagi warga Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah, Mamaku bukan sekadar program. Ia adalah titik balik.
Dulu, tak sedikit warga menggantungkan hidup sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Anak Buah Kapal (ABK), jauh dari keluarga dan penuh ketidakpastian. Kini, perlahan keadaan berubah. Kesempatan itu hadir lebih dekat, di kampung sendiri.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU IV Cilacap, Agustiawan, menyebut Mamaku sebagai wujud nyata komitmen pemberdayaan yang dibangun bersama masyarakat. Bahkan, program ini turut mengantarkan raihan PROPER Emas 2025.
“Di dalam Mamaku, ada banyak program unggulan yang terus berkembang. Mulai dari wisata bahari Kampoeng Kepiting, Bank Sampah Abhipraya, pasar mingguan Amarta, hingga P4S Kunang-kunang,” jelasnya.
Namun lebih dari sekadar daftar program, Mamaku adalah cerita tentang perubahan. Tentang bagaimana masyarakat mulai melihat potensi di sekelilingnya, laut yang dulu biasa saja, kini menjadi daya tarik wisata. Kepiting yang dahulu sekadar hasil tangkapan, kini diolah menjadi kuliner bernilai ekonomi tinggi.
Melalui forum FGD ini, harapan itu kembali diperluas. Mamaku didorong tidak hanya menjadi program pemberdayaan, tetapi juga menjelma sebagai ikon wisata baru di Cilacap.
“Kepiting cangkang lunak bisa menjadi produk andalan. Tapi untuk berkembang, kita butuh sinergi semua pihak,” tambah Agustiawan.
Harapan serupa juga disampaikan Lurah Kutawaru, Edy Harjanto. Ia merasakan langsung perubahan yang terjadi di tengah masyarakatnya.
“Dukungan Pertamina sangat membantu kami dalam mengentaskan berbagai persoalan sosial. Warga sekarang punya peluang baru untuk berkembang,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah daerah, optimisme itu semakin menguat. Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Cilacap, Oktrivianto Subekti, optimistis Mamaku memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata unggulan. “Ini bukan sekadar program, tapi bisa menjadi identitas wisata khas Cilacap,” katanya.
Dukungan juga mengalir dari sektor pariwisata. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Cilacap, Amin Suwanto, menyatakan kesiapan untuk turut memromosikan Mamaku kepada para wisatawan.
“Kami siap menjadikan Mamaku sebagai salah satu destinasi yang direkomendasikan kepada tamu hotel,” tegasnya.
Kutawaru kini tidak lagi sekadar wilayah pesisir. Ia sedang bertransformasi, menjadi ruang hidup yang penuh peluang, tempat masyarakatnya bangkit dengan kekuatan sendiri. Melalui Mamaku, harapan itu tidak lagi jauh. Ia tumbuh, dari kampung kecil di tepi laut, untuk Cilacap yang lebih berdaya.