Guru Besar Al-Azhar Mesir Tegaskan Al-Qur’an sebagai Pusat Ilmu Dunia dan Akhirat

Kuliah Umum di At Taujieh Al Islamy 2 Andalusia

Oleh :
Nurul Khabibah, Mahasantri Ma’had Aly Andalusia
Leler, Randegan, Banyumas, Jawa Tengah

SUASANA khidmat sekaligus penuh antusias menyelimuti aula utama Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, Sabtu (25/4/2026). Ratusan santri memadati ruangan untuk mengikuti kuliah umum yang menghadirkan guru besar dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, As-Syaikh Prof. Dr. As-Said Muhammad Ali Al-Azhari.

Kegiatan ini menjadi momentum istimewa bagi dunia pesantren di Banyumas. Kehadiran ulama internasional tersebut tidak hanya membawa nuansa keilmuan global, tetapi juga memperkuat sanad keilmuan yang selama ini dijaga oleh pesantren. Tampak hadir Pengasuh Ponpes KH. Zuhrul Anam Hisyam, Ibu Nyai Hj. Rodhiyyah Ghorro, serta keluarga ndalem yang menyambut hangat kedatangan sang syaikh.

Sejak awal penyampaian, Syaikh As-Said Al-Azhari langsung menarik perhatian hadirin dengan gagasan besarnya tentang Al-Qur’an. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, melainkan pelindung dan penjaga seluruh ilmu, baik yang berkaitan dengan kehidupan dunia maupun akhirat.

Di tengah pemaparannya, ia beberapa kali menyebut nama ulama besar sebagai bentuk penghormatan terhadap jalur sanad keilmuan. Nama Syaikh Maimun Zubair dan KH. Zuhrul Anam Hisyam disebut dengan penuh takzim, menandakan kuatnya hubungan keilmuan lintas generasi dan negara.

Kekaguman terhadap KH. Zuhrul Anam Hisyam pun diungkapkan dengan bahasa yang sarat makna. Ia mengibaratkan keluasan ilmu sang pengasuh seperti “menuangkan air ke laut yang sudah penuh”, sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa dalam dan luasnya keilmuan yang dimiliki.

Memasuki inti kajian, Syaikh Al-Azhari menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan puncak balaghah dan ilmu bayan. Menurutnya, seluruh cabang ilmu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, sejatinya bermuara pada wahyu Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an.

Ia kemudian mengulas kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir sebagai contoh nyata bagaimana ilmu Ilahi bekerja di balik peristiwa yang tampak merugikan. Kapal yang dirusak, anak yang dibunuh, hingga tembok yang ditegakkan kembali, semuanya mengandung hikmah besar yang hanya bisa dipahami melalui ilmu yang bersumber dari wahyu.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Al-Qur’an mendahului berbagai disiplin ilmu yang berkembang saat ini. Di dalamnya tersimpan solusi atas berbagai persoalan kehidupan, sekaligus petunjuk yang mampu menuntun manusia menuju kebenaran hakiki.

Dalam nada yang menggugah, ia berpesan kepada para santri agar menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi hidup. “Ambillah apa saja yang kalian inginkan dari Al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat segala yang kalian cari,” tuturnya di hadapan peserta.

Menutup kuliah umum, ia menyampaikan pesan yang menggetarkan hati: siapa pun yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat, maka kuncinya adalah Al-Qur’an. Bagi keluarga besar Andalusia, momen ini bukan sekadar forum ilmiah, melainkan penguat keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah pusat peradaban, sumber ilmu, dan jalan keselamatan hidup manusia.