Ir H Sisno M.Si Kenalkan Metode Belajar Al-Qur’an yang Menyenangkan, Padukan Bermain, Sejarah, hingga Cinta Lingkungan

PURWOKERTO – Pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak tidak cukup hanya mengajarkan cara membaca huruf hijaiyah. Santri juga perlu dibimbing dengan metode yang menyenangkan, sesuai karakter anak, sehingga belajar menjadi pengalaman yang menggembirakan. Gagasan itu disampaikan Ir Sisno M. Si yang juga pendiri Yayasan Insan Aji Nusantara saat pengukuhan pengurus TPQ Banggakerti di Desa Kebanggan Kecamatan Sumbang, Selasa 22 Juli 2026.

Mantan Dosen Fakultas Pertanian Unsoed yang juga akrab disapa Mbah Sisno ini mengungkapkan, materi yang disiapkan tidak hanya mengajarkan membaca Al-Qur’an dari tingkat dasar hingga tafsir. Santri juga dibimbing memahami ilmu tajwid, cara menyambung bacaan, serta berbagai metode membaca Al-Qur’an secara bertahap.

“Pembelajaran Al-Qur’an itu mulai dari dasar sampai nanti kepada tafsir. Ada tajwid, bagaimana cara menyambung bacaan, jadi banyak sekali metode pembelajaran Al-Qur’an,” ujarnya.

Ia menilai karakter anak-anak tidak bisa dipaksa mengikuti metode belajar yang kaku. Sebaliknya, proses belajar harus dikemas melalui permainan, gambar, dan aktivitas yang membuat mereka merasa senang.

“Anak-anak tidak bisa begitu saja dipaksa. Mereka belajar dengan cara bermain,” katanya.

Untuk mendukung metode tersebut, Mbah Sisno menyusun buku pembelajaran bergambar. Isinya mengenalkan berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari buah-buahan, sayuran, nama-nama tanaman, bahasa Arab, hingga istilah ilmiah atau nama Latin tumbuhan.

Melalui pendekatan visual, anak-anak diharapkan lebih mudah mengenal ciptaan Allah sekaligus memahami manfaat berbagai tanaman bagi kehidupan.

Selain ilmu agama, buku tersebut juga mengenalkan sejarah para nabi. Materi awal memuat kisah Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama bagi umat Islam.

Tak hanya itu, Mbah Sisno juga memasukkan sejarah penyebaran Islam di Nusantara melalui kisah para Wali Songo. Pada tahap awal, ia menampilkan profil Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri yang dilengkapi ilustrasi agar lebih mudah dipahami anak-anak.

Materi kebangsaan juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Anak-anak dikenalkan kepada tokoh perjuangan nasional seperti Pangeran Diponegoro, Jenderal Soedirman, Presiden Soekarno, serta ulama pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari.

Menurutnya, pengenalan tokoh bangsa sejak dini penting agar anak memahami sejarah, menghargai jasa para pahlawan, serta memiliki rasa cinta terhadap Indonesia.

“Supaya mereka tahu siapa sebenarnya Diponegoro, siapa Sudirman, siapa Soekarno. Anak-anak harus mengenal tokoh bangsanya sendiri,” ungkapnya.

Mbah Sisno juga memberikan perhatian besar pada pendidikan lingkungan. Ia mengajak anak-anak mencintai alam melalui kegiatan menanam pohon dan mengenal berbagai jenis tanaman yang ada di sekitar mereka.

Menurutnya, menanam pohon bukan sekadar menjaga lingkungan, tetapi juga menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selama pohon tersebut memberi manfaat bagi makhluk hidup.

“Tanam satu kali, selama pohon itu hidup dan memberi manfaat, insya Allah pahalanya terus mengalir. Itu amal jariyah yang luar biasa,” tuturnya.

Ia berharap anak-anak memahami bahwa tumbuhan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan seluruh makhluk hidup. Karena itu, menjaga tanaman sama artinya menjaga kehidupan.

Selain materi akademik, Mbah Sisno menanamkan pendidikan karakter. Ia mengingatkan agar anak-anak tidak mudah bermusuhan dan selalu mencari manfaat dalam setiap persoalan.

“Jangan suka bermusuhan. Cari manfaatnya, bukan mencari hal-hal yang membuat kita saling tersinggung,” pesannya.

Untuk menciptakan suasana belajar yang ceria, Mbah Sisno juga merancang yel-yel yang akan diucapkan setiap awal pembelajaran. Setelah salam, guru dan santri saling menyemangati dengan sapaan penuh kasih.

Salah satu yel-yel tersebut berbunyi, “Bagaimana kondisi hari ini?” yang dijawab para santri dengan, “Sehat, kuat, bahagia selalu.” Guru kemudian membalas dengan kalimat motivasi agar anak-anak merasa dihargai dan semakin bersemangat mengikuti pelajaran.

Ia menegaskan, guru tidak seharusnya mendidik dengan kemarahan. Menurutnya, suasana belajar yang penuh kegembiraan akan membuat ilmu lebih mudah diterima oleh anak-anak.

“Kalau guru marah, hati anak menjadi gelisah. Tetapi kalau guru membuat mereka senang, anak-anak akan belajar dengan gembira. Anak kecil harus dilatih bahagia, bukan dilatih ketakutan,” kata Mbah Sisno.

Melalui metode tersebut, Mbah Sisno berharap lahir generasi Qurani yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, mencintai lingkungan, mengenal sejarah Islam dan bangsa, serta tumbuh menjadi pribadi yang bahagia dan bermanfaat bagi sesama.

Sementara itu tamu undangan Azam Prasojo Kadar SH dari Tribhata Banyumas mengaku terkesan dan mengapresiasi lembaga pendidikan non formal TPQ Banggakerti.

Menurutnya lembaga pendidikan tersebut mampu menterjemahkan kebutuhan pendidikan anak dan santri yang sesuai kearifan lokal.

Pada kesempatan itu ia juga memotivasi para ustad dan ustadzah yang selama ini berjuang mendidik para santri.

” Saya yakin lembaga pendidikan dan Balai Latihan Kerja dibawah Yayasan Insan Aji Nusantara dapat memberi manfaat terbaik bagi generasi muda, ” ungkapnya.