Aksi Tunggal “Save Unsoed”, Aktivis Tutup Mulut Jadi Simbol Kritik

PURWOKERTO – Aksi keprihatinan bertajuk “Save Unsoed” digelar secara tunggal di depan Rektorat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), kawasan Patung Jenderal Soedirman, Rabu (1/4/2026) sekitar pukul 11.00–11.30 WIB.

 

Dalam aksi tersebut, seorang aktivis dari Masyarakat Peduli Kampus, Aji Nugroho melakukan protes seorang diri dengan menutup mulut menggunakan lakban hitam. Aksi bisu ini menjadi simbol kritik atas dugaan pembungkaman suara serta minimnya transparansi dalam penanganan berbagai persoalan di lingkungan kampus.

 

Sambil membawa poster bertuliskan “Save Unsoed”, aktivis tersebut berdiri di depan area rektorat sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi kampus yang dinilai tengah menghadapi krisis integritas.

 

Aksi ini menyoroti sejumlah isu, mulai dari polemik Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum akademisi. Menurutnya, kampus seharusnya menjadi ruang aman dan berkeadilan, bukan tempat yang membiarkan relasi kuasa disalahgunakan.

 

Dalam pernyataan yang disampaikan sebelumnya, tuntutan yang diusung meliputi audit menyeluruh terhadap relasi dosen dan mahasiswa, transparansi anggaran kampus, serta penindakan tegas berupa pemecatan permanen bagi pelaku kekerasan seksual tanpa pandang jabatan.

 

Aksi tutup mulut ini juga dimaknai sebagai sindiran terhadap sikap birokrasi kampus yang dinilai lambat dan cenderung defensif dalam merespons berbagai kritik publik.

 

Selain itu, momentum aksi bertepatan dengan mendekatnya akhir masa jabatan Rektor Unsoed, Prof. Akhmad Sodiq, pada 2026. Isu suksesi kepemimpinan pun menjadi sorotan, dengan harapan muncul figur pemimpin yang berani melakukan reformasi menyeluruh.

 

Aksi berlangsung tertib tanpa kericuhan. Meski dilakukan seorang diri, pesan yang disampaikan dinilai mencerminkan keresahan sebagian kalangan civitas akademika yang menginginkan perubahan nyata di tubuh Unsoed.