BANYUMAS – Pengalaman menghadapi depresi dan berbagai gangguan kesehatan mental tidak membuat Ribka ImaRi berhenti berkarya. Sebaliknya, pengalaman pahit yang pernah dialaminya justru menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya yang mampu menguatkan banyak orang.
Ribka membuktikan bahwa gangguan kesehatan mental bukanlah akhir dari segalanya. Dengan pendampingan, proses pemulihan, dan keberanian mengekspresikan diri, seseorang yang pernah menjadi penyintas dapat kembali bangkit dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Pengalaman hidup tersebut kini dituangkannya melalui berbagai karya, mulai dari buku hingga lagu. Hingga saat ini, Ribka mengaku telah menerbitkan sekitar 52 buku, sebagian besar berupa buku antologi yang mengangkat kisah nyata atau based on true story.
Karya-karya tersebut banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya sebagai penyintas depresi dan berbagai persoalan kesehatan mental yang pernah dihadapi.
“Saya pernah mengalami depresi, bipolar, borderline personality disorder, OCD, dan hampir delapan gangguan kesehatan mental yang pernah saya jalani. Namun, sekarang saya sudah hampir pulih,” ungkap Ribka.
Menurutnya, pengalaman tersebut tidak harus selalu disembunyikan karena rasa malu atau stigma masyarakat. Justru ketika pengalaman itu diolah menjadi sebuah karya, ada pesan dan kekuatan yang bisa dibagikan kepada orang lain.
Bagi Ribka, menulis menjadi salah satu cara untuk memahami diri sendiri sekaligus mengubah pengalaman sulit menjadi sesuatu yang bermakna.
Tidak hanya melalui buku, ia juga menyalurkan ekspresi dan perjalanan emosionalnya lewat menulis hingga aktivitas lainnya.
Perjalanan Ribka tidak berhenti pada proses pemulihan pribadi. Sejak 2018, ia mulai aktif mendampingi orang-orang yang mengalami persoalan kesehatan mental.
Dari pengalaman tersebut, Ribka mengaku telah mendampingi hampir 800 klien. Ia juga dipercaya menjadi mentor bagi para mentor penyintas depresi di berbagai daerah, mulai dari Sabang hingga Merauke, bahkan menjangkau komunitas di luar negeri.
Baginya, pengalaman sebagai penyintas memberikan perspektif tersendiri ketika mendengarkan cerita orang lain. Ia memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan, persoalan, dan proses pemulihan yang berbeda.
Karena itu, ia ingin menunjukkan bahwa seseorang yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental tetap memiliki kesempatan untuk bangkit, berkarya, dan menjalani kehidupan yang bermakna.
Kisah Ribka sekaligus menjadi pengingat bahwa kesehatan jiwa perlu mendapatkan perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Stigma dan rasa malu justru dapat membuat seseorang enggan mencari pertolongan.
Ia berharap semakin banyak orang berani bercerita, mengekspresikan perasaan, dan mencari pendampingan yang tepat ketika menghadapi persoalan kesehatan mental.
Sebab, menjadi penyintas bukan berarti kehilangan masa depan. Pengalaman pahit tidak harus menjadi titik akhir perjalanan hidup. Dengan dukungan yang tepat, pengalaman tersebut bahkan dapat menjadi kekuatan untuk menginspirasi dan membantu orang lain.
Dari depresi, Ribka menemukan jalan untuk berkarya. Dari pengalaman menjadi penyintas, ia kini hadir sebagai pendamping bagi sesama. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa di balik pengalaman paling sulit sekalipun, selalu ada kemungkinan untuk menemukan makna dan harapan baru.
Sementara itu Assalova salah satu penyintas depresan lain justru kini bisa berkarya lewat musik.
Sedikitnya 25 lagu ciptaannya telah dirilis dan dapat dinikmati melalui platform Spotify. Sementara itu, masih ada lebih dari 50 lagu lain yang menjadi bagian dari proses kreatifnya.
“Musik bisa menjadi media bagi kita untuk mengekspresikan diri. Ini juga menjadi wadah untuk menyalurkan apa yang kita rasakan dan alami,” kata Assalova.
Assalova mengaku mengalami depresi saat merjakan thesis. Namun ia berhasil melewati situasi itu.
Salah satu kuncinya yakni mengelola ekspektasi dan harus bisa mengenali kebutuhan diri sendiri.
Kini Assalova telah menjalani kehidupan normal bahkan menjadi dosen kesenian di salah satu kampus di Purwokerto.
Tak hanya meteka betdua, ada pula penyintas lain di RSUD Banyumas yang kini telah pulih. Bahkan mereka bisa berkarya secara normal dan menjalani kehidupan layak.