Oleh: Rujito, M.Sos.
Konferensi Cabang (Konfercab) Muslimat NU Banyumas 2026 bukan sekadar agenda rutin lima tahunan organisasi. Di balik forum tersebut, ada denyut harapan besar tentang masa depan kaderisasi, arah gerakan perempuan Nahdliyin, hingga lahirnya kepemimpinan baru yang akan menentukan wajah Muslimat NU Banyumas lima tahun mendatang.
Sebagai jurnalis yang cukup lama mengikuti dinamika Nahdlatul Ulama di Banyumas, saya melihat Konfercab Muslimat kali ini memiliki atmosfer berbeda. Setidaknya sejak era kepemimpinan PCNU Banyumas di bawah KH Taefur Arofat hingga saat ini, denyut gerakan Muslimat selalu menjadi bagian penting dari kekuatan sosial NU Banyumas. Dari posisi sebagai pemerhati sekaligus warga NU, saya merasa perlu menuliskan beberapa catatan kecil menjelang Konfercab yang akan digelar pada Ahad Kliwon, 7 Juni 2026 tersebut.
Pertama, Konfercab harus menjadi euforia organisasi yang membahagiakan. Forum ini jangan dipahami sebatas ruang kompetisi politik internal, melainkan pesta kader yang penuh riang gembira. Terlebih, setelah kurang lebih lima periode kepemimpinan Hj. Laely Manshur yang begitu dominan dan nyaris tak tergantikan, wajar jika momentum pergantian kepemimpinan kali ini memunculkan antusiasme besar di kalangan kader.
Euforia itu justru sehat bagi organisasi. Artinya, Muslimat NU Banyumas masih hidup, bergerak, dan memiliki kader-kader yang peduli terhadap masa depan organisasi. Karena itu, seluruh proses konferensi seharusnya menjadi ruang ekspresi demokrasi yang menyenangkan, bukan ruang ketegangan yang justru menguras energi persaudaraan sesama kader.
Kedua, Konfercab harus menjadi penanda serius soal kaderisasi. Dalam organisasi sebesar Muslimat NU, pergantian kepemimpinan tidak bisa dipandang sebagai peristiwa biasa. Lahirnya pemimpin baru berarti memastikan proses kaderisasi berjalan di jalur yang benar. Organisasi yang sehat bukan organisasi yang bergantung pada satu figur, tetapi organisasi yang mampu melahirkan generasi penerus secara berkelanjutan.
Catatan sejarah Konfercab kali ini menurut saya harus dicetak tebal pada titik tersebut. Sebab regenerasi kepemimpinan adalah tanda bahwa organisasi terus tumbuh mengikuti zaman. Muslimat NU Banyumas membutuhkan energi baru, gagasan baru, dan cara pandang baru, tanpa kehilangan akar tradisi Nahdlatul Ulama yang menjadi fondasi utama gerakannya.
Ketiga, Konfercab harus steril dari intervensi dan praktik-praktik yang mencederai marwah organisasi. Potensi intervensi tentu selalu ada. Apalagi Muslimat NU dikenal sebagai salah satu badan otonom NU dengan tingkat loyalitas kader yang sangat tinggi. Dalam banyak survei sosial-politik, Muslimat sering dipandang sebagai kekuatan akar rumput yang solid dan memiliki pengaruh besar di masyarakat.
Karena itu, sangat mungkin ada banyak kepentingan yang mencoba mendekat atau bahkan memengaruhi proses konferensi. Entah atas nama politik, kekuasaan, maupun kepentingan pragmatis lainnya. Di titik inilah seluruh kader harus dewasa menjaga marwah organisasi. Money politic, tekanan kelompok tertentu, atau upaya saling menjatuhkan antarkader tidak boleh mendapat ruang sedikit pun dalam Konfercab Muslimat NU Banyumas.
Keempat, publik tentu berharap lahir pemimpin ideal yang mampu melanjutkan estafet kepemimpinan Muslimat NU Banyumas. Harus diakui, meneruskan kepemimpinan Hj. Laely Manshur setelah lima periode bukan pekerjaan ringan. Dibutuhkan sosok yang tidak hanya kuat secara administratif organisasi, tetapi juga memiliki ketokohan, kemampuan mengayomi kader, dan kepekaan membaca perkembangan zaman.
Pemimpin Muslimat NU Banyumas ke depan harus mampu menjadi “ibu organisasi” sekaligus pengendali arah gerakan perempuan Nahdliyin di Banyumas. Ia harus memiliki wibawa, jejaring luas lintas sektor, serta kemampuan membangun komunikasi yang sehat dengan banyak pihak. Sebab di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, Muslimat NU tidak cukup hanya besar secara jumlah, tetapi juga harus relevan, adaptif, dan tetap menjadi rumah nyaman bagi kader-kadernya.
*) Penulis adalah Jurnalis dan Dosen.