RSUD Banyumas Peringati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Penyintas Tunjukkan Karya dan Potensi Luar Biasa

BANYUMAS – Penyintas gangguan kesehatan jiwa bukan sekadar orang yang membutuhkan pengobatan dan pendampingan. Mereka juga memiliki potensi, kreativitas, serta kemampuan untuk berkarya dan berkontribusi di tengah masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026 yang digelar Paguyuban Puntadewa RSUD Banyumas di Aula Thalasemia RSUD Banyumas, Sabtu (31/10/2026).

Mengusung tema global Life Experiences: Heard, Real Voice, Real Change atau pengalaman hidup yang didengar, suara nyata, perubahan nyata, kegiatan ini menjadi ruang bagi para penyintas untuk menyampaikan pengalaman sekaligus menunjukkan kemampuan mereka melalui berbagai karya.

Dokter Hilma Paramitha dari Instalasi Kesehatan Jiwa RSUD Banyumas mengatakan, kegiatan tersebut sengaja dikemas dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para penyintas untuk mengekspresikan diri.

Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menjadi pelaku utama yang menampilkan kemampuan dan kreativitasnya.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan media bagi mereka untuk menyuarakan pengalaman hidupnya. Ada yang menyampaikan melalui lagu, tarian, hingga karya-karya lain yang benar-benar mereka ciptakan sendiri,” ungkapnya.

Beragam penampilan mewarnai kegiatan tersebut. Para penyintas menunjukkan kemampuan di bidang seni, mulai dari menyanyi hingga menampilkan tarian. Ada pula penyintas yang telah menghasilkan puluhan karya tulis dan buku.

Salah satu penyintas bahkan telah menulis hingga 52 buku. Ada pula penyintas yang produktif menciptakan lagu. Salah satunya telah menghasilkan sekitar 25 karya lagu yang dapat dinikmati melalui kanal YouTube.

Tidak hanya di bidang seni pertunjukan dan literasi, kreativitas para penyintas juga berkembang dalam bidang kerajinan dan usaha produktif.

Beberapa di antaranya menghasilkan karya batik celup dan desain. Bahkan, terdapat penyintas yang memiliki latar belakang pendidikan arsitektur di Universitas Gadjah Mada (UGM), kemudian mengembangkan kreativitasnya melalui berbagai karya desain.

Menurut Hilma, berbagai pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa diagnosis gangguan kesehatan jiwa tidak boleh menjadi satu-satunya cara masyarakat memandang seseorang.

Setiap individu tetap memiliki identitas, kemampuan, cita-cita, dan kesempatan untuk berkembang.

“Diagnosis itu hanya salah satu sisi dari diri seseorang. Padahal, mereka adalah manusia utuh seperti manusia lainnya. Mereka punya potensi dan kemampuan yang bisa terus dikembangkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, dengan pendampingan yang tepat, para penyintas memiliki peluang untuk kembali menjalani kehidupan secara normal, produktif, serta berpartisipasi dalam berbagai aktivitas sosial.

Karena itu, dukungan keluarga, lingkungan, dan masyarakat sangat diperlukan. Penerimaan sosial menjadi bagian penting dalam proses pemulihan, selain penanganan medis dan pendampingan psikologis.

Hilma juga mendorong masyarakat agar lebih mengapresiasi karya para penyintas, khususnya di bidang seni dan kreativitas. Penghargaan terhadap hasil karya mereka diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri sekaligus membuka ruang yang lebih luas untuk berkarya.

“Harapannya, masyarakat semakin menghilangkan stigma yang selama ini masih melekat. Mari kita dukung mereka agar bisa optimal dalam berkarya,” katanya.

Pelayanan kesehatan jiwa harus menyentuh sisi kemanusiaan

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya memperkuat pelayanan kesehatan secara holistik.

Pelayanan kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada pemulihan kondisi fisik atau penanganan gejala penyakit. Aspek psikologis, sosial, dan kemanusiaan juga harus mendapatkan perhatian.

Pendekatan yang mengedepankan empati diperlukan agar para penyintas merasa diterima, dihargai, dan memiliki ruang untuk menjalani kehidupan sebagaimana masyarakat lainnya.

Melalui kegiatan ini, RSUD Banyumas ingin menunjukkan bahwa setiap pengalaman hidup memiliki arti dan layak didengar.

Suara para penyintas bukan hanya cerita tentang perjuangan menghadapi gangguan kesehatan jiwa, melainkan juga kisah tentang harapan, kreativitas, dan kemampuan untuk bangkit.

Lebih dari sekadar peringatan tahunan, kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk mengubah cara pandang masyarakat. Sebab, pemulihan tidak hanya berbicara tentang kesembuhan, tetapi juga tentang kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara bermakna.

Dengan memberikan ruang, apresiasi, dan dukungan yang tepat, para penyintas dapat membuktikan bahwa mereka bukan hanya mampu pulih, tetapi juga mampu menghasilkan karya dan memberikan inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.