BANYUMAS, suarabanyumas.co.id – Jauh sebelum dikenal sebagai pendakwah yang menggunakan wayang sebagai media menyampaikan pesan Islam, Ibu Nyai Qurotul Aini Farida hanyalah seorang anak kecil yang kerap diajak ayahnya mengikuti pengajian. Namun, dari perjalanan sederhana itulah sebuah keberanian tumbuh. Sang ayah tidak hanya mengajaknya hadir sebagai pendengar, tetapi sesekali meminta Farida kecil naik ke panggung untuk menyampaikan muqaddimah sebelum dirinya memberikan tausiyah. Pengalaman itulah yang perlahan membentuk keberaniannya berbicara di hadapan jamaah.
Farida lahir di Banyumas, 13 April 1991, dari keluarga yang dekat dengan tradisi keagamaan. Ayahnya, KH Ahmad Suwardi, S.Pd., dikenal sebagai pendakwah dan kini mengemban amanah sebagai Kepala SMP Diponegoro Wangon. Nama Qurotul Aini Farida sendiri diberikan oleh Habib Muhammad Al-Habsyi dari Kranggan. Sejak kecil, Farida telah akrab dengan pengajian keluarga, Madrasah Diniyah, dan aktivitas keagamaan yang membuat dunia agama menjadi bagian dari kesehariannya.
Lingkungan keluarga kemudian diperkuat dengan pengalaman menjadi santri. Saat duduk di kelas IV, Farida mulai mondok di Pondok Pesantren Darul Muttaqien Citomo, Klapagading, Wangon, asuhan almarhum KH Ahmad Zarnuji. Di sana ia belajar membaca Al-Qur’an bersama Ning Muhitoh. Ketika memasuki SMP, ia melanjutkan mengaji di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Racabanteng, Wangon, asuhan KH Syamsudin. Sejumlah kitab dasar dipelajarinya, antara lain Safinah, Ta’lim al-Muta’allim, Sullam at-Taufiq, dan Hidayatus Shibyan, sekaligus menghafalkan Jurumiyah.
Masa SMA/MA kemudian dijalani Farida di Pondok Pesantren Darunnajat, Pruwatan, Bumiayu. Pesantren dengan perpaduan pendidikan modern dan salaf itu memberinya pengalaman baru. Penggunaan bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia dalam aktivitas pendidikan, ditambah kegiatan muhadharah tiga bahasa, semakin mengasah kemampuan komunikasi. Jika sebelumnya keberanian berbicara dibentuk dari panggung-panggung pengajian bersama sang ayah, di pesantren kemampuan itu ditempa melalui lingkungan pendidikan yang lebih terstruktur.
“Dari kecil saya memang sering diajak Abah berdakwah. Kadang sebelum Abah naik ke panggung, saya diminta menyampaikan muqaddimah. Awalnya mungkin hanya karena diajak dan dilatih, tetapi ternyata pengalaman itu menjadi bekal keberanian saya sampai sekarang,” ujar Farida, mengenang awal keterlibatannya dalam dunia dakwah.
Setelah menempuh pendidikan di pesantren, Farida melanjutkan studi Pendidikan Agama Islam di UIN SAIZU, kemudian menyelesaikan pendidikan magister pada 2017. Jalur akademik tersebut mempertemukannya dengan dunia pendidikan. Kini ia menjalani profesi sebagai Guru ASN mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di salah satu SMA Negeri di Banyumas. Di luar sekolah, langkahnya sebagai pendakwah terus berkembang, termasuk melalui aktivitas organisasi di PC Fatayat NU Banyumas, tempat ia dipercaya menjadi Ketua FORDAF (Forum Daiyah) Fatayat NU Banyumas.
Menariknya, ketika memasuki dunia dakwah yang lebih luas, Farida tidak memilih untuk sekadar mengulang pola ceramah yang sudah umum. Ia justru kembali kepada sesuatu yang sejak kecil sudah akrab dalam keluarganya: budaya Jawa dan wayang. Ayahnya yang lebih dahulu menggunakan wayang sebagai media dakwah bahkan mendirikan GBSR (Gelar Budaya Sholawat Sa Jagad Raya). Bagi Farida, pengalaman itu menunjukkan bahwa kebudayaan lokal dapat menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pesan agama kepada masyarakat.
“Saya melihat wayang bukan hanya sebagai tontonan. Di dalamnya ada banyak tokoh, karakter, konflik, dan pelajaran kehidupan. Itu bisa menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai Islam dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat. Saya ingin dakwah tetap membawa pesan agama, tetapi tidak membuat masyarakat merasa jauh dari budaya mereka sendiri,” katanya.
Kini aktivitas dakwah Farida telah menjangkau berbagai daerah, antara lain Cilacap, Purbalingga, Pemalang, Tegal, Brebes, dan sejumlah wilayah lainnya. Ia juga mengasuh Majelis Ta’lim Darul Falah, yang diikuti kaum ibu dengan rangkaian kegiatan seperti Al-Barzanji, Asmaul Husna, Yasin, tahlil, serta kajian Islam. Di luar itu, ia membangun komunitas dakwah SAFAR (Sahabat Farida) sebagai ruang untuk memperluas jejaring dakwah dan silaturahmi.
Di tengah kesibukan sebagai guru, pendakwah, aktivis Fatayat NU, dan pengasuh majelis, Farida tetap menjalani peran sebagai istri Dr. Saiful Hamdi, S.Pd.I., M.Pd., seorang pendidik dan dosen, sekaligus ibu bagi tiga anak. Salah seorang anaknya kini menimba ilmu di PPTQ Al-Asy’ariyah, Kalibeber, Wonosobo. Ia juga merupakan kakak kandung Ramah Tegar Pambudi atau yang lebih dikenal sebagai Rojih Hibatulloh. Dari perjalanan itu, satu hal tampak jelas: panggung dakwah Farida sebenarnya telah dimulai sejak ia masih kecil—dan kini ia memilih melanjutkannya dengan caranya sendiri, menyatukan ilmu pesantren, pendidikan, pengalaman keluarga, dan budaya Jawa untuk menghadirkan dakwah yang lebih dekat dengan masyarakat.
Penulis; Rojih