Unsoed Latih Pembudidaya Kepiting Bakau di Kebumen, Fokus Efisiensi Pakan dan Peningkatan Pendapatan

KEBUMEN, suarabanyumas.co.id – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar pelatihan formulasi dan manajemen pakan bagi pembudidaya kepiting bakau di Desa Ayah, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Kegiatan yang berlangsung di kawasan KEE Muara Kali Ijo tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan pembudidaya sekaligus mendorong efisiensi produksi dan pendapatan masyarakat.

Kepiting bakau (Scylla spp.) merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui budidaya. Namun, keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan kualitas benih dan kondisi lingkungan, tetapi juga kemampuan pembudidaya dalam mengelola pakan secara tepat.

Melalui pelatihan tersebut, masyarakat mendapatkan pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi kepiting bakau, pemilihan bahan baku, formulasi pakan, teknik pemberian pakan, pengaturan jumlah dan frekuensi pemberian, hingga evaluasi efisiensi penggunaan pakan. Materi tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi dilanjutkan dengan praktik formulasi pakan berdasarkan kebutuhan nutrisi dan ketersediaan bahan baku yang dapat diperoleh di sekitar wilayah masyarakat.

Ketua tim pelaksana, Hendrayana, mengatakan peningkatan pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan langsung oleh pembudidaya dalam kegiatan usaha mereka. Manajemen pakan yang lebih baik dinilai dapat membantu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi dan hasil budidaya.

“Pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat. Dengan manajemen pakan yang lebih baik, pembudidaya diharapkan mampu menekan biaya produksi, meningkatkan efisiensi budidaya, serta memperoleh hasil yang lebih optimal,” ujar Hendrayana.

Selain aspek teknis, tim PKM Unsoed juga mendorong pembudidaya melakukan pencatatan dan evaluasi secara rutin. Pembudidaya diarahkan mencatat jumlah pakan yang diberikan, pertumbuhan kepiting, tingkat kelangsungan hidup, hingga biaya produksi sehingga penggunaan pakan dan hasil budidaya dapat dievaluasi secara lebih terukur.

Ketua KTH Pansela, Kambang Trihadi, menilai pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat, terutama dalam mengatur penggunaan pakan. “Selama ini pakan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam biaya budidaya. Melalui pelatihan ini, kami mendapatkan pemahaman bahwa pemberian pakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan kepiting dan kondisi budidaya. Pengetahuan ini diharapkan dapat membantu kami mengurangi pemborosan pakan dan meningkatkan hasil usaha,” ungkapnya.

Kegiatan PKM tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat melalui pendekatan berbasis riset. Program ini mendapat pendanaan BLU Unsoed melalui skema PKM Berbasis Riset. Melalui pendampingan tersebut, pemberdayaan pembudidaya kepiting bakau di Desa Ayah diharapkan berkembang menjadi model pengelolaan usaha perikanan berbasis potensi lokal yang mengedepankan keterampilan, efisiensi produksi, keberlanjutan, dan peningkatan pendapatan masyarakat.