Kulik Data Itu Menarik, Begini Strategi Media Mengemas Berita Ekonomi di Era Digital

PURWOKERTO – Data ekonomi kerap dianggap sebagai materi berita yang serius dan membosankan. Deretan angka pertumbuhan ekonomi, anggaran, kerugian, hingga transaksi sering kali membuat pembaca melewati sebuah berita begitu saja.

Namun, bagi Pemimpin Redaksi (Chief Editor) kumparan BISNIS Edmiraldo Nanda Nopan Siregar, persoalannya bukan terletak pada data yang membosankan, melainkan bagaimana data tersebut dikemas dan diceritakan.

Hal itu disampaikan Edmiraldo dalam Capacity Building Media Tahun 2026 bertema “Teknik Menyusun Konten Berita Ekonomi yang Akurat dan Komunikatif.”Brrsama Bank Indonesia Purwokerto, di Lombok pada pertengahan September 2026.

Menurutnya, data sebenarnya menyimpan banyak cerita. Tantangan jurnalis adalah menemukan angka yang paling relevan dengan momentum dan kepentingan pembaca.

“Data itu sudah ada, sudah tersebar. Tinggal kita melihat poin mana yang mau kita angkat,” ujarnya.

Edmiraldo mencontohkan pemberitaan mengenai dampak abu vulkanik terhadap penerbangan. Angka kerugian harian maskapai dapat menjadi pintu masuk untuk menarik perhatian pembaca.

Ketika sebuah angka besar ditempatkan sebagai judul atau headline, menurutnya, pembaca akan lebih mudah tertarik untuk mengetahui konteks di balik angka tersebut.

“Angka gede, mata orang langsung melihat. Baru di bawahnya kita jelaskan konteksnya,” katanya.

Data Harus Dibahasakan dengan Menarik

Menurut Edmiraldo, persoalan utama dalam mengolah data bukan sekadar mencari angka, tetapi menerjemahkannya menjadi cerita yang mudah dipahami.

Data mengenai APBD, pajak daerah, pertumbuhan ekonomi maupun kebijakan pemerintah sebenarnya tersedia dalam berbagai dokumen publik.

Namun, data tersebut baru memiliki daya tarik ketika jurnalis mampu menemukan relevansinya dengan isu yang sedang diperbincangkan masyarakat.

Ia mencontohkan pemberitaan mengenai polemik Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Pati. Ketika isu tersebut tengah menjadi perhatian publik, data APBD Pati dapat diolah menjadi konten yang menjawab rasa ingin tahu masyarakat.

“Datanya tersedia. Karena isunya sedang ramai, orang juga tertarik. Tinggal bagaimana kita mengambil poin yang paling penting dan menjelaskannya,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, data tidak lagi sekadar menjadi angka. Data dapat menjadi alat untuk menjelaskan sebuah persoalan secara lebih konkret.

Reporter Tidak Sekadar Mengejar Jumlah Artikel

Perubahan perilaku audiens di era digital juga membuat pola kerja newsroom ikut berubah.

Edmiraldo mengatakan, selama ini reporter tidak selalu dituntut menghasilkan jumlah artikel tertentu dalam sehari. Namun, perkembangan media digital membuat kebutuhan produksi konten semakin dinamis.

Menurutnya, ketika reporter tidak memiliki target yang jelas, produktivitas bisa berbeda-beda. Ada reporter yang mampu menghasilkan tiga hingga empat konten, tetapi ada pula yang hanya membuat satu atau dua artikel.

Karena itu, menurut dia, newsroom mulai mempertimbangkan pola target produksi yang lebih terukur, termasuk mendorong reporter menghasilkan konten media sosial.

“Setidaknya sehari reporter bisa membuat dua konten media sosial,” katanya.

Namun, target tersebut bukan semata-mata untuk memperbanyak produksi. Justru sebaliknya, jurnalis dituntut mampu menentukan prioritas dan memilih sudut pandang yang paling kuat.

Dalam satu peristiwa, misalnya, terdapat beberapa kemungkinan angle. Tidak semua harus dibuat menjadi artikel terpisah.

“Angle satu, angle dua, kalau bisa digabung. Angle tiga kalau tidak penting ya dicoret,” ujarnya.

SEO Bukan Lagi Satu-satunya Orientasi

Perubahan algoritma dan kebiasaan konsumsi informasi juga membuat strategi media tidak lagi hanya bertumpu pada mesin pencari.

Jika sebelumnya media sangat bergantung pada SEO dan produksi artikel dalam jumlah besar, kini perhatian juga bergeser pada bagaimana sebuah konten dikonsumsi melalui media sosial.

Reporter dituntut mampu menghasilkan konten yang tidak hanya dapat dibaca, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi video atau format visual lainnya.

Menurut Edmiraldo, reporter saat ini secara otomatis mulai terbiasa merekam video menggunakan telepon seluler ketika berada di lapangan.

Substansi utama dari peristiwa tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai format konten.

“Kalau ada yang menarik, bisa ditranskrip dan dibuat konten. Kalau tidak, ya tidak perlu dipaksakan,” katanya.

Jangan Terjebak Angka Viewers

Edmiraldo juga mengingatkan bahwa tingginya jumlah penonton sebuah video belum otomatis menunjukkan bahwa konten tersebut berhasil.

Dalam ekosistem media sosial, seseorang dapat dihitung sebagai viewer hanya karena video muncul dan diputar ketika pengguna menggulir halaman.

Karena itu, menurutnya, media perlu melihat indikator yang lebih dalam, salah satunya retention rate atau seberapa lama audiens bertahan menonton sebuah video.

“Jangan bangga ketika mendapatkan viewers sampai ratusan ribu. Yang perlu dianalisis adalah retention-nya, berapa lama orang bertahan dalam satu video,” ujarnya.

Hal tersebut menjadi tantangan baru bagi jurnalis dan editor video. Konten tidak cukup hanya dibuat menarik pada beberapa detik pertama, tetapi harus mampu mempertahankan perhatian audiens hingga substansi utama tersampaikan.

Satu Konten Tidak Selalu Cocok untuk Semua Platform

Strategi distribusi konten juga tidak bisa disamaratakan di seluruh platform media sosial.

Edmiraldo mengatakan, karakter audiens TikTok, Instagram, Facebook maupun platform lainnya memiliki perbedaan.

Karena itu, dalam jangka panjang, konten yang dibuat untuk satu platform belum tentu harus sama dengan konten yang dipublikasikan di platform lainnya.

“Kontennya tidak sama. Di TikTok beda, di Instagram beda,” katanya.

Meski demikian, saat ini proses mirroring masih dilakukan untuk sejumlah konten karena pertimbangan efisiensi produksi.

Menariknya, pengalaman kumparan BISNIS menunjukkan bahwa performa sebuah konten dapat berbeda drastis antarplatform.

Salah satu contohnya adalah konten infografis. Konten yang kurang mendapatkan respons di Instagram justru dapat memperoleh respons lebih baik di TikTok.

Hal itu menunjukkan bahwa karakter platform ikut menentukan bagaimana sebuah pesan dikonsumsi.

“Bisa jadi ke depan konten yang ada di TikTok belum tentu ada di Instagram, begitu juga sebaliknya. Platform punya karakteristik masing-masing,” ujarnya.

Tim Video Tetap Punya Peran Penting

Perubahan pola kerja newsroom juga memunculkan pertanyaan mengenai masa depan pembagian tugas antara reporter, editor, dan tim video.

Edmiraldo melihat kecenderungan bahwa satu orang jurnalis akan semakin dituntut mampu mengerjakan berbagai format konten.

Namun, hal tersebut bukan berarti tim video kehilangan peran.

Di kumparan, menurutnya, terdapat dua pola produksi video. Pertama, video sederhana yang dapat diproduksi langsung oleh reporter menggunakan telepon seluler dan kemudian diperiksa editor.

Kedua, produksi video yang membutuhkan keterlibatan tim khusus dengan standar visual dan penyuntingan lebih tinggi.

Untuk jenis kedua, proses produksinya membutuhkan waktu lebih panjang.

“Kalau yang sederhana, satu orang bisa mengerjakan semuanya. Tapi untuk video yang lebih serius, tim video tetap punya peran penting,” katanya.

Ia mencontohkan produksi konten mengenai warung nasi gratis di Depok serta kisah guru di sekolah luar biasa (SLB). Konten semacam itu membutuhkan pengambilan gambar, penyuntingan, dan pengemasan visual yang lebih serius.

Produksinya pun dapat membutuhkan waktu satu hingga dua hari.

Sementara itu, untuk straight news, pola produksi semacam tersebut dinilai kurang efisien karena kebutuhan kecepatan informasi jauh lebih tinggi.

Teknologi Mengubah Cara Kerja Newsroom

Kondisi tersebut pada akhirnya membuat teknologi menjadi bagian penting dalam transformasi newsroom.

Edmiraldo mengungkapkan, tim video kumparan saat ini berjumlah sekitar 40 orang, mulai dari head of video, produser, videografer hingga editor.

Namun, tantangannya bukan hanya soal jumlah sumber daya manusia.

Perkembangan aplikasi penyuntingan video yang semakin sederhana dan cepat juga memaksa industri media menyesuaikan diri.

“Sekarang orang sudah banyak yang mengedit pakai aplikasi yang lebih cepat. Teknologi memang membuat kita harus menyesuaikan,” ujarnya.

Menurut Edmiraldo, kemampuan jurnalis ke depan tidak cukup hanya menulis. Jurnalis perlu memahami data, visual, video, karakter audiens, hingga cara kerja masing-masing platform.

Pada titik inilah data dan kreativitas bertemu.

Data memberikan dasar faktual, sementara kreativitas menentukan bagaimana fakta tersebut dikemas agar relevan dan mudah dipahami masyarakat.

Kulik data itu menarik. Kuncinya bukan membuat angka menjadi rumit, tetapi menemukan cerita di balik angka dan menyampaikannya dengan bahasa yang dekat dengan pembaca.