BANYUMAS – Musim kemarau mulai berdampak serius di Desa Randegan, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Sedikitnya sekitar 1.190 warga yang tersebar di empat RW kini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan dan diperkirakan akan meluas apabila musim kemarau terus berlanjut.
Kepala Desa Randegan, Sarman, mengatakan wilayahnya memang sejak lama dikenal sebagai daerah yang rawan kekeringan setiap memasuki musim kemarau. Krisis air bersih hampir menjadi persoalan rutin yang harus dihadapi masyarakat setiap tahunnya.
“Randegan ini memang dari dulu terkenal dengan kekurangan air. Sudah sekitar dua bulan warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan untuk kebutuhan minum saja mereka harus mencari sumber air yang masih tersisa,” ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mengambil air dari sumber-sumber alami yang masih mengalir, seperti mata air di kawasan sawah maupun hutan. Namun debit air dari sumber tersebut terus menurun seiring kemarau yang semakin panjang.
“Warga mengambil air dari sumber di sawah dan di hutan yang masih mengeluarkan air. Tapi sekarang debitnya juga mulai berkurang,” katanya.
Pemerintah desa juga telah menerima bantuan distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun, bantuan tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga karena distribusi dilakukan secara bergiliran.
“Alhamdulillah sudah ada bantuan air bersih sekitar dua minggu terakhir, tetapi belum mencukupi karena kemungkinan banyak daerah lain yang juga membutuhkan,” jelasnya.
Sarman menjelaskan, apabila musim kemarau terus berlangsung, jumlah wilayah terdampak diperkirakan akan bertambah. Pada tahun-tahun sebelumnya, kekeringan bahkan dapat melanda enam hingga tujuh RW dari total 11 RW yang ada di Desa Randegan.
“Sementara ini baru empat RW, tetapi kalau kemarau terus berlanjut biasanya bisa sampai enam atau tujuh RW yang mengalami kesulitan air,” ungkapnya.
Meski demikian, beberapa wilayah seperti Grumbul Karang Katilayu masih relatif aman karena lokasinya lebih dekat dengan saluran air sehingga pasokan air masih tersedia.
Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan pemerintah desa untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya melalui pembangunan sumur bor. Namun, hasilnya belum optimal karena debit air yang keluar tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Sudah dibuat sumur bor, tetapi hasilnya kurang maksimal. Sekarang saat kemarau memang mulai keluar air, tetapi jumlahnya tetap tidak mencukupi kebutuhan warga,” kata Sarman.
Selain itu, pemerintah desa juga telah menyiapkan enam unit tandon air berkapasitas besar untuk mempermudah distribusi air bersih ke permukiman warga. Tandon tersebut diharapkan dapat mengurangi kesulitan warga yang selama ini harus mengangkut air menggunakan ember dari lokasi penyaluran.
“Kami sudah menyiapkan enam tandon besar. Tinggal nanti dipasang dan diisi agar distribusi air ke warga bisa lebih mudah,” jelasnya.
Sarman berharap distribusi bantuan air bersih dapat terus dilakukan selama musim kemarau berlangsung. Ia juga berharap adanya solusi jangka panjang berupa penambahan sumber air maupun pembangunan infrastruktur penyediaan air bersih agar krisis serupa tidak terus berulang setiap tahun.
“Harapan kami tentu ada solusi permanen. Karena hampir setiap musim kemarau warga Randegan selalu menghadapi persoalan yang sama, yakni kekurangan air bersih,” pungkasnya.
Ajukan Surat Permohonan Bantuan
Pemerintah Desa Randegan, Kecamatan Wangon, secara resmi mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas menyusul semakin sulitnya masyarakat mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Permohonan tersebut disampaikan melalui surat resmi Nomor 360/111/VIII/2026 tertanggal 5 Agustus 2026 yang ditandatangani Kepala Desa Randegan, Drs. H. Sarman. Dalam surat itu dijelaskan bahwa kekeringan yang terjadi akibat musim kemarau telah menyebabkan sejumlah wilayah di Desa Randegan mengalami krisis air bersih.
Tiga wilayah yang paling terdampak yakni RW 007, RW 010, dan RW 011. Berdasarkan hasil pendataan lapangan, sedikitnya 377 kepala keluarga (KK) atau 1.190 jiwa kini mengalami kesulitan memperoleh pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Rinciannya, RW 007 dihuni 143 KK dengan 456 jiwa, RW 010 sebanyak 104 KK dengan 328 jiwa, sedangkan RW 011 terdiri atas 130 KK dengan jumlah penduduk 406 jiwa. Seluruh wilayah tersebut masuk kategori terdampak kekeringan air bersih.
Dalam surat permohonan tersebut, Pemerintah Desa Randegan menyampaikan bahwa kondisi kekeringan membuat masyarakat kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan dasar seperti memasak, minum, mandi, mencuci, hingga sanitasi.
“Oleh karena itu, kami memohon bantuan pendistribusian air bersih dari BPBD Kabupaten Banyumas,” demikian isi permohonan yang ditujukan kepada Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas.