PURWOKERTO – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto memastikan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah Banyumas Raya tetap terkendali meski mengalami inflasi pada Maret 2026. Tekanan harga yang muncul selama Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri dinilai masih dalam batas aman dan cenderung melandai dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) per 2 April 2026, inflasi di Purwokerto tercatat sebesar 0,68 persen (month to month/mtm), 1,10 persen (year to date/ytd), dan 3,31 persen (year on year/yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 0,78 persen (mtm) dan 4,14 persen (yoy).
Kondisi serupa juga terjadi di Cilacap. Inflasi pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,70 persen (mtm), 1,08 persen (ytd), dan 3,51 persen (yoy), turun dari Februari yang mencapai 0,80 persen (mtm) dan 4,22 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Christoveny, melalui Deputi Direktur menyampaikan bahwa tekanan inflasi secara bulanan dipicu meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.
“Inflasi masih terkendali meski terjadi peningkatan permintaan musiman selama HBKN,” ujarnya.
Pangan Jadi Penyumbang Utama
Di Purwokerto, inflasi terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami kenaikan 1,74 persen (mtm) dengan andil 0,52 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain beras, daging ayam ras, bensin, minyak goreng, serta tarif angkutan antarkota.
Namun, laju inflasi tertahan oleh penurunan harga pada sejumlah komoditas seperti emas perhiasan, tarif kereta api, bawang putih, bawang merah, dan nangka muda.
Sementara itu di Cilacap, kelompok yang sama juga menjadi pendorong utama inflasi dengan kenaikan 1,68 persen (mtm) dan andil 0,54 persen. Komoditas seperti beras, daging ayam ras, tarif angkutan antarkota, telur ayam ras, dan bensin menjadi faktor dominan.
Adapun tekanan inflasi di Cilacap berhasil ditekan oleh deflasi pada komoditas cabai rawit, emas perhiasan, bawang merah, ikan asin, dan buah naga.
Faktor Global hingga Mudik Lebaran
Bank Indonesia mencatat, kenaikan harga pangan tidak hanya dipengaruhi faktor musiman, tetapi juga dorongan global, terutama kenaikan harga minyak goreng akibat tren peningkatan harga CPO di pasar internasional.
Selain itu, penyesuaian harga BBM non-subsidi pada awal Maret turut memicu inflasi di sektor transportasi. Momentum mudik dan arus balik Lebaran juga meningkatkan permintaan angkutan antarkota, yang berdampak pada tarif transportasi.
Di sisi lain, inflasi tahunan masih dipengaruhi faktor “low-base effect” dari kebijakan diskon tarif listrik pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Strategi Pengendalian Diperkuat
Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya terus memperkuat sinergi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) dengan strategi 4K.
Sejumlah langkah konkret telah dilakukan sepanjang Maret 2026, seperti pelaksanaan gerakan pangan murah dan pasar tani di berbagai titik, termasuk Pasar Ramadan UMP, Gerakan Pangan Murah (GPM) di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, serta program Sarahsimas di Banyumas.
Pengawasan harga dan ketersediaan pasokan juga dilakukan secara intensif di pasar tradisional, pasar modern, SPBU, dan SPBE untuk memastikan kebutuhan pokok tetap aman selama Lebaran.
Selain itu, upaya penguatan pasokan dilakukan melalui panen cabai dalam program INFRATANI dan fasilitasi distribusi pangan antarwilayah.
Dari sisi pengendalian ekspektasi, TPID juga menggencarkan edukasi belanja bijak melalui berbagai kanal, mulai dari billboard, radio, bioskop, hingga media sosial.
Ke depan, TPID Banyumas Raya berkomitmen memperkuat pengendalian inflasi melalui peningkatan produksi pangan berbasis pesantren, pengembangan petani milenial, digital farming, optimalisasi operasi pasar, serta kerja sama antar daerah.
Dengan langkah tersebut, Bank Indonesia optimistis inflasi di wilayah Banyumas Raya akan tetap terjaga dalam kisaran target nasional, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.