Korban Mandiri Taspen Tuntut Keadilan, Somasi Tak Ditanggapi Ratusan Keluarga Korban Siap Gelar Aksi

PURWOKERTO – Sejumlah spanduk berisi tuntutan keadilan dari pensiunan nasabah PT Bank Mandiri Taspen Cabang Purwokerto mulai bermunculan di berbagai titik strategis di Kabupaten Banyumas menjelang rencana aksi damai yang akan digelar pada Jumat, 26 Juni 2026.

Spanduk-spanduk tersebut terlihat terpasang di kawasan Kalibagor, Tanjung, Berkoh, hingga sepanjang Jalan Jenderal Soedirman. Salah satu pesan yang paling mencolok berbunyi, “Nasabah Bank Mandiri Taspen Bukan Sapi Perah. Dengarkan Jeritan Pensiunan, Berikanlah Kami Keadilan.”

Kemunculan spanduk itu menjadi bentuk penyampaian aspirasi para pensiunan yang mengaku terdampak dugaan kredit bermasalah dan tengah memperjuangkan penyelesaian atas persoalan yang mereka hadapi.

Kuasa hukum para pensiunan, H. Djoko Susanto, SH, mengatakan pemasangan spanduk merupakan bagian dari sosialisasi sekaligus konsolidasi menjelang aksi damai yang direncanakan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Menurutnya, persoalan yang dialami para pensiunan tidak hanya berkaitan dengan aspek administrasi kredit, tetapi juga berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi para korban.

“Sebagian pensiunan yang kami dampingi mengaku mengalami kesulitan ekonomi akibat persoalan kredit yang sedang dipersoalkan. Karena itu mereka berharap ada penyelesaian yang memberikan kepastian dan rasa keadilan,” ujar Djoko, Rabu 24 Juni 2026.

Ia menyebut sedikitnya 122 pensiunan telah memberikan kuasa hukum kepada tim pendamping untuk memperjuangkan penyelesaian kasus tersebut.

Menurut Djoko, berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari penyampaian pengaduan hingga pengiriman surat kepada sejumlah lembaga dan instansi terkait. Namun hingga saat ini para korban menilai belum memperoleh solusi yang dapat menjawab seluruh persoalan yang mereka hadapi.

Rencana aksi damai yang akan digelar pada 26 Juni mendatang diperkirakan melibatkan lebih banyak peserta dibandingkan kegiatan sebelumnya.

Tidak hanya para pensiunan, sejumlah anggota keluarga seperti pasangan, anak, hingga cucu disebut siap turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan moral.

Aksi tersebut direncanakan berlangsung dalam bentuk long march menuju kantor PT Bank Mandiri Taspen Cabang Purwokerto.

Kasus ini menjadi perhatian publik karena melibatkan para pensiunan dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari guru, anggota TNI dan Polri, aparatur sipil negara, pegawai rumah sakit, perangkat desa, hingga mantan pegawai perguruan tinggi.

Tim kuasa hukum mencatat terdapat 16 klaster profesi pensiunan yang saat ini tergabung dalam upaya perjuangan hukum tersebut.

Para pensiunan mengaku dana pensiun yang menjadi sumber penghidupan utama mereka mengalami pemotongan untuk pembayaran kredit yang saat ini sedang dipersoalkan.

Berdasarkan data yang dihimpun kuasa hukum, total kerugian yang diklaim para korban mencapai sekitar Rp25,86 miliar. Klaim tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari proses yang diperjuangkan oleh para korban melalui berbagai jalur yang tersedia.

Salah seorang pensiunan yang mengaku menjadi korban, Pujo (67), mengatakan kondisi ekonomi sejumlah pensiunan saat ini cukup berat karena harus memenuhi berbagai kebutuhan hidup di tengah kewajiban pembayaran yang masih berjalan.

Ia berharap persoalan tersebut dapat segera memperoleh penyelesaian sehingga para pensiunan dapat kembali menjalani masa pensiun dengan lebih tenang.

Kasus dugaan kredit bermasalah yang melibatkan sejumlah pensiunan nasabah ini kini terus menjadi sorotan masyarakat Banyumas. Selain menunggu perkembangan proses hukum terkait dugaan keterlibatan oknum tertentu, para korban juga berharap adanya langkah penyelesaian yang dapat memberikan kepastian bagi nasabah yang terdampak.

Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak PT Bank Mandiri Taspen Cabang Purwokerto terkait tuntutan yang disampaikan para pensiunan maupun rencana aksi damai yang akan digelar pada 26 Juni 2026. Wartawan mencoba mengkonfirmasi Kepala Cabang Purwokerto, Puguh Setiaris Wicaksono, melalui pesan singkat, namun belum mendapat jawaban. ***