PURWOKERTO – Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 mencatat nilai business matching pembiayaan dan perdagangan syariah sebesar Rp3,16 triliun. Ajang ekonomi dan keuangan syariah tersebut juga membukukan penjualan produk makanan halal dan fesyen senilai Rp13,85 miliar.
Capaian itu menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah, termasuk pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri halal, serta pariwisata ramah muslim di Banyumas Raya.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto, melalui keterangan persnya, Selasa (20/10/2026) menyebut turut mendorong pengembangan ekosistem tersebut melalui pemberdayaan UMKM halal, penguatan ekonomi pesantren, digitalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF), serta peningkatan literasi ekonomi dan keuangan syariah.
ISEF ke-13 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Kegiatan ini mengusung tema besar “Kebaikan untuk Semua” dengan tujuan membangun ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif serta berdaya saing global.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti yang membuka kegiatan tersebut pada 14 Oktober 2026. ISEF 2026 menghadirkan lebih dari 100 kegiatan dan melibatkan lebih dari 1.000 pelaku industri halal.
Rangkaian kegiatan mencakup forum bisnis pesantren, penjajakan kemitraan usaha (business matching), serta forum pengembangan industri halal dan keuangan sosial syariah.
Penyelenggara juga meluncurkan tiga program unggulan, yakni Islamic Financial Market Code of Conduct (ICoC), pembaruan Zakat Core Principles, serta program beasiswa internasional yang memanfaatkan dana sosial syariah.
Industri Halal Buka Peluang Pasar Global
Pengembangan ekonomi syariah Indonesia mendapat dukungan dari pertumbuhan rantai nilai halal. Data yang disampaikan dalam materi ISEF 2026 menyebutkan, sektor tersebut tumbuh 5,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2026.
Sementara itu, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam laporan State of the Global Islamic Economy 2025/2026.
Di sektor fesyen muslim, Indonesia berada di peringkat pertama dunia. Posisi ini membuka peluang bagi pelaku usaha dan perajin lokal untuk memperluas pasar produk fesyen muslim, termasuk produk berbasis wastra Nusantara.
Penguatan industri tersebut dilakukan melalui IN2MOTIONFEST 2026 yang berkolaborasi dengan Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW). Kolaborasi ini mendorong peningkatan kualitas produk, penguatan kemitraan dagang, dan perluasan akses pasar bagi desainer serta perajin lokal.
Capaian transaksi ISEF 2026 menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi syariah tidak hanya membutuhkan peningkatan kualitas produk. Pelaku usaha juga memerlukan akses pembiayaan, jaringan perdagangan, dan kemitraan yang mampu mendorong pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
BI Purwokerto Perkuat UMKM Halal dan Pesantren
Sejalan dengan agenda nasional, KPwBI Purwokerto menjalankan berbagai program untuk memperkuat ekonomi dan keuangan syariah di Banyumas Raya.
Kepala perwakilan BI Purwokerto Sswin Gantina mengungkapkan, salah satu fokusnya adalah meningkatkan kapasitas UMKM agar mampu memenuhi kebutuhan pasar produk halal. BI Purwokerto mendorong upaya tersebut melalui pelatihan penyelia halal dan peningkatan pemahaman pelaku usaha mengenai ekosistem industri halal.
Penguatan juga menyasar pesantren sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Program yang dijalankan mencakup pelatihan kewirausahaan, pelaporan keuangan pesantren melalui SIPUSBI, serta pengembangan kompetensi santri di bidang pertanian dan teknologi digital.
Dalam sektor pertanian, BI Purwokerto mendorong kemandirian pesantren melalui pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) untuk budidaya cabai.
Program tersebut melibatkan santri dari lima pesantren di Banyumas Raya. Melalui pelatihan ini, pesantren didorong mengembangkan kegiatan produktif yang berpotensi memperkuat kemandirian ekonomi lembaga.
BI Purwokerto juga memperkuat kapasitas pengurus masjid dalam mengelola dana ZISWAF dan memanfaatkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk mendukung transaksi digital.
“Digitalisasi diharapkan dapat meningkatkan kemudahan transaksi sekaligus memperluas pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan kegiatan ekonomi dan sosial keagamaan, ” ungkapnya.
Literasi Keuangan Syariah Menyasar Masyarakat
Pengembangan ekosistem ekonomi syariah juga dilakukan melalui peningkatan literasi keuangan bagi UMKM, takmir masjid, dan masyarakat umum.
Kegiatan edukasi berlangsung melalui berbagai agenda, termasuk Pasar Ramadan dan Karya Kreatif Serayu (KKS). BI Purwokerto turut menyelenggarakan lokakarya optimalisasi pengelolaan ZISWAF berbasis digital.
Program Piwulang x BERKAH.IN pada SELARAS x Festival Literasi 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai ekonomi dan keuangan syariah.
Selain itu, inisiatif ZAWANOMIC x BERKAH.IN SHARE membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan gagasan inovatif dalam pemanfaatan zakat dan wakaf produktif.
Pendekatan tersebut mendorong dana sosial syariah tidak hanya digunakan untuk membantu kebutuhan jangka pendek, tetapi juga berpotensi mendukung kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
SELARAS Angkat Wastra dan Pariwisata Ramah Muslim
Penguatan ekonomi syariah di Banyumas Raya juga terhubung dengan promosi UMKM, industri kreatif, dan pariwisata ramah muslim.
SELARAS x Festival Literasi 2026 yang berlangsung pada 4–6 September 2026 menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan edukasi ekonomi syariah, promosi produk UMKM, dan pengembangan industri kreatif lokal.
Kegiatan tersebut menghadirkan peragaan busana bertajuk “Kemilau Wastra Serayu”. Agenda ini melibatkan desainer pelajar dan profesional untuk memperkenalkan kekayaan wastra daerah kepada masyarakat.
Selain mempromosikan produk lokal, kegiatan tersebut memuat edukasi mengenai pembiayaan syariah dan pariwisata ramah muslim.
Pengembangan pariwisata ramah muslim menjadi salah satu peluang yang dapat diintegrasikan dengan potensi budaya, kuliner halal, produk kerajinan, dan destinasi wisata di Banyumas Raya.
Meski demikian, pengembangan sektor tersebut membutuhkan dukungan pelaku usaha, pengelola destinasi, dan pemerintah daerah agar layanan serta fasilitas yang tersedia sesuai dengan kebutuhan wisatawan.
Lima UMKM Banyumas Raya Difasilitasi Business Matching
Upaya memperluas akses pasar UMKM juga dilakukan melalui partisipasi pelaku usaha Banyumas Raya dalam Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2026.
Dalam kegiatan tersebut, BI Purwokerto memfasilitasi business matching bagi lima UMKM. Fasilitasi ini bertujuan mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra untuk membuka peluang kerja sama perdagangan maupun pembiayaan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan peningkatan kapasitas UMKM dengan peluang transaksi yang nyata.
Ke depan, penguatan ekonomi syariah di Banyumas Raya memerlukan kesinambungan program, mulai dari peningkatan kualitas produk, pemenuhan standar halal, digitalisasi transaksi, hingga perluasan jaringan pemasaran.
Dengan dukungan tersebut, UMKM, pesantren, dan pelaku industri kreatif daerah diharapkan dapat mengambil bagian lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi syariah nasional.
Pengembangan ekonomi syariah pun tidak berhenti pada peningkatan jumlah kegiatan atau promosi produk. Dampak akhirnya perlu terlihat melalui pertumbuhan usaha, perluasan akses pembiayaan, terbukanya lapangan kerja, dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.