Pertunjukan Daglung “Dadhung Kepuntir” Angkat Fenomena Judi Online

Sanggar Seni Samudra Ajak Penonton Tertawa Sekaligus Berkaca 

PURWOKERTO — Di tengah gempuran hiburan digital dan semakin lekatnya masyarakat dengan gawai, panggung seni pertunjukan langsung masih memiliki daya tarik tersendiri. Hal itu coba dibuktikan Sanggar Seni Samudra melalui pementasan Daglung (Dagelan Calung) bertajuk “Dadhung Kepuntir” yang mengangkat fenomena sosial maraknya judi online.

Pementasan tersebut dijadwalkan berlangsung Jumat, 28 Agustus 2026, pukul 20.00 WIB di Aula SMP Negeri 5 Purwokerto. Sanggar Seni Samudra optimistis pertunjukan ini mampu kembali menghadirkan suasana hiburan langsung sekaligus menyampaikan kritik sosial melalui cara yang ringan dan menghibur.

Daglung menjadi salah satu pertunjukan unggulan Sanggar Seni Samudra. Konsepnya memadukan dagelan, musik, komedi tunggal, komedi kelompok hingga aksi sulap dalam satu panggung.

Pertunjukan itu semakin menarik karena menggabungkan kekuatan musik tradisional Banyumasan dengan instrumen modern. Alunan calung dipadukan dengan gitar dan keyboard sehingga menghasilkan warna musik yang tetap berakar pada tradisi, tetapi dikemas lebih modern dan dekat dengan selera penonton masa kini.

Sutradara sekaligus penulis naskah “Dadhung Kepuntir”, Setyo Wibowo, Rabu 26 Agustus 2026 mengatakan pementasan kali ini tidak sekadar mengejar tawa penonton. Di balik komedi yang disajikan, terdapat pesan sosial yang ingin disampaikan kepada masyarakat.

“Pertunjukan Daglung dengan naskah ‘Dadhung Kepuntir’ yang akan kami pentaskan pada Jumat, 28 Agustus 2026 ini merupakan pertunjukan komedi yang mengangkat realitas sosial tentang maraknya judi online di masyarakat,” ujar Setyo Wibowo.

Menurut dia, fenomena judi online dipilih karena persoalan tersebut semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, kritik terhadap persoalan tersebut dikemas melalui komedi agar pesan yang disampaikan tidak terasa menggurui.

Setyo mengatakan penonton akan disuguhi komedi segar yang dipadukan dengan musik bernuansa Banyumasan. Garapan tersebut menjadi ciri khas Sanggar Seni Samudra dalam menjaga identitas lokal sekaligus memberikan sentuhan kreatif terhadap seni pertunjukan tradisional.

“Kami akan menyajikan komedi yang segar yang akan mengocok perut penonton, dengan iringan musik yang kental dengan warna Banyumasan, tentu dengan garapan modern yang khas Sanggar Seni Samudra,” katanya.

Pendekatan tersebut membuat “Dadhung Kepuntir” tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang refleksi. Penonton diajak menertawakan berbagai situasi yang diangkat dalam cerita sekaligus melihat kembali persoalan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar.

Targetkan Ribuan Penonton

Pimpinan produksi Sanggar Seni Samudra, Fajar Sukron Said alias Bangbeng, optimistis pementasan kali ini mendapat sambutan besar dari masyarakat.

Keyakinan tersebut tidak terlepas dari pengalaman pementasan sebelumnya yang mampu menarik perhatian masyarakat. Antusiasme penonton menunjukkan bahwa pertunjukan langsung masih memiliki tempat, meskipun masyarakat kini memiliki banyak pilihan hiburan melalui platform digital.

Bangbeng bahkan memperkirakan jumlah penonton dapat mencapai ribuan orang. Untuk mengantisipasi tingginya animo masyarakat, panitia telah menyiapkan tempat pertunjukan dengan kapasitas sekitar 1.000 penonton.

“Pementasan ini kemungkinan akan dipadati oleh ribuan penonton, selain karena pementasan ini akan diselenggarakan di sekitar markas Sanggar Seni Samudra, juga karena melihat animo penonton pada pementasan Sanggar Seni Samudra sebelumnya,” ungkap Bangbeng.

Menurutnya, kapasitas gedung menjadi salah satu pertimbangan penting agar masyarakat dapat menikmati pertunjukan dengan nyaman.

“Oleh sebab itu, panitia sudah menyiapkan gedung pertunjukan dengan kapasitas 1.000 penonton,” lanjutnya.

Merawat Seni Banyumasan

Kehadiran Daglung “Dadhung Kepuntir” juga menunjukkan bahwa seni tradisi tidak harus berhenti pada bentuk-bentuk lama. Tradisi dapat terus berkembang ketika mampu berdialog dengan kreativitas dan kebutuhan masyarakat.

Calung, sebagai salah satu identitas kesenian Banyumasan, ditempatkan sebagai bagian penting dalam pertunjukan. Namun, musik tradisional tersebut tidak berdiri sendiri. Ia dipertemukan dengan gitar, keyboard, komedi, sulap, serta konsep pertunjukan modern.

Perpaduan itu menjadi strategi Sanggar Seni Samudra untuk membuat seni tradisi tetap relevan di tengah perubahan pola hiburan masyarakat.

Panggung pertunjukan pun tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkesenian. Lebih jauh, panggung menjadi ruang perjumpaan masyarakat, tempat berbagi tawa, membangun interaksi dan sekaligus merawat identitas budaya lokal.

Melalui Daglung “Dadhung Kepuntir”, Sanggar Seni Samudra ingin menunjukkan bahwa seni Banyumasan dapat tampil segar tanpa kehilangan akar tradisinya.

Di saat hiburan digital membuat masyarakat dapat menikmati tontonan seorang diri melalui layar gawai, pertunjukan langsung menawarkan pengalaman berbeda. Penonton hadir dalam satu ruang, tertawa bersama, menikmati musik secara langsung, dan merasakan energi pertunjukan yang tidak sepenuhnya dapat digantikan layar.

“Dadhung Kepuntir” karena itu tidak sekadar mengajak masyarakat datang untuk mencari hiburan. Pertunjukan ini juga menjadi ajakan untuk kembali menghidupkan ruang-ruang kesenian sekaligus melihat berbagai persoalan sosial dari sudut pandang yang lebih ringan.

Daglung “Dadhung Kepuntir”

Jumat, 28 Agustus 2026

Pukul 20.00 WIB

Aula SMP Negeri 5 Purwokero

Pementasan: Sanggar Seni Samudra

Tertawa bersama, menikmati budaya Banyumasan, sekaligus bercermin pada realitas kehidupan.