Hasil Penelusuran Tim Tabayyun, Ketua MUI Banyumas Nilai ‘Sultan Nusantara’ Tak Paham Agama

PURWOKERTO – Polemik sosok yang mengaku sebagai “Sultan Nusantara” di Banyumas terus menjadi perhatian publik. Setelah melakukan proses tabayyun dan pendalaman terhadap sejumlah pihak, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas menyatakan belum menemukan indikasi kuat adanya unsur penistaan agama dalam kasus tersebut.

Namun demikian, hasil penelusuran sementara tim tabayyun justru mengarah pada penilaian bahwa sosok yang dikenal dengan sebutan “Sultan Nusantara” itu dinilai tidak memiliki pemahaman agama yang memadai.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Banyumas, Taefur Arofat, mengatakan pihaknya masih berhati-hati dalam menyikapi perkara tersebut karena proses klarifikasi belum sepenuhnya rampung.

“Tim memang sudah mendengarkan kedua belah pihak, tetapi belum ada laporan resmi lengkap kepada kami sehingga belum bisa ditarik kesimpulan final,” kata Taefur Arofat kepada wartawan, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, tim tabayyun telah meminta keterangan dari pihak yang merasa menjadi korban maupun dari pihak terlapor yang mengaku sebagai “Sultan Nusantara”. Dari proses itu, sejumlah pernyataan yang sebelumnya disampaikan pihak korban disebut dibantah oleh pihak terlapor.

Meski demikian, hasil pendalaman sementara justru memunculkan penilaian lain dari tim MUI Banyumas. Sejumlah pernyataan yang disampaikan sosok tersebut terkait ajaran agama dinilai tidak menunjukkan pemahaman keagamaan yang kuat.

“Tadi yang disampaikan tim, justru orang yang dianggap sebagai ustaz atau memberikan pelajaran agama itu menurut pandangan mereka malah orang yang tidak paham agama,” ujarnya.

Taefur menegaskan, hingga kini MUI Banyumas belum dapat mengeluarkan rekomendasi ataupun sikap resmi karena belum ditemukan unsur yang mengarah pada penistaan agama. Ia juga menyebut pihak kepolisian sempat meminta pandangan dari MUI terkait perkara tersebut.

“Belum sampai ada indikasi penistaan agama. Jadi kesimpulannya memang belum ada kesimpulan,” tegasnya.

Kasus yang menyeret nama “Sultan Nusantara” sendiri belakangan menjadi sorotan masyarakat Banyumas setelah muncul laporan dugaan penipuan dan berbagai klaim kontroversial yang disampaikan sosok tersebut kepada sejumlah warga.

MUI Banyumas memastikan proses tabayyun akan dilakukan secara objektif dan hati-hati dengan tetap mengedepankan klarifikasi dari seluruh pihak sebelum menentukan sikap resmi. Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih kritis terhadap figur yang mengatasnamakan agama maupun memiliki klaim-klaim spiritual tertentu tanpa dasar yang jelas.