JAKARTA — Perubahan perilaku audiens membuat industri media terus beradaptasi. Konten berita tidak lagi hanya disajikan dalam bentuk artikel di website atau aplikasi, tetapi berkembang ke video pendek, media sosial, hingga berbagai format visual yang menyesuaikan karakter platform.
Pemimpin Redaksi (Chief Editor) kumparanBISNIS, Edmiraldo Nanda Nopan Siregar, mengatakan transformasi tersebut harus tetap berjalan beriringan dengan prinsip jurnalistik, terutama akurasi, etika, dan penghormatan terhadap hak cipta.
Hal itu disampaikan Edmiraldo dalam Capacity Building Media Tahun 2026 bertema “Teknik Menyusun Konten Berita Ekonomi yang Akurat dan Komunikatif.” bersama BI Purwokerto dan wartawan di Lombok September 2026
Menurut dia, perkembangan media digital menghadirkan tantangan baru bagi jurnalis. Salah satunya adalah penggunaan materi visual maupun audio yang berasal dari sumber lain.
Jangan Sembarangan Comot Konten
Edmiraldo mencontohkan masih ditemukan praktik pengambilan materi dari media sosial tanpa memperhatikan hak cipta. Bahkan, ada konten yang kemudian ditempel ulang atau diberi efek blur agar terlihat berbeda.
Praktik semacam itu, menurut dia, perlu dihindari karena bukan hanya menyangkut persoalan teknis, tetapi juga etika jurnalistik.
“Jurnalisme itu salah satu yang ditunjukkan adalah etika. Kalau kita kehilangan di situ, nanti bisa bablas ke depannya. Kredibilitas kita juga mungkin akan terpengaruh,” kata Edmiraldo.
Ia mengingatkan, jurnalis tidak boleh sembarangan mengambil materi dari akun atau sumber yang belum jelas status penggunaannya.
Sebaliknya, terdapat banyak sumber resmi yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi, seperti akun resmi pemerintah, pejabat negara, kementerian, lembaga, maupun institusi resmi lainnya.
“Informasi sudah sangat banyak. Kita tidak perlu juga mengambil dari sumber lain yang tidak jelas,” ujarnya.
Untuk materi dari media atau sumber lain yang memang dibutuhkan, menurut dia, perlu dipastikan hak penggunaannya. Termasuk dengan memanfaatkan layanan atau platform yang menyediakan materi secara legal.
Copyright Bisa Mengancam Akun Media
Edmiraldo juga menceritakan pengalaman kumparan ketika mulai aktif mengembangkan konten media sosial.
Pada masa awal, pemahaman mengenai copyright belum sebaik sekarang. Akibatnya, media bisa saja menggunakan materi yang ternyata memiliki hak cipta.
Konsekuensinya tidak ringan. Akun media sosial dapat memperoleh strike dari platform.
“Bisa dua atau tiga kali strike, akun kita bisa dibanned,” katanya.
Menurut dia, persoalan tersebut menjadi serius ketika sebuah media telah membangun basis audiens selama bertahun-tahun.
Bayangkan, kata dia, sebuah akun sudah memiliki jumlah pengikut yang besar. Kemudian akun tersebut tiba-tiba hilang karena persoalan copyright.
“Kerja keras yang sudah bertahun-tahun bisa hilang,” ujarnya.
Karena itu, Edmiraldo mendorong media untuk lebih disiplin dalam memilih materi visual dan audio.
Salah satu pilihan adalah menggunakan layanan berbayar yang memang menyediakan materi dengan lisensi yang jelas. Selain itu, media juga dapat memanfaatkan musik atau sound yang telah disediakan oleh platform seperti TikTok maupun Instagram sesuai ketentuan penggunaannya.
“Kalau itu sudah disiapkan oleh platform, seharusnya lebih aman,” katanya.
Multi-Channel Journalism Perkuat Model Bisnis Media
Di tengah perubahan perilaku audiens, Edmiraldo mengatakan media juga tidak bisa hanya mengandalkan satu kanal distribusi.
Menurut dia, konsep multi-channel journalism justru membuka peluang baru bagi media untuk memperkuat model bisnis.
Dulu, monetisasi media banyak bertumpu pada konten di website atau aplikasi, event, hingga program-program tertentu. Kini, konten media sosial juga memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap pendapatan perusahaan media.
“Konten di media sosial itu sudah menyumbang monetisasi yang cukup tinggi,” katanya.
Bahkan, menurut Edmiraldo, porsi iklan yang berasal dari media sosial mulai mendekati kontribusi iklan di kanal digital utama.
Yang menarik, lanjut dia, nilai kerja sama untuk sebuah konten di media sosial dalam sejumlah kasus dapat lebih tinggi dibandingkan konten artikel.
“Jadi sumbangan ke pendapatan perusahaan juga lebih baik,” ujarnya.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa media sosial bukan lagi sekadar kanal distribusi tambahan, tetapi telah berkembang menjadi bagian penting dari ekosistem bisnis media.
Dari Kata-Kata ke Visual
Dalam sesi diskusi, peserta juga mempertanyakan bagaimana media seperti kumparan mengubah berita yang selama ini identik dengan tulisan menjadi konten visual yang menarik dan tetap memiliki nilai jurnalistik.
Edmiraldo menjelaskan, format konten harus disesuaikan dengan karakter audiens dan platform. Tidak semua informasi harus dipaksakan menjadi artikel panjang.
Untuk isu ekonomi, misalnya, sebuah peristiwa dapat dikembangkan menjadi soft news dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Salah satu sumber cerita yang banyak dikembangkan adalah kegiatan ekonomi kreatif dan UMKM.
Menurut dia, kegiatan pameran atau expo dapat menjadi ladang cerita karena menghadirkan banyak pelaku usaha dengan latar belakang dan produk yang beragam.
“UMKM itu ketika ada sebuah event, banyak banget cerita menariknya,” katanya.
Karena itu, jurnalis dituntut tidak hanya mampu menulis, tetapi juga mampu menemukan sudut pandang yang kuat dan mengemasnya dalam format yang sesuai dengan kebiasaan konsumsi informasi audiens.
Partisipasi Publik Menjadi Bagian Ekosistem
Dalam diskusi tersebut juga muncul pertanyaan mengenai posisi konten warga dalam ekosistem pemberitaan kumparan.
Kumparan sendiri dikenal sebagai media online yang menggabungkan kerja redaksi profesional dengan partisipasi publik.
Model tersebut memungkinkan informasi, foto, atau video dari masyarakat menjadi bagian dari ekosistem konten, dengan tetap melalui proses dan pertimbangan editorial.
Pendekatan ini memperluas sumber informasi sekaligus membuka peluang bagi media untuk menangkap peristiwa yang terjadi di berbagai tempat secara lebih cepat.
Namun, perkembangan tersebut tetap menuntut kemampuan verifikasi yang kuat dari redaksi.
Materi dari masyarakat tidak serta-merta dapat diperlakukan sebagai fakta jurnalistik sebelum diperiksa konteks, sumber, waktu, lokasi, dan kebenarannya.
Jurnalis Harus Beradaptasi
Perubahan dari jurnalisme berbasis tulisan menuju jurnalisme multimedia juga menjadi tantangan tersendiri bagi jurnalis.
Jurnalis yang selama ini terbiasa menulis dituntut mulai memahami video, audio, fotografi, grafis, hingga cara menyusun cerita dalam durasi singkat.
Namun, Edmiraldo menekankan bahwa perubahan format tidak berarti meninggalkan dasar-dasar jurnalistik.
Justru ketika konten semakin cepat dan visual, prinsip dasar seperti verifikasi, akurasi, etika, kredibilitas sumber, serta penghormatan terhadap hak cipta menjadi semakin penting.
Dengan demikian, transformasi digital bukan sekadar memindahkan berita dari halaman website ke media sosial.
Lebih jauh, transformasi itu merupakan perubahan cara media menemukan cerita, memproduksi konten, mendistribusikan informasi, membangun hubungan dengan audiens, sekaligus menciptakan model bisnis baru.
Bagi media, tantangannya kini bukan hanya bagaimana membuat berita dibaca, tetapi juga bagaimana membuat informasi akurat, menarik, relevan, aman secara hukum, dan mampu bertahan dalam ekosistem digital yang terus berubah.