PURWOKERTO – Ketua Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (Pokmas Lipas) Jawa Tengah, Djoko Susanto SH, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan wisuda hafalan Alquran dan khotmil Quran bagi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Purwokerto, (Jumat 30/10/2026).
Menurut Djoko, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan hukuman, tetapi juga memberikan ruang bagi warga binaan untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas spiritual, serta membangun bekal kehidupan yang lebih baik.
Ia menilai, keberhasilan warga binaan dalam menghafal Alquran hingga mengikuti prosesi wisuda merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa program pembinaan keagamaan yang dijalankan Lapas Purwokerto memberikan dampak positif.
“Ini merupakan bentuk apresiasi dan dukungan kami kepada Lapas Purwokerto. Kami ingin menunjukkan bahwa dukungan ini bukan sekadar ucapan, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata. Kegiatan seperti ini perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menciptakan sumber daya manusia yang lebih baik,” ungkap Djoko.
Lebih jauh, ia mengatakan, pembinaan melalui kegiatan keagamaan tersebut sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas, berkarakter, dan memiliki landasan moral yang kuat.
Menurutnya, setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki masa lalu. Karena itu, proses pembinaan harus mampu membuka jalan bagi mereka untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.
Djoko berharap, para santri warga binaan yang telah diwisuda tidak berhenti pada pencapaian menghafal dan mengkhatamkan Alquran. Ilmu serta nilai-nilai keagamaan yang telah dipelajari diharapkan terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami, setelah kembali ke tengah masyarakat, mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik, mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, serta memberikan manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya,” harapnya.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pembinaan kepribadian warga binaan.
Dengan demikian, lapas tidak hanya menjadi tempat menjalani masa hukuman, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan perubahan. Sebab, kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi manusia yang lebih baik tetap terbuka bagi siapa pun.