Di Balik Jeruji Besi, 43 Warga Binaan Lapas Purwokerto Diwisuda Hafalan Alquran

Rangkaian Peringatan Hari Santri

PURWOKERTO – Membaca watak manusia terkadang seperti membaca sebuah buku. Kita tidak bisa menilainya hanya dari sampul. Sebab, kemuliaan dan kebaikan bisa tumbuh di mana saja, bahkan di balik jeruji besi sekalipun.

Suasana penuh haru dan khidmat terasa di Masjid At-Taubah Lapas Kelas IIA Purwokerto. Lantunan ayat suci Alquran mengalun merdu, menghadirkan ketenangan di tengah kehidupan warga binaan yang sedang menjalani masa pidana.

Hari itu menjadi momen istimewa. Sebanyak 43 warga binaan mengikuti Wisuda Hafalan Alquran dan Khotmil Quran bersama santri Pondok Pesantren Tahfidz Quran Al Munawar. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Santri 2026.

Bukan sekadar seremoni keagamaan, wisuda ini menjadi penanda perjalanan spiritual para warga binaan. Di tempat yang selama ini identik dengan keterbatasan kebebasan, mereka berusaha menemukan jalan untuk memperbaiki diri melalui Alquran.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran. Suaranya menggema memenuhi masjid, menciptakan suasana teduh dan menenangkan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan nadhom dan ikrar santri. Lantunan selawat yang mungkin setiap hari terdengar di masjid dan surau, kali ini terasa berbeda ketika menggema dari dalam Lapas Purwokerto.

Ada nuansa harapan, penyesalan, sekaligus kepasrahan yang menyatu dalam suasana tersebut. Seolah setiap bait selawat menjadi ungkapan kerinduan untuk memperoleh ampunan dan kesempatan memperbaiki kehidupan.

Puncak acara tiba ketika prosesi wisuda dimulai. Nama para peserta dibacakan satu per satu. Wajah-wajah warga binaan yang mengikuti prosesi tampak haru. Sebagian terlihat berkaca-kaca, tetapi tak mampu menyembunyikan kebahagiaan.

Mereka maju secara bergantian untuk menerima songkok dan sertifikat sebagai tanda telah menyelesaikan tahapan pembelajaran Alquran.

Anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo turut menyerahkan songkok secara simbolis kepada warga binaan yang diwisuda.

Ada beragam capaian dalam wisuda tersebut. Sebagian peserta berhasil menghafal surat-surat pendek, sementara lainnya menyelesaikan hafalan Alquran hingga lima juz.

Selain hafalan, terdapat pula peserta yang mengikuti kategori penguasaan bacaan salat, terutama Surah Al-Fatihah dan bacaan tahiyat.

Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Quran Al Munawar, Faidus Saad, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti 43 santri warga binaan dengan beberapa kategori capaian pembelajaran.

Program ini tidak hanya berorientasi pada jumlah hafalan, tetapi juga mendorong warga binaan memperbaiki kualitas ibadah dan memahami nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari.

Pembinaan yang Menumbuhkan Harapan

Kepala Lapas Kelas IIA Purwokerto, Winarso, mengatakan wisuda hafalan Alquran dan khotmil Quran merupakan bagian dari program pembinaan kepribadian bagi warga binaan.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu momentum yang dinantikan karena memberikan kebahagiaan sekaligus ruang bagi warga binaan untuk menunjukkan hasil proses pembinaan.

“Alhamdulillah, wisuda bisa terlaksana. Ini merupakan momentum yang dinanti dan membahagiakan,” ujarnya.

Winarso berharap pembinaan keagamaan dapat menjadi bekal bagi warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, baik selama berada di dalam lapas maupun setelah kembali ke tengah masyarakat.

Ia juga menegaskan bahwa kehidupan di dalam lapas tetap mengedepankan sikap saling menghormati. Warga binaan yang berbeda agama dapat hidup berdampingan dengan penuh toleransi.

Dengan demikian, pembinaan di lapas tidak hanya menyangkut aspek keagamaan, tetapi juga pembentukan karakter, penghormatan terhadap perbedaan, dan kehidupan sosial yang harmonis.

Pesan Tegas untuk Mewujudkan Lapas yang Manusiawi

Dalam kesempatan tersebut, anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan pendidikan keagamaan melalui pesantren di lingkungan lapas.

Menurutnya, keberadaan pesantren memberikan ruang bagi warga binaan untuk melakukan kontemplasi, memperdalam spiritualitas, dan mengisi masa pidana dengan kegiatan positif.

Ia mengingatkan bahwa lapas harus menjadi tempat pembinaan yang menjunjung tinggi prinsip pengayoman, bukan ruang untuk melakukan kekerasan maupun tindakan sewenang-wenang.

“Di lapas tidak boleh ada kekerasan, penganiayaan ataupun pemerasan. Asasnya adalah pengayoman,” tegasnya.

Yanuar juga memberikan perhatian khusus terhadap upaya pemberantasan peredaran narkoba di lingkungan lapas.

Ia menyebut sekitar 60 persen warga binaan di tempat tersebut tersangkut perkara narkoba. Karena itu, pengawasan terhadap peredaran narkotika harus dilakukan secara serius, termasuk memastikan tidak ada keterlibatan petugas.

Ia meminta warga binaan tidak takut melaporkan apabila menemukan praktik penyalahgunaan wewenang atau keterlibatan petugas dalam peredaran narkoba.

“Kalau ada yang bermain, laporkan kepada kasi. Laporkan kepada kalapas. Kalau kalapas ikut bermain, laporkan kepada saya,” katanya.

Yanuar menegaskan, apabila terbukti ada petugas yang terlibat narkoba, tindakan tegas harus dilakukan hingga pemberhentian.

“Tidak ada demosi atau sekadar penurunan pangkat. Kalau terbukti terlibat, harus dipecat,” ujarnya.

Menemukan Cahaya di Balik Jeruji

Di hadapan para warga binaan, Yanuar juga menyampaikan pesan agar mereka tidak kehilangan harapan meskipun saat ini harus menjalani kehidupan di balik jeruji besi.

Menurutnya, setiap manusia memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan. Masa-masa sulit yang sedang dijalani tidak harus menjadi akhir dari perjalanan kehidupan.

Ia mengapresiasi keberadaan pesantren di dalam lapas karena menjadi sarana bagi warga binaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus menemukan makna kehidupan.

“Mungkin saat ini warga binaan merasa belum bisa menerima keadaan. Namun, percayalah, tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang sia-sia ketika Allah menghendaki,” tuturnya.

Wisuda itu pun menjadi lebih dari sekadar penyerahan sertifikat dan songkok. Ada perjalanan panjang yang tersimpan di balik setiap hafalan, ada usaha memperbaiki diri di tengah keterbatasan, dan ada harapan yang kembali tumbuh.

Sebab, jeruji besi memang membatasi ruang gerak seseorang, tetapi tidak seharusnya membatasi keinginan untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik.

Di Masjid At-Taubah hari itu, Alquran menjadi saksi bahwa jalan menuju kebaikan selalu terbuka bagi siapa saja. Bahkan bagi mereka yang sedang menjalani hukuman sekalipun.