Jualan Jamu Sejak Tahun 1975, Perempuan 69 Tahun Ini Sukses Hantarkan anaknya jadi PNS

Punya Ratusan Pelanggan dari Jurnalis hingga Advokat

PURWOKERTO — Langkahnya pelan menyusuri jalan-jalan perkampungan sambil membawa botol-botol jamu dalam bakul sederhana. Wajahnya mulai dipenuhi keriput usia, namun senyumnya tetap hangat menyapa setiap pelanggan yang memanggil, “Bu Jamu…”

Di tengah derasnya arus modernisasi, perempuan berusia 69 tahun asal Solo itu tetap bertahan menjaga tradisi yang sudah dijalaninya sejak remaja. Sejak tahun 1975, ia mengabdikan hidupnya untuk meracik dan menjual jamu keliling, pekerjaan yang diwariskan langsung dari sang ibu.

“Tahun 1975 sudah jualan jamu, saat itu usia masoh 18 tahun, ” tuturnya lirih namun penuh semangat saat ditemui, Selasa (19/5/2026).

Baginya, jamu bukan sekadar minuman tradisional. Dari racikan kunyit, asem, hingga temu lawak, tersimpan perjuangan panjang seorang ibu dalam menjaga dapur tetap mengepul dan keluarga tetap bertahan hidup.

Setiap hari, rutinitasnya dimulai ketika kebanyakan orang masih tertidur lelap. Tepat pukul 03.00 dini hari, ia sudah berada di dapur menyiapkan rebusan rempah-rempah.

“Pukul 3 pagi saya sudah buat jamu,” katanya.

Dengan tangan yang mulai renta, ia tetap telaten meracik bahan demi bahan. Setelah semua siap, ia mulai berjualan sejak pukul 06.00 pagi hingga siang hari, berkeliling dari rumah ke rumah di wilayah Solo hingga Semarang.

Tak ada kemasan modern atau promosi media sosial. Jamu yang dijualnya tetap sederhana, dibungkus apa adanya seperti puluhan tahun lalu. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat pelanggan tetap setia.

“Kunyit asem sama asem paling laris,” ujarnya sambil tersenyum.

Harga jualnya pun sangat terjangkau, sekitar Rp400 hingga Rp500 per bungkus. Meski murah, jamu buatannya memiliki rasa khas yang membuat banyak pelanggan selalu menunggu kedatangannya setiap pagi.

Meski anak-anaknya kini telah sukses dengan profesi masing-masing—ada yang menjadi guru, pegawai negeri hingga bidan—perempuan itu tetap memilih berjualan jamu. Baginya, pekerjaan tersebut bukan sekadar mencari uang, melainkan bagian dari hidup yang tak bisa ditinggalkan.

Ia mengaku pernah melewati masa-masa sulit dalam hidup. Namun dari jamu itulah ia belajar bertahan.

“Nggak ada apa-apa, kurang makan,” ucapnya pelan mengenang masa lalu.

Kini, di usia senjanya, ia masih terus berjalan membawa harapan dari satu rumah ke rumah lainnya. Suara sapanya mungkin sederhana, tetapi mengandung makna besar tentang kerja keras, ketulusan, dan perjuangan hidup.

Di saat banyak tradisi mulai hilang ditelan zaman, perempuan penjual jamu ini tetap berdiri teguh menjaga warisan leluhur—menjual kesehatan, kesegaran, sekaligus ketulusan dalam setiap tegukan jamu yang ia racik sendiri.

Salah satu pelanggan setianya adalah advokat senior Purwokerto, Djoko Susanto SH. Bersama keluarganya, Djoko mengaku sudah lama menikmati racikan jamu tradisional tersebut.

Tak hanya keluarga, sejumlah tamu dan klien yang datang ke kantornya pun kerap disuguhi jamu buatan “Bu Jamu”. Menurutnya, rasa alami dan kesegaran jamu tradisional memberikan sensasi berbeda dibanding minuman modern.

Di kalangan jurnalis lokal, sosok penjual jamu itu juga cukup dikenal. Coki, salah satu wartawan IDN Times, mengaku hampir selalu membeli jamu ketika bertemu sang ibu di pagi hari.

Menurutnya, jamu yang dijual dengan senyum tulus terasa jauh lebih nikmat.

“Biasanya saya beli kunyit asem atau temu lawak, badan letih langsung hilang,” ungkapnya.

Di tengah padatnya aktivitas jurnalistik dan tekanan pekerjaan di lapangan, segelas jamu tradisional menjadi penyegar sekaligus penambah stamina.

“Minum jamu itu seperti refresh buat tubuh,” tambahnya.