Oleh: Mubaedah, M.Pd*
Tradisi halal bihalal dan silaturahmi pasca-Idul Fitri bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan cermin kekayaan kearifan lokal bangsa Indonesia. Di momen ini, sekat-sekat sosial seakan luruh—warga saling berkunjung, berjabat tangan, dan membuka pintu maaf. Nilai ini hidup dari bawah, dari kampung ke kampung, menjadi energi sosial yang menjaga harmoni masyarakat.
Silaturahmi juga menghadirkan ruang perjumpaan lintas generasi dan latar belakang. Anak-anak, orang tua, tokoh masyarakat hingga pemimpin daerah berbaur dalam suasana yang hangat. Inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya—bangsa yang mengedepankan kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama.
Di tengah tradisi itu, kita juga menyaksikan fenomena menarik pada sosok Joko Widodo. Meski tidak lagi menjabat sebagai presiden, kediamannya tetap ramai dikunjungi masyarakat. Dari kalangan akar rumput hingga tokoh nasional, semua datang dengan satu semangat: silaturahmi.
Fenomena ini bukan sekadar popularitas, tetapi cerminan kedekatan emosional yang terbangun antara pemimpin dan rakyatnya. Ada rasa memiliki, ada kedekatan yang tidak dibuat-buat. Ini menjadi pelajaran penting bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada jabatan, tetapi pada jejak hubungan yang ditinggalkan.
Silaturahmi yang terus terjaga menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang kehadiran—hadir di tengah masyarakat, mendengar, dan merasakan apa yang mereka alami. Ketika seorang pemimpin mampu membangun kedekatan itu, maka kepercayaan akan tumbuh secara alami.
Refleksi ini penting, terutama bagi para pemimpin hari ini dan calon pemimpin masa depan. Bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk mengabdi. Dan pengabdian yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk dikenang dan dihargai oleh masyarakat.
Belajar dari realitas sosial ini, kita diajak untuk memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga tentang membangun hubungan kemanusiaan. Silaturahmi menjadi jembatan yang menghubungkan nilai kepemimpinan dengan hati rakyat.
Pada akhirnya, pemimpin yang dicintai bukan hanya mereka yang berkuasa, tetapi mereka yang tetap dirindukan kehadirannya bahkan setelah masa jabatannya usai. Dan dari tradisi silaturahmi inilah, kita belajar bagaimana menjadi pemimpin yang tidak sekadar memimpin, tetapi juga mengayomi dan menginspirasi.
*) Mubaedah atau Kang Ubed adalah Ketua DPD PSI Kabupaten Banyumas