BI Purwokerto Latih Santri Budidaya Cabai, Dorong Kemandirian Ekonomi Pesantren

BANYUMAS, suarabanyumas.co.id – Cabai merupakan komoditas hortikultura yang kerap memicu inflasi, terutama saat akhir tahun dan momentum hari besar. Pesantren diharapkan tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mampu mengambil peluang ekonomi dari komoditas tersebut melalui budidaya dan hasil panen.

“Cabai ini merupakan tanaman hortikultura yang sering menyebabkan inflasi, terutama ketika akhir tahun atau saat momentum hari besar. Harapannya, ketika harga cabai naik, pesantren tidak perlu khawatir, tetapi justru bisa ikut merasakan keuntungannya karena memiliki hasil panen cabai,” kata Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Banyumas, Retno Wulandari.

Hal tersebut disampaikan dalam Pelatihan Good Agriculture Practices (GAP) Budidaya Cabai dan Penguatan Usaha Pertanian Pesantren yang digelar Bank Indonesia (BI) KPw Purwokerto di Banyumas Raya. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas santri sekaligus mengembangkan potensi ekonomi pesantren melalui sektor pertanian.

Kegiatan diikuti lima pesantren dengan masing-masing mengirimkan lima santri. Peserta berasal dari Pondok Pesantren At Taujieh Al Islamy 2 Andalusia dan Miftahul Huda di Banyumas, Pondok Pesantren Nurul Iman dan APIK di Cilacap, serta MWI Banyumas.

Kepala BI KPw Purwokerto Aswin Gantina mengatakan, santri perlu memiliki bekal keilmuan yang tidak hanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan. “Santri selain ngaji fiqih juga harus ngaji sugih,” ujar Aswin, menekankan pentingnya membangun wawasan dan kemampuan ekonomi di lingkungan pesantren.

Pelatihan berlangsung selama dua hari dengan memadukan materi teori dan praktik lapangan. Selain teknik budidaya sesuai prinsip GAP, peserta juga mendapatkan penguatan mengenai pengelolaan usaha pertanian sehingga kegiatan pertanian di pesantren diharapkan dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi produktif.

Menurut Aswin, kemandirian ekonomi pesantren dapat dibangun melalui berbagai sektor sesuai dengan potensi masing-masing pesantren, salah satunya pertanian. Karena itu, BI mendorong agar pelatihan seperti budidaya cabai tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan santri, tetapi berlanjut menjadi kegiatan usaha yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi pesantren.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas Ibnu Asaduddin menyambut baik pelatihan tersebut, terutama karena melibatkan sinergi lintas lembaga. “Ini merupakan sinergi yang sangat baik antara BI, Dinas Pertanian dan Kementerian Agama dengan melibatkan santri. Semua ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus bersinergi,” kata Ibnu.

Pembukaan pelatihan dilakukan langsung Aswin Gantina dan turut dihadiri Ibnu Asaduddin serta Retno Wulandari. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat peran pesantren sebagai lembaga pendidikan sekaligus membuka ruang pengembangan ekonomi produktif, termasuk melalui pertanian dan komoditas pangan strategis.