Dari Puzzle ke Huruf Hijaiyah, Ikhtiar Dosen Telkom University Bantu Anak Berkebutuhan Khusus Belajar Al-Qur’an

Purwokerto, suarabanyumas.co.id – Belajar mengenal huruf hijaiyah bukanlah hal mudah bagi sebagian anak berkebutuhan khusus. Di ruang-ruang kelas Sekolah Luar Biasa (SLB), guru kerap menghadapi tantangan menjaga fokus siswa yang mudah bosan ketika pembelajaran masih mengandalkan buku, kartu, atau metode konvensional. Dari kegelisahan itulah, tim pengabdian masyarakat Telkom University Purwokerto menghadirkan sebuah inovasi sederhana namun sarat makna: media pembelajaran huruf hijaiyah berbasis puzzle.

Program bertajuk Implementasi Media Pembelajaran Huruf Hijaiyah bagi Siswa Tunagrahita Tingkat Ringan sebagai Upaya Pengembangan Pengalaman Belajar yang Menyenangkan ini menyasar siswa di SLB Negeri 2 Yogyakarta. Media tersebut dirancang untuk membantu anak-anak mengenal huruf hijaiyah melalui aktivitas bermain yang melibatkan sentuhan, gerakan tangan, dan pengalaman belajar yang lebih interaktif.

Ketua Tim Abdimas, Agatha Dinarah Sri Rumestri, S.T., M.Ds., menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari hasil riset desain produk yang kemudian dihilirisasikan menjadi solusi nyata bagi dunia pendidikan inklusif. Menurutnya, anak tunagrahita membutuhkan pendekatan pembelajaran yang berbeda, lebih konkret, dan mampu merangsang keterlibatan aktif selama proses belajar. Adapun abdimas ini beranggotakan : Dr. Pricilla Tamara, S.T., M.T; M. Lukman Leksono, S.Pd., M.Pd.; Alaysha Airin Varezky; Putri Nabila; Zaky Zainul Afandi,

“Banyak media pembelajaran yang tersedia masih bersifat umum dan belum sepenuhnya sesuai dengan karakteristik siswa tunagrahita ringan. Karena itu kami mencoba menghadirkan media yang tidak hanya mengajarkan huruf hijaiyah, tetapi juga melatih motorik halus, konsentrasi, dan kepercayaan diri siswa,” ujarnya.

Media puzzle tersebut memungkinkan siswa menyusun, mencocokkan, dan menelusuri bentuk huruf hijaiyah secara bertahap. Aktivitas belajar yang menyerupai permainan membuat proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan sekaligus membantu meningkatkan daya ingat visual dan koordinasi gerak anak.
Bagi guru, kehadiran media ini menjadi alternatif pembelajaran yang lebih adaptif. Selain mendapatkan produk pembelajaran, para pendidik juga memperoleh pendampingan penggunaan media sehingga dapat mengembangkan metode belajar yang lebih kreatif dan partisipatif di kelas.

Kepala SLB Negeri 2 Yogyakarta, Dyah Sulistiyawati, menyambut baik program tersebut. Ia menilai media pembelajaran berbasis pengalaman seperti puzzle mampu membantu siswa lebih fokus dan terlibat selama proses pembelajaran agama Islam.

“Kami berharap media seperti ini bisa terus dikembangkan karena sangat membantu siswa belajar melalui pengalaman langsung. Anak-anak menjadi lebih tertarik untuk mengenal huruf hijaiyah dan mengikuti pembelajaran dengan antusias,” katanya.

Program ini tidak berhenti pada penyerahan media semata. Tim pengabdian juga melakukan pelatihan, pendampingan, hingga evaluasi bersama guru untuk memastikan media benar-benar dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kegiatan belajar mengajar.

Lebih dari sekadar alat bantu belajar, puzzle huruf hijaiyah ini menjadi simbol bahwa pendidikan inklusif membutuhkan kreativitas dan kepedulian. Ketika inovasi bertemu dengan kebutuhan nyata di ruang kelas, anak-anak berkebutuhan khusus memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk belajar, tumbuh, dan mengenal Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan.

editor : a. abdul