PURWOKERTO – Di balik suasana duka yang menyelimuti setiap rumah maupun rumah sakit, ada sosok yang bekerja dalam senyap. Ia memastikan orang yang telah meninggal dunia tampil rapi dan layak saat dilepas untuk terakhir kalinya oleh keluarga. Sosok itu adalah Lay Tekim (63), seorang perias jenazah yang telah mengabdikan hidupnya selama sekitar 40 tahun.
Bagi sebagian orang, pekerjaan merias jenazah terdengar menyeramkan. Namun bagi Lay Tekim, profesi tersebut justru lahir dari panggilan hati yang telah tumbuh sejak kecil.
“Sejak kecil saya memang senang melihat kegiatan pemakaman. Saya tidak pernah takut dengan jenazah. Mungkin memang sudah ada bakatnya,” ujarnya saat ditemui.
Selama puluhan tahun, ia telah menangani ratusan jenazah, mulai dari korban meninggal karena sakit, kecelakaan, hingga kasus pembunuhan. Semua diperlakukan dengan penghormatan yang sama.
“Jenazah apa pun saya layani. Baik kecelakaan, pembunuhan, maupun yang meninggal karena sakit. Semua tetap harus dihormati,” katanya.
Berawal dari Kecintaan Membantu Sesama
Lay Tekim mengaku awalnya pekerjaan tersebut bukan didorong oleh faktor ekonomi. Ia memang memiliki usaha toko. Namun rasa empati terhadap keluarga yang sedang berduka membuatnya bersedia membantu mempersiapkan jenazah.
Kini, menurutnya, mulai banyak orang yang mempelajari profesi perias jenazah karena alasan ekonomi.
“Sekarang banyak yang belajar make up jenazah karena kondisi ekonomi susah. Ada yang melayani secara gratis, ada juga yang menerima bayaran. Yang penting mereka membantu keluarga yang sedang berduka,” ujarnya.
Dalam menjalankan profesinya, Lay Tekim selalu mengikuti keinginan keluarga.
Jika keluarga menghendaki jenazah mengenakan jas lengkap dan dasi, maka akan dipakaikan jas. Jika menginginkan gaun, rok, maupun pakaian adat tertentu, semuanya disesuaikan.
“Semua tergantung permintaan keluarga. Kami hanya membantu agar almarhum atau almarhumah tampil sebagaimana yang diinginkan keluarganya.”
Pernah Mengalami Peristiwa yang Sulit Dijelaskan
Di antara ratusan jenazah yang pernah ditanganinya, ada satu pengalaman yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya.
Sekitar dua puluh tahun lalu, ia merias seorang nenek yang meninggal dunia. Saat proses make up berlangsung, air mata terus mengalir dari mata jenazah.
“Saya bingung. Sudah saya bersihkan berkali-kali, tetap keluar air mata,” kenangnya.
Ia kemudian menyampaikan hal tersebut kepada keluarga.
Belakangan diketahui, sebelum meninggal, jenazah sempat menjalani amputasi kaki di rumah sakit. Kaki yang diamputasi belum dimasukkan ke dalam peti jenazah.
“Setelah keluarga mengambil kaki yang diamputasi dan dimasukkan ke dalam peti, air mata itu berhenti keluar,” ujarnya.
Ia mengaku tidak dapat menjelaskan fenomena tersebut secara ilmiah, namun pengalaman itu menjadi salah satu peristiwa yang paling diingat selama menjadi perias jenazah.
Lay Tekim juga pernah menjumpai jenazah yang mengeluarkan darah kembali saat akan dimakamkan. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, hal tersebut sering dikaitkan dengan orang yang sangat dirindukan belum sempat datang.
“Saya tidak mengatakan itu pasti benar. Saya hanya menyampaikan pengalaman yang pernah saya alami di lapangan,” katanya.
Tak Pernah Takut dengan Jenazah
Meski setiap hari berhadapan dengan kematian, Lay Tekim mengaku tidak pernah mengalami gangguan mistis.
Ia justru menganggap pekerjaannya sebagai bentuk pelayanan kemanusiaan.
“Saya tidak pernah takut. Saya percaya semua manusia akan mengalami kematian. Cepat atau lambat kita semua akan pulang,” ujarnya.
Melayani Semua Agama dan Kepercayaan
Selama bertahun-tahun, Lay Tekim bekerja sama dengan penyedia layanan duka cita, mulai dari ambulans, peti jenazah hingga dekorasi pemakaman.
Ia melayani keluarga dari berbagai latar belakang agama maupun budaya, seperti Kristen, Katolik, Konghucu, Kejawen, hingga tradisi Tionghoa.
“Semua agama kami layani. Kami mengikuti tata cara dan permintaan keluarga masing-masing,” katanya.
Untuk keluarga yang masih menjalankan tradisi leluhur, ia juga membantu menyiapkan perlengkapan sembahyang atau sesaji sesuai permintaan.
Menurutnya, yang terpenting bukanlah kemewahan sesaji, melainkan penghormatan dan doa kepada orang yang telah meninggal.
“Yang paling penting adalah rasa bakti kepada orang tua dan leluhur.”
Tidak Memasang Tarif Tetap
Menariknya, Lay Tekim tidak pernah menetapkan tarif khusus untuk jasa merias jenazah.
Baginya, pekerjaan tersebut merupakan bentuk pelayanan sosial.
“Saya tidak memasang tarif. Seikhlasnya saja. Yang penting saya bisa membantu keluarga yang sedang berduka,” tuturnya.
Ia sendiri menyiapkan seluruh perlengkapan kosmetik, mulai dari foundation hingga perlengkapan make up lain yang disesuaikan dengan warna kulit jenazah.
Tantangan Merias Jenazah
Menurut Lay Tekim, tantangan terbesar adalah ketika harus merias korban kecelakaan dengan kondisi wajah rusak atau jenazah yang mengalami perubahan warna akibat penyakit tertentu.
“Kalau wajah hancur atau kulit sudah menghitam karena sakit jantung, tentu jauh lebih sulit.”
Selain itu, proses pembalseman juga harus memperhatikan urutan tertentu.
“Kalau bisa jenazah dirias dulu sebelum formalin diberikan. Setelah itu baru dibalsem supaya menunggu keluarga datang tetap dalam kondisi baik.”
Filosofi Kehidupan
Bagi Lay Tekim, pekerjaannya mengajarkan bahwa kehidupan manusia hanyalah sementara.
Ia meyakini tubuh hanyalah tempat bersemayamnya roh selama hidup di dunia.
“Semua orang pasti akan meninggal. Kita hanya menunggu giliran. Karena itu selama hidup harus berbuat baik kepada siapa pun.”
Ia juga menekankan pentingnya menghormati seluruh manusia tanpa membedakan suku, bangsa, maupun agama.
“Jangan membenci siapa pun. Semua manusia ciptaan Tuhan. Kita diciptakan untuk hidup berdampingan.”
Lay Tekim mengaku lahir dari keluarga penganut Konghucu.
Menurutnya, ajaran tersebut lebih menekankan kasih sayang terhadap seluruh makhluk hidup dan mengajarkan manusia untuk saling menghormati.
Sudah Menangani Ratusan Jenazah
Selama sekitar empat dekade mengabdi, Lay Tekim memperkirakan telah menangani lebih dari 150 hingga ratusan jenazah.
Ia juga melihat perubahan tradisi pemakaman di masyarakat.
Dulu, banyak keluarga memilih pemakaman sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua. Kini, semakin banyak keluarga yang memilih kremasi, terutama karena keterbatasan lahan pemakaman dan pertimbangan biaya.
“Sekarang banyak yang memilih kremasi. Selain tanah makam semakin mahal, generasi muda juga banyak yang sibuk sehingga sulit merawat makam.”
Meski telah berusia lebih dari 60 tahun, Lay Tekim mengaku belum berniat berhenti.
Selama masih diberi kesehatan, ia ingin terus membantu keluarga yang kehilangan orang tercinta.
“Bagi saya ini bukan sekadar pekerjaan. Ini pelayanan terakhir kepada sesama manusia sebelum mereka diantarkan ke peristirahatan terakhir,” pungkasnya.