PURWOKERTO — Perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi ikut mengubah cara kerja industri media. Media sosial kini tidak lagi sekadar menjadi saluran distribusi berita, tetapi telah menjadi salah satu sumber utama informasi bagi masyarakat.
Pemimpin Redaksi (Chief Editor) kumparan BISNIS, Edmiraldo Nanda Nopan Siregar, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi jurnalis untuk beradaptasi.
Hal itu disampaikan Edmiraldo dalam kegiatan Capacity Building Media Tahun 2026 dengan tema “Teknik Menyusun Konten Berita Ekonomi yang Akurat dan Komunikatif.”bersama BI Purwokerto pada 22 September 2026 di Lombok NTB.
Menurut dia, perkembangan media sosial membuat pola konsumsi informasi masyarakat mengalami perubahan signifikan.
“Sekarang pertanyaannya adalah berapa banyak yang lebih mengonsumsi informasi dari media sosial, bukan dari media mainstream,” kata Edmiraldo.
Ia mengutip data Reuters Institute yang mencatat bahwa pada 2026 sekitar 30 persen masyarakat di 22 negara menyebut media sosial sebagai sumber utama berita mereka.
Sementara di Indonesia, angkanya disebut mencapai sekitar 48 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara yang masuk dalam riset tersebut.
Bahkan, menurut Edmiraldo, sejumlah riset menunjukkan sekitar 73 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi informasi melalui media sosial. Media sosial yang dimaksud termasuk akun dan kanal yang dikelola oleh perusahaan media massa.
Perubahan tersebut tidak terlepas dari semakin mudahnya masyarakat memproduksi dan menyebarkan informasi.
“Sekarang semua orang bisa menjadi penyampai informasi. Bikin akun mudah, bikin konten mudah, dan potensi viral bisa datang dari konten mana saja,” ujarnya.
Jurnalisme Punya Tantangan Berbeda
Edmiraldo mengatakan kondisi tersebut membuat posisi jurnalisme profesional menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
Jurnalis bekerja berdasarkan aturan yang mengikat, mulai dari Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, hingga prinsip-prinsip verifikasi dan akurasi. Sementara kreator konten pada umumnya tidak bekerja dalam kerangka regulasi jurnalistik yang sama.
Perbedaan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan ketika informasi yang beredar dengan cepat di media sosial tidak melalui proses verifikasi sebagaimana dilakukan dalam kerja jurnalistik.
Di sisi lain, perubahan ekosistem media juga berdampak terhadap keberlangsungan industri pers.
Edmiraldo menyebut data yang dimilikinya menunjukkan sebanyak 373 jurnalis mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2024. Angka tersebut meningkat menjadi 549 jurnalis pada 2025.
“Ini yang terdata. Yang tidak terdata mungkin lebih banyak lagi. Untuk 2026 kita belum ada datanya, bisa jadi lebih tinggi lagi,” katanya.
Meski demikian, Edmiraldo menilai ruang bagi jurnalis untuk berkembang masih terbuka. Kuncinya adalah kemampuan beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
Reporter Tak Lagi Hanya Dituntut Bisa Menulis
Perubahan tersebut juga terjadi dalam pola kerja newsroom.
Edmiraldo menceritakan perubahan yang dilakukan kumparan dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, pekerjaan di lapangan relatif terbagi berdasarkan keahlian.
Reporter bertugas melakukan liputan, wawancara, kemudian menulis berita. Tim video mengambil gambar dan mengeditnya. Sementara fotografer bertugas menghasilkan foto untuk kebutuhan pemberitaan.
Namun pola kerja seperti itu dinilai semakin sulit dipertahankan ketika media harus bersaing di berbagai platform digital.
“Sekarang cara kerja seperti itu sudah agak sulit bersaing di lapangan,” ujarnya.
Karena itu, kumparan melakukan perubahan pola kerja dengan meningkatkan kemampuan reporter agar tidak hanya menguasai penulisan berita, tetapi juga mampu memproduksi konten untuk media sosial.
Para reporter diberikan pelatihan untuk memahami karakteristik media sosial serta memproduksi berbagai format konten.
Reporter yang sebelumnya hanya terbiasa menulis berita, misalnya, kini dituntut mampu membuat Reels, Instagram carousel, video pendek, dan format konten digital lainnya.
Satu Liputan, Banyak Produk Konten
Menurut Edmiraldo, perubahan paling terasa adalah bagaimana satu kegiatan jurnalistik dapat menghasilkan berbagai produk konten.
Reporter kini dapat merekam wawancara menggunakan telepon genggam. Rekaman tersebut kemudian dapat diolah menjadi video, ditranskripsikan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), lalu dikembangkan menjadi artikel.
“Dalam sehari, satu kali liputan sudah bisa menghasilkan beberapa output konten,” jelasnya.
Output tersebut dapat berupa konten video, carousel, hingga artikel. Masing-masing memiliki karakteristik dan target audiens berbeda.
Konten video dapat dibuat lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan informasi di media sosial. Sementara artikel dapat dikembangkan lebih mendalam dengan data dan konteks yang lebih lengkap.
Dengan pola tersebut, reporter tidak hanya bekerja sebagai penulis, tetapi menjadi bagian dari proses produksi konten secara lebih menyeluruh.
Multitalenta dan Kreativitas Jadi Kunci
Edmiraldo menegaskan, kemampuan multitalenta dan kreativitas menjadi dua hal penting bagi jurnalis masa kini.
Reporter tidak cukup hanya memahami teknik wawancara dan penulisan berita. Mereka juga perlu memahami bagaimana sebuah informasi dikemas agar sesuai dengan karakter masing-masing platform.
Namun, kemampuan tersebut tetap harus berjalan bersama prinsip jurnalistik.
Kecepatan produksi konten tidak boleh mengorbankan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan konteks informasi.
Menurut Edmiraldo, teknologi seperti AI juga dapat membantu mempercepat pekerjaan jurnalis, terutama dalam proses transkripsi dan pengolahan bahan liputan. Namun hasilnya tetap membutuhkan pemeriksaan dan penyuntingan manusia.
“Artikel dibuat untuk sesuatu yang sifatnya lebih panjang, lebih dalam, dan mungkin datanya lebih banyak,” katanya.
Karena itu, masa depan jurnalisme bukan semata-mata soal mempertahankan artikel sebagai satu-satunya produk berita. Tantangannya adalah bagaimana jurnalis mampu mengubah satu proses liputan menjadi berbagai bentuk informasi tanpa kehilangan standar jurnalistik.
Di tengah derasnya arus informasi media sosial, kemampuan tersebut menjadi bagian dari upaya media profesional untuk tetap relevan sekaligus menjaga kualitas informasi yang diterima masyarakat.