Kabinet Al-Iqtishod: Setahun Menata, Berkarya, dan Meninggalkan Jejak di Ma’had Aly Andalusia

Oleh: Hisyam Abdullah,
Demisioner DEMA, Mahasantri Mahad Aly Andalusia

SEBUAH kepengurusan selalu memiliki batas waktu. Ada saat ketika amanah diterima, program dirancang, persoalan dihadapi, hingga akhirnya seluruh tanggung jawab dikembalikan. Bagi DEMA Ma’had Aly Andalusia, momen itu datang pada Selasa (11/8/2026), ketika Kabinet Al-Iqtishod resmi mengakhiri masa khidmah setelah satu tahun dipimpin Khazmi Manatul Akhyar.

Dilantik pada 30 Juli 2025, Kabinet Al-Iqtishod sejak awal membawa gagasan menjadikan DEMA sebagai katalisator aktualisasi potensi mahasantri. Lima kementerian—Kemendagri, Kemenlu, Kemensos, Kominfo, serta Advokasi dan Kesejahteraan Mahasantri (Adkesma)—menjadi struktur utama untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam berbagai program. Di luar itu, dua Badan Semi Otonom (BSO), yakni Abna Al-Lughoh dan Abna Al-Maktabah, turut menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi bahasa dan literasi akademik.

Satu tahun kemudian, sejumlah program meninggalkan capaian yang cukup konkret. Tidak seluruh target memang berhasil diwujudkan secara sempurna, tetapi beberapa terobosan memberi warna baru dalam kehidupan kemahasantrian Ma’had Aly Andalusia.

Capaian Kabinet Al-Iqtishod 2025–2026

Beberapa capaian yang menjadi catatan penting selama satu periode antara lain:

  • Milad Ma’had Aly Andalusia
    Untuk pertama kalinya, DEMA menyelenggarakan Milad Ma’had Aly sebagai ruang memperkuat identitas kelembagaan, kebersamaan, dan rasa memiliki mahasantri terhadap almamater.
  • Program Ilqo Mufradat
    Program penguatan bahasa Arab bagi santri putra terlaksana 27 dari 28 kali atau 96,42 persen. Mahasantri yang memiliki kompetensi bahasa Arab diberi ruang untuk berkontribusi langsung dalam pembelajaran di lingkungan pesantren.
  • Mushohih Mauqufah Mahasantri Putri
    DEMA berhasil menghadirkan mushohih bagi mahasantri putri dalam kegiatan musyawarah mauqufah. Kehadiran tersebut menjadi upaya memperkuat tradisi diskusi dan kajian keilmuan.
  • Digitalisasi layanan kemahasantrian
    Penggunaan QRIS dalam program Jumat Berkah serta digitalisasi teknis peminjaman dan pengembalian buku menjadi langkah awal pemanfaatan teknologi dalam pelayanan organisasi.
  • Digitalisasi administrasi organisasi
    Pengarsipan dan pemantauan program kerja mulai menggunakan Google Drive dan Google Spreadsheets, sehingga dokumen dan perkembangan program lebih mudah dipantau serta terdokumentasi.
  • Penguatan branding Ma’had Aly
    Kolaborasi Kominfo, Kemenlu, dan Kemendagri menghasilkan delapan konten branding dan ilmiah dari target delapan konten atau 100 persen. Kemendagri juga merealisasikan empat video branding dari target empat video.
  • Ruang publikasi dan media sosial
    Sejumlah konten reels dan feed diproduksi untuk mendokumentasikan kegiatan sekaligus memperkenalkan kehidupan akademik dan potensi mahasantri kepada masyarakat.
  • Kolaborasi dan pengenalan Ma’had Aly ke publik
    Kemenlu menginisiasi kegiatan perlombaan yang menyasar pelajar dan dilengkapi webinar edukasi daring tentang teknologi dan komunikasi. Program ini menjadi salah satu upaya membawa aktivitas Ma’had Aly keluar dari ruang internal pesantren.
  • Pengembangan kepemimpinan mahasantri
    Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), Stadium General, Class Meeting, mading, kegiatan bahasa Arab, serta berbagai agenda internal menjadi ruang pembelajaran organisasi dan pengembangan kapasitas mahasantri.

Di balik capaian tersebut, Kabinet Al-Iqtishod juga mencatat sejumlah pekerjaan rumah. Dalam laporan pertanggungjawabannya, pengurus mengakui produktivitas dan inisiatif belum merata, sementara beberapa program belum terlaksana maksimal. Persoalan komitmen anggota, ketimpangan beban kerja, komunikasi, keterbatasan waktu karena kewajiban muthala’ah, hingga partisipasi mahasantri menjadi bagian dari evaluasi yang ditinggalkan untuk kepengurusan berikutnya.

Catatan tersebut justru menjadi bagian penting dari perjalanan satu tahun Kabinet Al-Iqtishod. Sebab, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program yang selesai, tetapi juga oleh keberanian untuk mengakui apa yang belum berjalan dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran. Program yang belum maksimal tidak harus menjadi kegagalan, selama pengalaman tersebut dapat membantu generasi berikutnya mengambil keputusan yang lebih baik.

Bagi Khazmi Manatul Akhyar dan jajaran pengurus, satu tahun kepengurusan juga menjadi proses belajar yang jauh melampaui urusan program kerja. Mengelola organisasi berarti belajar membagi waktu, menghadapi perbedaan, menjaga komunikasi, bekerja dalam keterbatasan, sekaligus memahami bahwa tidak semua hasil pengabdian selalu terlihat secara langsung.

Kini, estafet kepemimpinan telah berpindah kepada Kabinet Abreza di bawah Presiden DEMA Rafif Erol Zain. Sejumlah program peninggalan Kabinet Al-Iqtishod dapat diteruskan, dikembangkan, atau bahkan diperbaiki sesuai kebutuhan kepengurusan baru. Dengan demikian, pergantian kabinet tidak menjadi titik putus, melainkan bagian dari proses berkelanjutan dalam membangun kehidupan kemahasantrian di Ma’had Aly Andalusia.

Pada akhirnya, sebuah kabinet memang memiliki tanggal pelantikan dan tanggal demisioner. Namun, jejak kepengurusan tidak berhenti pada tanggal tersebut. Milad Ma’had Aly, ilqo mufradat, mushohih mauqufah, Abna Al-Lughoh, Abna Al-Maktabah, digitalisasi layanan, penguatan branding, hingga berbagai ruang kolaborasi menjadi bagian dari warisan yang dapat terus dikembangkan.

Kabinet Al-Iqtishod telah selesai menjalankan amanahnya. Yang tersisa bukan hanya laporan pertanggungjawaban, tetapi pengalaman satu generasi mahasantri yang pernah memilih untuk mengambil bagian dalam merawat dan mengembangkan Ma’had Aly Andalusia. Satu tahun telah selesai, tetapi estafet pengabdian belum berhenti.