KEDUNGBANTENG, suarabanyumas.co.id – Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) Roudlotul Munawwaroh mengantarkan enam santri menyelesaikan khataman Al-Qur’an 30 juz secara bin nadzri atau membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf. Capaian tersebut menjadi momen bersejarah bagi lembaga pendidikan Al-Qur’an yang berlokasi di Masjid Al Fattah, Perum Griya Asri, Desa Karangsalam Kidul, Kedungbanteng, Banyumas. Keenam santri tersebut merupakan generasi khatimin perdana sejak LPQ berdiri pada 2019.
Enam santri yang berhasil menyelesaikan khataman Al-Qur’an 30 juz tersebut adalah Keandra Runako El Ahmad, Shafira Anindiya Putri, Almaira Zahira Ahmadi, Ashalina Nasira Hamidah, Qiandra Nasyama Difa, dan Uli Alfiati Rohmah. Pencapaian ini menjadi buah dari proses belajar, ketekunan, dan pendampingan yang dijalani para santri bersama para pengajar. Sebagai penanda keberhasilan tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan doa khotmil Qur’an yang diikuti seluruh santri, Jum’at (30/10/2026).
Kepala LPQ Roudlotul Munawwaroh, Siti Nurhayati Al Hafidzoh, mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya atas keberhasilan enam santri tersebut. Menurutnya, capaian ini memiliki makna tersendiri karena menjadi hasil pertama dari perjalanan pendidikan Al-Qur’an di lembaga yang dirintis sejak 2019.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bahagia. Keenam santri ini menjadi khotimin generasi pertama sejak LPQ Roudlotul Munawwaroh berdiri. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi santri-santri lainnya untuk terus belajar dan mencintai Al-Qur’an,” ungkap Siti Nurhayati.
Dalam proses pembelajaran, LPQ Roudlotul Munawwaroh menggunakan metode Yanbu’a yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah. Metode ini menjadi salah satu pendekatan pembelajaran baca Al-Qur’an yang menekankan ketepatan pelafalan dan bacaan (tartil, tajwid dan tahsin). Selain pembelajaran secara bertahap, perhatian terhadap kesinambungan keilmuan melalui sanad juga menjadi bagian penting dalam tradisi pendidikan Al-Qur’an yang dikembangkan di lembaga tersebut.
Dari sisi sanad keilmuan Al-Qur’an, pembelajaran yang dikembangkan LPQ Roudlotul Munawwaroh merujuk pada mata rantai keilmuan yang bersambung kepada KH Arwani Kudus dan KH Munawwir Krapyak. Sementara itu, secara personal, Siti Nurhayati Al Hafidzoh juga memperoleh sanad Al-Qur’an melalui KH Mufid Mas’ud dari Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta.
“Baik Mbah Arwani atau Mbah Mufid, keduanya tersambung pada Mbah Munawwir Krapyak. Salah satu ulama qur’an Indonesa yang jadi ‘pintu utama’ sanad qur’an Nusantara,” kata Nurhayati yang mengawali LPQ dengan 3 santri saat trukah.
Saat ini, LPQ Roudlotul Munawwaroh tercatat memiliki sekitar 45 santri dengan dukungan lima tenaga pendidik, terdiri atas empat guru reguler dan satu pentashih. Keberadaan tenaga pengajar tersebut menjadi bagian penting dalam mendampingi santri agar dapat mengikuti pembelajaran sesuai kemampuan dan tahap perkembangannya. Capaian enam santri yang telah khatam diharapkan menjadi penyemangat bagi santri lainnya untuk terus meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an hingga menyelesaikan 30 juz.
“Harapan kami, semoga keberhasilan ini menginspirasi seluruh santri agar tidak berhenti mengaji. Kalau memungkinkan, anak-anak juga bisa melanjutkan pendidikan dengan bersekolah sekaligus nyantri di pondok pesantren,” tuturnya.
Dukungan keluarga, guru, dan lingkungan masyarakat juga menjadi unsur penting agar semangat mengaji tetap terpelihara. Keberhasilan enam santri LPQ Roudlotul Munawwaroh ini sekaligus menjadi catatan penting bagi perkembangan pendidikan Al-Qur’an di lingkungan Karangsalam Kidul. Sejak berdiri pada 2019, lembaga tersebut terus berupaya menghadirkan ruang belajar Al-Qur’an bagi anak-anak di sekitarnya. Dengan lahirnya generasi khotimin perdana, LPQ Roudlotul Munawwaroh berharap semakin banyak santri yang mengikuti jejak mereka, melanjutkan pendidikan agama ke jenjang lebih tinggi, serta tumbuh menjadi generasi yang dekat dengan Al-Qur’an.