Keteguhan Seorang Ulama, KH. Achsin Manaf Tetap Hadiri Lailatul Ijtima’ Meski Jalani Hemodialisis

BANYUMAS – Semangat berkhidmat di Nahdlatul Ulama tidak pernah surut meskipun harus menghadapi keterbatasan fisik. Hal itulah yang ditunjukkan oleh KH. Achsin Manaf, A.Md., Rois Syuriah Ranting NU Banjaranyar. Ia tetap istiqamah menghadiri dan mengisi Mau’idhoh Hasanah pada kegiatan Rutinan Lailatul Ijtima’ Ranting NU Banjaranyar meskipun menjalani terapi cuci darah (hemodialisis) dua kali setiap pekan.

Kegiatan yang diselenggarakan pada Malam Ahad Pon, Sabtu, 4 Juli 2026, di Rumah Abdul Qodir, RT 01/RW 04 Desa Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, berlangsung kekhidmatan dan dihadiri oleh jajaran Syuriah, Tanfidziyah, Banom, serta warga Nahdliyin Banjaranyar.

Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan Shohibul Bait yang menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan rutin tersebut sekaligus mengajak seluruh pengurus untuk terus menjaga tradisi keilmuan dan ukhuwah di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Memasuki acara inti, Kyai Tokhidin selaku Wakil Rois Syuriah Ranting NU Banjaranyar menyampaikan kajian Kitab Safinah pada pembahasan Bab Tanda-Tanda Baligh. Materi disampaikan secara sederhana namun mendalam sehingga mudah dipahami oleh seluruh peserta. Kajian tersebut menekankan pentingnya memahami hukum-hukum dasar fikih sebagai bekal kehidupan sehari-hari.

Suasana semakin khusyuk ketika Achmad Badrun Sumedi memimpin pembacaan Tahlil yang diikuti seluruh jamaah.

Puncak kegiatan diisi dengan Mau’idhoh Hasanah oleh KH. Achsin Manaf, A.Md. Dalam tausiyahnya beliau mengajak seluruh warga NU agar terus menjaga persatuan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta mempertahankan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Kehadiran beliau memberikan inspirasi tersendiri bagi jamaah.

Meski harus menjalani terapi cuci darah dua kali setiap minggu, semangat beliau untuk hadir membimbing umat tidak pernah surut. Keteladanan tersebut menjadi bukti bahwa pengabdian kepada agama dan organisasi dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Usai pengajian, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi program organisasi yang membahas berbagai agenda Ranting NU Banjaranyar, penguatan koordinasi antarbidang, serta peningkatan partisipasi warga dalam kegiatan keagamaan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi.

Sesi lain-lain dimanfaatkan sebagai ruang menyampaikan usulan dan informasi sebelum akhirnya acara ditutup dengan doa bersama.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan sebuah pesan inspiratif yang menjadi motivasi bagi seluruh pengurus dan warga Nahdliyin:

“Aset terbesar NU bukanlah sekadar jumlah anggotanya, melainkan potensi ekonomi dan jejaring sosial yang harus dikelola dengan amanah dan profesional.”

Rutinan Lailatil Ijtima’ diharapkan terus menjadi wadah mempererat silaturahmi, memperdalam ilmu agama, serta memperkuat sinergi seluruh pengurus dalam mewujudkan NU yang semakin bermanfaat bagi umat dan masyarakat.