Aliansi Masyarakat Banyumas Gelar Aksi Damai, Soroti Dugaan Kekerasan dan Intimidasi di Lingkungan Kampus

PURWOKERTO – Aliansi Masyarakat Banyumas Peduli Kampus Aman menggelar aksi damai sebagai bentuk protes atas dugaan kekerasan dan intimidasi terhadap seorang mahasiswa. Aksi yang berlangsung tertib ini dipusatkan di kawasan patung kuda kampus Unsoed, Selasa 28 April 2026, Aksi diikuti sekitar seribu peserta dari berbagai elemen masyarakat dari sejumlah wilayah di Banyumas.

Koordinator aksi, Azam Prasojo Kadar, menegaskan bahwa kehadiran massa merupakan bentuk solidaritas terhadap korban yang diduga mengalami perlakuan tidak adil.

“Kita datang karena ada kezaliman terhadap saudara kita, seorang mahasiswa yang diduga mengalami penganiayaan. Bahkan ada upaya untuk memaksa pengakuan atas sesuatu yang bukan menjadi urusan publik,” ujarnya di sela aksi.

Ia menjelaskan, aksi sempat mengalami penyesuaian waktu. Semula direncanakan dimulai pukul 13.00 WIB, namun diundur menjadi pukul 16.00 WIB sebagai bentuk penghormatan atas kunjungan Presiden Prabowo ke Banyumas.

“Dengan tajuk aksi damai, alhamdulillah kegiatan berjalan lancar, tertib, dan semua peserta saling menjaga kondusivitas,” tambahnya.

Dalam aksinya, massa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada publik dan pihak berwenang. Selain mendesak penanganan kasus secara cepat, transparan, dan tegas, aliansi juga berencana mendorong pembahasan persoalan ini ke tingkat nasional melalui audiensi di DPR RI.

“Kami tengah mengupayakan rapat dengar pendapat di Senayan agar persoalan ini mendapatkan perhatian serius dari perwakilan rakyat,” kata Azam.

Sementara itu, perwakilan Tribhata Banyumas, Nanang Sugiri, menyebut aksi ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat yang hadir atas dasar kepedulian kemanusiaan.

“Mereka datang bukan karena kepentingan tertentu, tapi karena panggilan nurani melihat adanya dugaan ketidakadilan,” ujarnya.

Nanang juga menyoroti dugaan adanya intimidasi oleh oknum yang disebut memiliki posisi penting. Menurutnya, tindakan tersebut mencerminkan ketidakprofesionalan dan tidak mencerminkan sikap kepemimpinan yang baik, terutama dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan akademik.

“Lingkungan kampus adalah ruang intelektual, bukan tempat kekerasan atau intimidasi. Kami menilai tindakan seperti itu sangat tidak elok,” tegasnya.

Ia bahkan meminta agar oknum yang terlibat diproses secara hukum dan diberikan sanksi tegas, termasuk pemecatan, guna menjaga marwah institusi pendidikan.

Dalam pernyataannya, Nanang mengingatkan pentingnya menjaga nama baik kampus yang memiliki nilai historis, termasuk semangat perjuangan Jenderal Sudirman sebagai simbol integritas dan keteladanan.

“Jangan sampai kampus kebanggaan masyarakat Banyumas tercoreng oleh perilaku segelintir oknum. Kampus harus tetap menjadi tempat yang aman untuk belajar dan mencari ilmu,” lanjutnya.

Aliansi juga mendesak pihak kepolisian, khususnya Polresta Banyumas, untuk segera menindaklanjuti laporan dan memastikan proses hukum berjalan objektif serta transparan.

Aksi yang berlangsung damai ini diakhiri dengan seruan bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal, di lingkungan kampus serta mendorong terciptanya ruang akademik yang aman dan berkeadilan.