PURWOKERTO — Kabupaten Banyumas membutuhkan iklim daerah yang kondusif, aman, nyaman, dan terbuka bagi seluruh elemen masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu prasyarat penting untuk mendorong pertumbuhan investasi, mengembangkan sektor pariwisata, menggerakkan UMKM, serta menjaga Banyumas sebagai daerah pendidikan yang ramah bagi pelajar dan mahasiswa.
Hal tersebut disampaikan Dimas Gustaman, Wakil Ketua Bidang Investasi Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Banyumas, menanggapi dinamika berbagai persoalan daerah dan rencana penyampaian aspirasi melalui aksi demonstrasi.
Menurut Dimas, Banyumas memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun, potensi tersebut perlu didukung oleh stabilitas sosial, kepastian hukum, pelayanan publik yang baik, serta komunikasi yang terbuka antara pemerintah, masyarakat, mahasiswa, dan dunia usaha.
“Bagi dunia usaha, iklim yang kondusif bukan semata-mata soal keamanan. Lebih dari itu, harus ada kepastian hukum, kepastian kebijakan, kemudahan berusaha, pelayanan publik yang transparan, serta hubungan yang sehat antara pemerintah dan masyarakat. Semua itu menjadi pertimbangan penting bagi investor ketika menentukan lokasi untuk menanamkan modalnya,” ujarnya.
Pertumbuhan Ekonomi Harus Diikuti Kepercayaan Investor
Dimas menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Kabupaten Banyumas pada 2025 tumbuh sebesar 5,97 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Banyumas memiliki momentum pertumbuhan yang perlu dijaga dan diperkuat.
Sementara itu, perekonomian Provinsi Jawa Tengah pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,71 persen secara tahunan (year-on-year), berdasarkan rilis BPS Provinsi Jawa Tengah pada 5 Agustus 2026.
“Angka pertumbuhan ekonomi ini harus kita maknai sebagai peluang sekaligus pekerjaan rumah. Kita perlu memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, berkembangnya UMKM, dan terbukanya kesempatan usaha baru,” kata Dimas.
Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang baik harus disertai upaya menjaga kepercayaan pelaku usaha. Investor membutuhkan lingkungan yang dapat diprediksi, sementara pengusaha lokal membutuhkan kepastian agar dapat mengembangkan usahanya dalam jangka panjang.
“Investasi tidak hanya datang karena potensi pasar atau sumber daya yang kita miliki. Investor juga mempertimbangkan kepastian regulasi, kualitas infrastruktur, ketersediaan tenaga kerja, keamanan, dan bagaimana persoalan-persoalan di daerah diselesaikan secara terbuka dan terukur,” jelasnya.
Karena itu, menurut Dimas, menjaga iklim investasi merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah perlu menghadirkan kebijakan yang konsisten dan pelayanan yang responsif, sedangkan masyarakat dan dunia usaha perlu membangun komunikasi yang konstruktif demi kepentingan Banyumas.
“Investasi yang baik bukan hanya dilihat dari berapa besar modal yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat. Kita ingin investor tumbuh, pengusaha lokal berkembang, pekerja memperoleh kesempatan, dan masyarakat merasakan peningkatan kesejahteraan,” jelasnya.
Menjaga Banyumas sebagai Rumah Bersama
Menutup keterangannya, Dimas mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menempatkan kepentingan jangka panjang Banyumas sebagai prioritas bersama.
Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, perbedaan tersebut harus dikelola melalui komunikasi, penghormatan terhadap hukum, dan kesediaan untuk mencari solusi.
“Banyumas adalah rumah kita bersama. Kita ingin daerah ini tumbuh secara ekonomi, maju dalam pendidikan, berkembang pariwisatanya, kuat UMKM-nya, dan tetap menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat maupun investor. Semua itu membutuhkan kerja sama, bukan saling meniadakan,” ujarnya.
Ia menegaskan, kondusivitas bukan berarti tidak boleh ada kritik, dan investasi bukan berarti kepentingan masyarakat boleh diabaikan. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan harus berjalan seiring dengan perlindungan hak masyarakat, kualitas pelayanan publik, dan kehidupan sosial yang sehat.
“Harapan saya, setiap persoalan di Banyumas dapat diselesaikan dengan kepala dingin, dialog yang terbuka, dan tindakan yang nyata. Kita harus menjaga ruang demokrasi, tetapi juga menjaga masa depan ekonomi daerah. Dengan begitu, Banyumas tidak hanya menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi, tetapi juga tempat yang membanggakan untuk ditinggali, belajar, bekerja, dan membangun masa depan,” pungkas Dimas Gustaman.