PURWOKERTO – Melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah menjadi tantangan nyata bagi pelaku usaha di berbagai sektor. Kondisi tersebut membuat pola konsumsi masyarakat berubah signifikan. Konsumen kini cenderung lebih selektif dalam membelanjakan uangnya, sehingga pelaku usaha dituntut untuk lebih adaptif dalam menentukan strategi pemasaran maupun penjualan.
Hal tersebut disampaikan CEO Aksara Semesta Investama sekaligus Wakil Ketua BPP HIPMI Institute, Brili Agung, yang mengamati langsung perubahan perilaku konsumen saat mengunjungi sejumlah unit usaha, mulai dari ritel minimarket, sektor makanan dan minuman (F&B), hingga agribisnis.
Menurut Brili, pembahasan mengenai melemahnya daya beli kelas menengah juga menjadi perhatian dalam berbagai diskusi bersama pelaku usaha yang tergabung dalam HIPMI maupun Kamar Dagang dan Industri (KADIN).
“Daya beli kelas menengah kita sedang tidak baik-baik saja. Bukan berarti masyarakat berhenti belanja, tetapi pola belanjanya berubah. Mereka kini jauh lebih berhitung sebelum mengeluarkan uang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsumen yang sebelumnya terbiasa membeli produk berukuran besar atau porsi jumbo kini lebih memilih produk dengan harga yang lebih terjangkau. Kondisi tersebut dipicu semakin terbatasnya dana yang tersedia untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Namun di sisi lain, Brili menilai masih banyak pelaku usaha yang belum mau menyesuaikan strategi bisnisnya. Sebagian tetap mempertahankan ukuran kemasan dan harga lama dengan alasan menjaga citra atau gengsi merek.
“Kalau penjualan turun dan stok menumpuk di gudang, jangan hanya menyalahkan keadaan. Dalam dunia usaha, gengsi tidak bisa dipakai untuk membayar gaji karyawan ataupun biaya operasional,” tegasnya.
Strategi “Paket Hemat” Dinilai Lebih Efektif
Brili menilai salah satu langkah paling realistis di tengah perlambatan daya beli adalah menerapkan strategi re-sizing, yakni menghadirkan produk dalam ukuran yang lebih kecil atau menawarkan paket hemat sesuai kemampuan konsumen.
Pada bisnis kuliner misalnya, menu dengan harga sekitar Rp40 ribu yang mulai sepi peminat dapat dibuat dalam versi mini dengan kisaran harga Rp18 ribu hingga Rp20 ribu.
Sementara pada sektor ritel maupun manufaktur, produk berukuran besar dapat dipecah menjadi kemasan ekonomis atau sachet yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
“Margin keuntungan memang mungkin lebih kecil, tetapi perputaran barang tetap berjalan. Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, menjaga arus kas tetap berputar jauh lebih penting dibanding menyimpan stok mahal yang tidak bergerak,” jelasnya.
Adaptasi Menjadi Kunci Bertahan
Brili mengakui strategi menghadirkan produk yang lebih ekonomis kerap memunculkan kekhawatiran akan turunnya citra sebuah merek. Namun menurutnya, ukuran keberhasilan sebuah bisnis bukan terletak pada tingginya harga produk, melainkan kemampuan perusahaan bertahan dan tetap menghasilkan keuntungan dalam berbagai situasi ekonomi.
“Reputasi bisnis tidak diukur dari seberapa mahal produk yang dijual, tetapi dari kemampuannya memberikan manfaat kepada konsumen dan tetap memperoleh profit secara berkelanjutan. Bisnis yang hebat bukan yang paling idealis, tetapi yang paling cepat beradaptasi dengan kondisi pasar,” katanya.
Ia pun mengajak para pelaku usaha untuk mulai mengevaluasi strategi pemasaran, ukuran kemasan, hingga struktur harga agar tetap sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini.
“Ketika isi dompet pelanggan berubah, maka strategi bisnis juga harus ikut berubah. Adaptasi bukan berarti menurunkan kualitas, melainkan menyesuaikan nilai produk dengan kemampuan pasar,” pungkasnya.